Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Punggungmu yang Sulit Kukejar

Terkadang aku bertanya, mengapa harus selalu diriku yang ada di belakang melihat punggungmu yang lebar.

tak-bisa
Ilustrasi yang tak bisa tergapai. (Foto: Getty Images lewat Canva)

the Monkey Times – Teruntuk kau, yang akan selalu berada jauh di depanku. Terkadang aku bertanya, mengapa harus selalu diriku yang ada di belakang melihat punggungmu yang lebar. Tidak bermaksud mengeluh, namun kata itu tiba tiba muncul saat aku tahu bahwa jarak di antara aku dan kau akan selalu di luar jangkauanku.

Aku tahu bahwa ini bukan hal yang layak untuk ditanyakan, karena aku tahu tentang batasan. Namun pernahkah kau berpikir bahwa dunia ini satu tapi perjalanan setiap orang selalu berbeda?

Ide itu terbesit begitu saja saat kulihat dirimu selalu lebih baik dari aku. Padahal kita hidup di dunia yang sama dengan orang yang tidak jauh berbeda. Bahkan, ingatkah kau tentang acara ulang tahun yang selalu kita rayakan dan habiskan bersama.

Meskipun hal tersebut dilakukan karena tanggal ulang tahun kita hanya terpaut 10 hari saja, namun waktu itu terasa begitu berharga meski hanya berbekal kata selamat. 

Hampir sekitar 10 tahun yang lalu kau berdiri tepat di sampingku, meniup lilin dan menyampaikan permohonan dengan tulus. Saat itu, aku tidak pernah berpikir akan jarak dan keinginan untuk melampauimu.

Tapi semua itu karena aku tahu bahwa posisiku pun masih belum terlampau jauh. Bahkan, hampir semua orang memperlakukan kita seperti orang yang sama terlepas dari perbedaan umur yang kita miliki. 

Seiring dengan berjalannya waktu, langkahmu semakin lebar. Bahkan sesekali langkah itu berubah menjadi larian kecil yang semakin memperjauh posisimu.

Terkadang aku heran, bagaimana bisa kau berjalan dan berlari dengan cepat, seakan tidak pernah ada halangan dan rintangan yang menjanggal, seakan kau tidak takut jatuh tersungkur dan merasakan sakit? Aku hanya bisa terdiam melihat semua yang kau lakukan. 

Namun, tidak bisa dipungkiri jika semua kerja kerasmu itu seakan terbayar dengan harga yang sangat mahal. Prestasimu seakan tidak pernah habis.

Sosialmu seakan tidak pernah ada batasan. Semua adalah teman, semua adalah kerabat. Dan karena itulah, orang di sekitar kita mulai menunjukkan perubahan sikap. Ya, kau adalah seseorang yang mampu membuktikan diri dan mendapat sebuah tempat yang spesial di hati mereka. 

Sayangnya tidak dengan diriku. Sungguh aku berharap diriku bisa berbicara langsung denganmu dan mengatakan semua hal tersebut.

Atau setidaknya kau mampu membaca surat ini. Namun, apa kehendakku jika dunia ini berkata lain? Hidupmu dan hidupku bagaikan sebuah perlombaan lari relay di sebuah lintasan yang tak terlihat garis akhirnya. Kau adalah seorang pelari pertama yang sedang membawa relay baton. 

Kau terjang semua halangan dan kau buktikan bahwa baton itu tidak akan pernah terlepas. Sedangkan aku adalah pemain cadangan yang akan selalu menunggu di garis awal.

Apa yang harus aku lakukan? Kau selalu berlari di depanku dan jarak tersebut semakin jauh. Semua orang selalu bertepuk tangan dan memberi sorakan keras untukmu. Bahkan saat dirimu terjatuh dan bangkit untuk melanjutkan langkah. 

Semua orang bahagia, semuanya mendukung meski langkahmu semakin tertatih tatih. Bahkan mereka tetap tertawa saat melihatmu terjatuh.

Terkadang aku masih heran bagaimana aku akan membantu, jika kau terus berlari dan tidak membiarkan aku menggapaimu. Hingga suatu malam, kau lempar baton itu padaku dan kau berhenti berlari. Dari situ aku tahu kalau kau waktumu sudah habis. 

Tanggung jawab baton tersebut kau berikan padaku yang tak tahu menahu akan apa yang harus aku lakukan. Ingin aku bertanya padamu, apa yang harus aku lakukan?

Haruskah aku berlari atau berjalan? Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa setegar dirimu? Tetapi sayangnya, pertanyaan itu tidak pernah kau dengar. Jawaban yang kuharap pun tidak akan pernah kau jawab. Benar, langkahmu memang terhenti disini. 

Badanmu yang sudah terbujur kaku menjadi tanda bahwa kini saatnya aku ambil peranmu sebagai pelari utama. Sungguh sedih rasanya, namun aku tahu bahwa apapun yang aku lakukan tidak akan pernah bisa sebaik atau setidaknya setara denganmu.

Sejak itu aku tahu bahwa meskipun dirimu sudah tepat di depanku, tanganku takkan pernah bisa meraihmu. Bagaimana pun posisimu akan selalu ada di depanku. 

Itulah peranmu di keluarga ini, seorang kakak yang tidak akan pernah tergantikan. Seseorang yang akan selalu menjadi sanjunganku meskipun kau sudah tidak akan pernah berada di depanku.

Meski aku tahu surat ini sungguh terlambat, namun ingin kusampaikan terima kasih dan maaf karena aku tidak pernah bisa berada tepat di belakangmu, mendorong dan menyemangatimu.

Aku tahu Tuhan mencintaimu, karena itu langkahmu yang tertatih itu dihentikan sebelum kau terjerembab terlalu jauh. Semua orang tahu bahwa perlombaan ini sudah berakhir untukmu, karena itulah aku yang akan melanjutkan.

Satu hal lagi yang ingin aku sampaikan adalah serahkan semua padaku meski aku tahu bahwa ini tidak akan mudah. Beristirahatlah, aku tidak akan menyerah. 

Terima kasih kakakku yang tidak akan pernah bisa aku gapai.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.