Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Mungkinkah kamu jadi Teman Hidupku di Masa Depan?

Aku pastikan bahwa mimpiku ada bersamamu. Namun apakah mimpiku itu bisa jadi kenyataan? Waktu yang akan menjawabnya.

ilustrasi kita menikah dan masa depan kita

Pernahkah engkau mengira bahwa kita akan bersama untuk mengarungi badai bersama dalam sebuah kapal yang disebut pernikahan? Kapal ini mengantarkan kita untuk jadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Tidak mudah memang dan aku harap kamu pun akan terus sabar serta bersedia menuntunku untuk jadi pendamping yang sempurna dalam versiku. Tidak banyak yang ingin kusampaikan, karena mendapat kamu adalah anugerah terindah.

Apa yang selama ini kamu panjatkan untuk sesosok perempuan yang akhirnya bersanding di pelaminan bersamamu? Apakah semuanya ada pada diriku atau justru jauh dari harapanmu yang tinggi?

Seakan tak ingin mengecewakan, aku berjanji akan terus belajar dan berusaha jadi yang terbaik hingga kau tak pernah menyesal memilihku. Satu hal yang harus kamu tahu, aku wanita jauh dari kata sempurna apalagi solehah dalam segala perilakuku. 

Tak bisa kupungkiri bahwa aku pun banyak dosa dan salah di masa silam, hingga tak kuasa jika harus kubeberkan satu per satu. Banyak yang ingin kulepas hingga tak ada lagi rahasia antara kita, tetapi ku takut kamu justru berubah dan menjauh.

Hingga saat ini aku masih belum percaya bila kamu bersedia menerima segala kurang dan lebihku. Aku berharap kamu jadi pelabuhan terakhir dimana dermaganya akan kuat menopang kapalku yang bersandar.

Laki laki pertama dan terakhir yang berani menghadap kedua orang tuaku, kuharap itu kamu. Pria pertama dan terakhir yang bersedia menggandeng tanganku dalam ikatan sah serta halal.

Kamu yang kuharap membaca surat ini kelak tidak akan menyesal telah bersama seorang gadis yang penuh masa kelam. Mungkin sebagian telah diketahui secara kasat mata, tetapi lainnya kupastikan akan segera kubuka di depanmu meski harus berurai air mata.

Jadi pendampingmu terasa muluk jika kubayangkan sejak bertahun tahun sebelumnya. Kamu yang kuharap sempurna dalam versimu dan sabar dalam menghadapiku.

Akan tetapi, Tuhan telah menghadirkan kamu di saat yang tepat tanpa cela sedikitpun meski tahu aku belum pantas menerimanya.

Seakan satu paket lengkap, kamu sekarang duduk di depanku sambil membaca surat ini berarti aku pun telah siap menceritakan segalanya.

Teman hidupku, kamu yang selalu aku semogakan di setiap malam dengan pinta agar diberi orang yang tepat di waktu yang tepat pula. Saat ini aku telah siap menempuh hidup dan lembaran baru bersamamu.

Mungkin akan terasa klise, saat kukatakan bahwa aku tidak bisa mengharapkan lebih daripada yang saat ini kupunya. Jika sebelumnya aku penuh keraguan, maka ampunilah aku yang tak memiliki kekuatan untuk memilihmu dengan mantab.

Perlahan aku akan belajar mengimbangimu yang terasa kian sempurna di mataku. Aku telah berhenti mencari dan kuharap kamu pun melakukan hal yang sama.

Wanita di luar sana memang sangat banyak, bahkan lebih dariku pun bisa kau dapatkan. Akan tetapi, saat aku telah mendepak lelaki lain bukankah seharusnya kamu juga melakukannya? Satu harapan, setialah padaku apapun yang terjadi di kemudian hari apakah terlalu sulit dilakukan?

Kuharap kamu menghargai persyaratan itu dengan tidak ada wanita lain yang hendak kau masukkan dalam hubungan ini. Kamu pun akan menerima hal yang sama dariku, karena kau tau aku mampu melakukan lebih dari apa yang kau lakukan.

Bekerja dengan giat juga jadi salah satu keahlianku sejak gadis, meski terkadang malas mendera. Kamu telah jadi tulang punggung dan tugasmu tentu menafkahiku dengan baik seperti ayahku.

Mengingat hari pernikahan kita, tak terasa air mataku meleleh. Kamu yang menjabat tangan ayah dengan mantab mengucap akad di depan saksi dan para kerabat.

Efeknya, ternyata begitu dahsyat karena tanggung jawab seorang ayah telah berganti ke pundakmu. Prosesi sakral itu cukup membuatku terharu atas segala perjuangan yang telah kau lakukan hingga hari tersebut berjalan lancar tanpa kurang suatu apa.

Kamu yang sebelumnya berusaha meyakinkan kedua orang tua dengan kesungguhanmu. Tidak pernah kau janjikan hidup mewah memang, tetapi seorang pria yang sungguh sungguh telah berani menghadap jadi nilai penting buatku.

Kamu tidak pernah gentar meski ku katakan aku belum siap menikah dan tentu tidak kenal menyerah. Hingga kau taklukkan aku dan seluruh keluarga agar pernikahan ini terlaksana di hari yang telah ditentukan sebelumnya.

Masih teringat jelas segala keindahan kata yang kau rangkai di suatu malam untuk meminta aku jadi teman hidupmu. Kuingat jelas pula segala perdebatan menjelang hari sakral yang kuharap sekali seumur hidup.

Aku yang sebelumnya tidak pernah berani dengan komitmen pun berubah pandangan dan memilihmu dengan yakin. Karena kamu yang saat ini duduk di depanku pun meyakinkan aku dengan rajin.

Satu hal yang harus kamu tahu, aku bukan Aisyah ataupun Fatimah yang dikenal sebagai wanita solehah kesayangan Rasul. Aku hanya aku dengan segala kekurangan dan kelebihan yang diwariskan sejak lahir. 

Tidak ada yang kututupi lagi karena kamu berhak tahu segalanya secara transparan. Akan tetapi, kita dapat melangkah bersama untuk mengarungi badai yang kian besar untuk sampai di tujuan akhir yang indah.

Terima kasih telah berjumpa lebih cepat.

Rekomendasi Artikel

Otomotif

Volvo memperkenalkan sedan S60 generasi ketiga, yang menantang keberadaan BMW Seri 3 dan Mercedes Benz S-Class.

Sepakbola Inggris

Liverpool mengalami kesialan kala bertandang ke markas Brighton, yang berhasil menahan imbang anak asuhan Jurgen Klopp dengan skor 1-1.

Surat

Surat ini kutujukan untuk pujaan hati. Aku memujamu setiap saat. Sampai-sampai semuanya terasa begitu indah.

Surat

Surat ini kutujukan untuk sosok istimewa. Ayah yang kuingat sebagai seorang sosok pekerja keras yang rela berkorban untuk keluarga.