Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Kuharap surat ini tak Sampai padamu

Kamu yang kemarin pernah ada dan kini justru hilang entah karena apa. Tak pernah ada rasa atau terlintas pikiran kita akan kembali asing satu sama lain.

memadu kasih dengan seseorang

Kamu yang kemarin pernah ada dan kini justru hilang entah karena apa. Tak pernah ada rasa atau terlintas pikiran kita akan kembali asing satu sama lain.

Belum ada pengganti yang sama dan kurasa tak akan pernah ada. Bahkan bila kucari hingga ke belahan dunia yang lain.

Tapi, satu yang pasti kamu telah pergi dan tidak akan kembali untuk kedua kalinya setelah sederet memori yang diukir bersama.

Sebelumnya, kita bertemu tanpa rencana ataupun ada niatan untuk serius. Melalui sosial media dan dunia terasa sempit saat kamu teman kenalanku di kampus.

Kulalui hari demi hari terakhir perkuliahan dengan hadirmu yang terasa bagai air di tengah dahaganya hidup.

Tak bisa dipungkiri kamu memang baru, tetapi terasa seperti pelampiasan dari hubungan yang lama. Jahat memang, tapi itulah perasaanku yang sebenarnya.

Tanpa emosi dan perasaan ingin mempertahankan, kulepas kamu begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kutahu pasti bahwa aku merasa bosan dengan rutinitas yang tetap dan kamu yang semakin posesif setiap harinya.

Kutahu itu adalah penyesalan terbesar yang harus kuakui hingga hari ini karena rasa sakit membuatmu jadi orang yang tak lagi sama. Waktu bergulir cukup lama dan kita telah dengan orang lain yang mungkin lebih baik.

Nyatanya, semesta memberikan takdir yang berbeda karena kembali dipertemukan dalam keadaan yang tidak baik. Membawa luka di hati masing masing dan berusaha untuk saling menyembuhkan. Kembali terbiasa dan kita pun sepakat menjalin hubungan baru tanpa kembali mengungkit kisah lama yang seharusnya telah terkubur dalam.

Aku tidak tahu apa yang kamu rasa, tapi yang pasti aku harap ini adalah pencarian terakhir hingga nanti.

Selalu, manusia hanya bisa berencana dan Tuhan sebagai penulis skenario terbaik. Kamu yang selalu aku semogakan, tidak pernah terlintas untuk berpisah atau sekadar diduakan.

Sepertinya, takdir berkata lain karena kamu memiliki orang lain dan berusaha berbohong di hadapanku. Setelah sebelumnya, aku selalu diam saja meskipun kamu berhubungan dengan wanita.

Sepertinya aku tidak bisa tinggal diam untuk kali ini karena hati dan masa depan yang dipertaruhkan.

Kutahu, bahwa setiap manusia tidak memiliki kuasa apapun atas hati insan lainnya. Akan tetapi, bila kamu telah enggan katakan saat ini jangan menyakiti lebih dan lebih.

Bila dikatakan sebagai karma atas sikapku yang dulu, rasanya aku telah mendapat balasan beserta bunganya.

Bukankah sudah impas? Akan sejauh apa kamu berlari dan menarikku tanpa tahu bahwa aku sudah lelah dan tak punya lagi tenaga, meskipun hanya untuk berjalan?

Kemarin, terasa petir di siang hari karena wanita lain mengirimkan pesan singkat padaku. Dia sedang bersamamu selama setengah hari setelah kau katakan bahwa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Tremor pasti, bingung iya, sedih? Kurasa emosi tersebut sudah tidak lagi kurasakan, mungkin karena telah terlalu sering bagiku. Kamu yang tampak baik baik saja tanpa ada rasa bersalah ataupun mungkin sekadar menutupinya dariku.

Kukatakan dengan jelas bahwa aku akan mundur bila ada wanita lain yang sedang kamu kejar. Kamu tetap bergeming dan seolah tidak ada hal yang harusnya ku tahu kala itu. Ironisnya, tidak ada penjelasan lebih saat aku mengatakan bahwa akan mundur.

Kamu hanya bergeming dan meminta waktu berpikir sejenak. Kabar pun datang darimu bahwa kamu memilihku, padahal kuharap bukan itu. Lepaskan aku saat ini karena aku tak lagi sanggup!

Sepertinya, gema tersebut tak sampai padamu karena kamu menutup mata dan telinga dari jeritku yang seakan tercekik. Manusia memang tidak sempurna, tetapi bila kamu terus mencari yang terbaik dan mencari kekurangan maka tidak akan pernah puas.

Tidak ada yang harus dikatakan lagi bahwa kamu masih ingin berkelana. Bukan tidak ingin mempertahankan tetapi sebaiknya kulepaskan semua yang bukan menjadi hakku, baik saat ini atau kelak.

Tidak ada paksaan untuk tetap bertahan, sehingga kamu pun harusnya tahu harus bersikap seperti apa. Tidak adil rasanya, bila kamu memiliki dua wanita dalam satu waktu yang sama.

Sedangkan aku hanya memiliki kamu yang hanya memberikan setengah hati padaku. Kukatakan dengan jelas, bahwa aku tidak mau lagi bersama bila kamu tetap mendua. Tampaknya, kamu belum memahami isyarat yang kuberikan hingga harus segamblang itu,

Bila surat ini sampai ke tanganmu, tandanya aku tak akan lagi di sisimu untuk sekadar bercerita atau mendengar keluhanmu. Tidak dalam waktu dekat karena pemulihan hati juga butuh jeda, bukan?

Carilah wanita lain yang bersedia menerima hatimu yang selalu ada di persimpangan tanpa ada kepastian. Bila berkelana masih jadi keinginanmu, maka jadilah burung yang bebas tanpa memiliki sangkar tempatmu berlabuh karena itu hanya akan sia sia,

Carilah sumber bahagiamu, bila itu bukan aku. Aku tidak akan pernah menyesal saat kamu yang memutuskan pergi. Bahkan tidak akan aku memohon meskipun sepatah saat hati dan ragamu tak lagi seirama dan menyatakan gaung yang sama, yaitu namaku.

Namaku tak lagi kau inginkan untuk di sini pun tak apa. Surat ini akan segera kau baca dan hadir di depan matamu tanpa ada sesuatu yang aku tutupi. Putuskanlah dengan segera, kasih!

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.