Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

Aku merindukanmu setiap saat
Aku merindukanmu setiap saat

Surat

Kamu yang Selalu Kurindukan

Hai apa kabar? Kamu baik-baik saja kan? Aku merindukanmu. Karena tak bisa kuungkapkan lewat kata. Kutulis lewat surat saja.

Hai apa kabar kamu? Apa kamu baik baik saja? Aneh ya menyapa orang yang dulu pernah menjadi bagian terpenting dan sekarang asing. Aku tidak marah dengan keadaan yang mengharuskan kita untuk mengakhiri hubungan selama dua tahun ini.

Aku juga tidak menyesal untuk mengakhiri semuanya. Bisa dibilang aku hanya menyesal untuk persentase 70% saja. Cukup banyak ya? Apakah artinya aku menyesal?

Dulu setelah kamu pergi, hidup berjalan seperti biasanya tanpa ada warna. Aku bahkan sudah tidak bersemangat untuk melakukan hal hal yang biasanya membuat kita saling tertawa.

Duduk bersama menikmati secangkir kopi sambil ngobrol ngalor ngidul yang menjadi hal favoritku, sekarang bukan hal yang kusukai. Aku bahkan lebih banyak merenung di saat sendiri dan memasang topeng bahagia saat bersama orang lain. 

Kamu tahu, aku hanya ingin terlihat seperti biasanya dihadapan orang lain. Tapi ya kamu pasti tahu tipe manusia sepertiku yang selalu berlarut larut dalam kesedihan.

Lucu ya, aku dulu bahkan tidak mau melakukan aktivitas apapun setelah beberapa hari kita putus. Aku bahkan hanya merenung di kamar, berpura pura bahagia dan menertawakan kebodohan yang dilakukan teman temanku. 

Aku senang karena mereka mau datang berkunjung hanya memastikan jika aku tidak malang di kamar sendirian. Lucu ya, aku dulu bahkan harus off tidak membuka sosial media untuk menghindarimu.

Aku menonaktifkan semua akun media sosial yang bisa terhubung kepadamu. Bahkan aku bertekad untuk membuat akun sosial media yang baru agar aku tidak mengetahui kabarmu. Meski pada akhirnya aku tidak melakukan karena banyak pertimbangan. 

Sulit memang, bahkan ini jauh lebih sulit dibandingkan aku harus menghadapi ujian matematika setiap  ulangan tengah semester tiba. Apa kamu juga mengalami apa yang aku rasakan saat itu?

Alasan kita putus memang untuk kebaikan masing masing, bahkan aku telah merelakan hubungan kita yang sudah berjalan hampir dua tahun. Kamu yang sudah mengenal keluargaku tentu akan mengalami kesulitan juga bukan untuk menangani hal ini? 

Kepergianmu kala itu menyisakan duka yang sangat dalam bagiku. Tapi aku tahu ini sudah tekadmu untuk belajar di negeri orang.

Bahkan akupun tidak bisa menghalangimu untuk menuntut ilmu di negeri sendiri. Bagaimanapun cita cita harus belajar di negeri orang harus terpenuhi, itu katamu dulu. Karena itulah kita harus mengakhiri hubungan yang tidak sebentar ini. 

Tapi itu dulu, sekarang mungkin kita akan merasakan hal yang sangat berbeda. Akan terasa menyenangkan jika kita bisa bersua dengan bertambahnya gelar di akhir namamu.

Aku tidak berharap kita kembali seperti dulu, toh kita sudah menemukan kebahagiaan masing masing. Aku tahu kita sudah bersahabat sejak lama. Kamu adalah temanku pada awalnya hingga akhirnya berganti status menjadi orang yang sangat penting. 

Namun kamu tetap sahabat ku bukan? Sebagai sahabat aku yakin kamu akan tetap menyapaku saat bertemu, mengajakku mengobrol hingga menertawakan percintaan yang hampir serius di masa dulu. Aku tidak bisa menyebutnya cinta monyet, karena kita sudah berkepala dua dan bahkan bisa berpikir rasional kala itu.

Bahkan aku juga rindu kamu mampir ke rumahku untuk sekedar menengok ibuku. Kamu tahu bukan ibuku jauh lebih perhatian kepadamu daripada aku. 

Bahkan meskipun aku sudah berpasang dengan yang lain, ibu tetap menanyakan kabarmu di negeri orang. Keadaan sudah berhasil menyembuhkan lukaku, luka kita berdua. Perasaan beberapa tahun silam sudah hilang dan hanya tergantikan dengan rasa bahagia hari ini.

Kamu sudah berhasil mendapatkan apa yang kamu mau, dan aku sudah mendapatkan penggantimu. Aku sadar kamu sangatlah ambisius untuk mencapai mimpi, tapi aku percaya kamu bisa meraihnya. 

Sayangnya bukan aku yang harus merasakan kesuksesanmu untuk meraih seratus mimpi yang pernah kamu tunjukkan kepadaku. Tapi lihat sekarang, kita bahkan sudah bahagia dan melupakan semuanya.

Kamu tetap menjadi seseorang yang aku kagumi jauh di dalam lubuk hatiku sendiri. Bahkan aku masih merindukanmu sebagai kekasih alih alih hanya sahabat yang bertukar kabar.

Meskipun aku sudah punya pasangan, tidak salah bukan untuk merindukanmu bukan sebagai sahabat? Aku sudah bahagia dengan hidupku, pun dirimu. Aku akan sangat senang jika kamu mau membalas surat ini dan menceritakan apapun pengalamanmu di negeri orang.

Mendengarkanmu menceritakan mimpi mimpi seperti masa dulu adalah hal yang sangat aku rindukan. Aku rindu ekspresimu saat menggebu gebu menceritakan semua pengalaman  dan cita cita. 

Tapi semua tidak bisa kembali seperti dulu. Bahkan aku hanya bisa merindu kamu saja. Aku tidak bisa kembali menjadi seorang yang harus kamu prioritaskan. Ya, ini hanya perasaan rindu, bukan yang lainnya. Aku sadar dimana posisiku sekarang, dan aku mau kita tetap saling menyapa meskipun hanya sebatas salam saja.

Semoga kita selalu bahagia dengan jalan masing masing ya. Aku juga berharap kamu akan mampir untuk mengunjungiku dan ibu saat semua mimpimu sudah tercapai.

Artikel Menarik Lain

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.