Connect with us

Hi, what are you looking for?

iklan
Ilustrasi kamu yang pernah hadir di hidupku
Ilustrasi kamu yang pernah hadir di hidupku

Surat

Kamu yang pernah Hadir, tapi tak pernah Kusesali

Hubungan percintaan terkadang bisa sangat pelik. Seperti yang diceritakan lewat surat satu ini.

Di tengah peliknya hubungan percintaan dengan mantan kekasih yang sudah lama kandas. Aku harus tetap ke Bandung untuk menyelesaikan praktek kerja lapangan.

Semua terasa berat saat hati tidak sejalan dengan pikiran hingga rasanya semua pekerjaan tidak bisa aku selesaikan. Aku jadi ketua kelompok dan banyak target setiap minggunya, aku pun coba mulai fokus dengan hal hal yang ada di depan mata agar pikiranku sedikit teralihkan.

Satu bulan berselang, aku hampir saja berhasil dan sosoknya yang menghantui pun bisa kusingkirkan pergi. Tidak lama, sosok yang sudah lama terpendam kembali muncul.

Bukan orang yang sama, tetapi kamu yang dulu pernah hadir mengisi masa kecilku di sekolah yang tidak kuinginkan. Kamu memang bukan orang istimewa, tetapi memiliki pesona yang cukup membuat gadis berjajar di sebelahmu mendengar guyonan garing yang tidak lucu.

Radit namanya, melekat kuat dan erat hingga beberapa waktu lalu. Kamu teman dari masa lalu yang kembali hadir mengisi hari hari di Bandung yang membosankan.

Pesan teks darimu selalu kutunggu bahkan aku rela tidur larut hanya untuk mendengar suaramu yang jenaka. Jam kerja yang sangat malam membuatmu terus menelponku hingga waktunya pulang.

Tanpa terasa kedekatan ini telah mencapai waktu dua bulan dan kamu jadi teman setia di kala itu.

iklan

Tidak ada rasa suka rasanya terlalu naif dan munafik bila mengatakannya. Kamu adalah orang yang selalu kutunggu setiap harinya meski hanya mengabarkan beberapa patah kata.

Kamu sosok yang kusuka karena meskipun kalah bermain game karena aku, tidak pernah sekalipun keluar kata makian dari mulut itu. Rasanya aku pun wajar bila menanyakan arah hubungan yang terasa semakin dekat, tetapi tidak ada kejelasan hingga 4 bulan berselang.

Tanggal yang cantik, 11 November jadi waktu yang akan selalu kuingat di kala itu. Akhirnya ada seorang lelaki yang bersedia menemani hari hariku yang terasa kian berat karena beban kuliah yang menumpuk.

Kamu yang terus marah marah bila aku sibuk di kampus dan tidak punya waktu sekadar bertemu. Kondisi ini sangat aku suka meskipun kita terus berantem tanpa alasan yang jelas, tetapi kamu dream comes true yang selalu kusemogakan.

Tidak ada kata manis yang kamu ucapkan untuk memintaku bersamamu, bahkan cenderung memuakkan. Tetapi, kondisi kita yang sudah sangat dekat telah mencairkan suasana yang membuatku iri dengan gaya pernyataan cinta pasangan lainnya.

Tempat kita berdekatan tetapi sulit sekali untuk bertemu, menyapa, atau sekadar melebur rindu. Terlalu picik bila mengatakan sibuk, hanya tidak ada waktu untuk aku yang bukan prioritas. Itulah pikiranku.

Aku yang terus berpikir negatif membuatmu lelah, mungkin. Hubungan yang semakin tidak sehat pikirku. Lalu seseorang dari masa lalu datang, kamu mungkin tidak menyukainya tapi ia jadi alasan kamu meninggalkan aku sendiri.

Ia memintamu pergi dan kamu menurutinya dengan alasan yang aku tidak paham hingga saat ini. Pedihnya, kamu memutuskan aku di saat mendekati hari penting yang membutuhkan konsentrasi di hari itu.

Aku sidang, tetapi kamu justru meninggalkan aku tanpa alasan yang jelas. Aku mencoba berdamai dengan keadaan dan berharap membaik setelahnya. Berbagai cara kucoba bahkan dengan mencari pelarian, tetapi rasanya memang tidak pernah lega bila tidak mendengar penjelasan langsung darimu.

Puluhan hari kutahan dan tak tahu alasan tepatnya hingga kamu pun menjadi dingin saat bertemu. Sekadar melihat atau menyapa pun terasa tak sudi lagi.

Menarik, kemarin kemarin kamu bagai air di tengah dahaga. Saat ini kamu seperti terik di tengah hari yang ingin kuhindari. Sikapmu justru membuatku bertanya tanya, bahkan setelah kamu memiliki tambatan hati lain pun sikapmu padaku tidak pernah berubah.

Tidak ada lagi sapaan padaku, baik di sosial media maupun di kehidupan nyata. Bingung! Bukankah seharusnya kamu menjelaskan alasan kamu meninggalkanku agar aku tidak lagi bertanya-tanya?

Beberapa minggu lalu, semua tidak lagi abu abu. Kamu menghubungiku lagi dalam kondisi yang sudah lebih baik. Terlambat memang untuk menjelaskan, tetapi aku harap pertemanan ini tidak lantas hilang hanya karena kisah sesaat itu.

Kamu mengatakan alasan dengan jelas, tetapi tidak memuaskan. Aku anggap ini sebagai penyelesaian hubungan kita yang kemarin tidak menemui ujung. Penjelasan ini kuharap sebagai jalan melepasmu dengan lapang.

Lapang dada ini aku butuhkan agar kita melangkah dengan lebih jauh. Tahukah kamu, aku tidak pernah menyesal mengenalmu sejak dulu hingga sekarang? Aku merasa bersyukur diberi kesempatan mengenal dan mewujudkan salah satu keinginanku untuk bersanding walau hanya sesaat.

Kamu tidak pernah jadi salah satu bagian penyesalan terbesar, tetapi justru jadi pembelajaran berharga yang harus kulalui untuk mencapai di titik ini.

Berharap jadi lebih baik kedepannya, kamu pun seperti itu. Tidak ada yang berubah, kuharap dari hubungan ini. Kamu tetap teman terbaik yang tahu segala naik dan turunnya hidupku di masa lalu.

Radit!

Kamu pun yang kemarin kucari untuk menceritakan segala keluh kesah dan hari itu kutemukan sosokmu yang berbeda. Bukan tanggapan jenaka melainkan kalimat bijak dan motivasi yang menyemangatiku di kemudian hari.

Semoga kita selalu Bahagia dengan jalan masing masing.

Pak Pos
Written By

Tukang antar surat-surat yang bernada baper.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.