Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Kamu takkan pernah Membaca Surat ini

Terkadang, cinta bisa jadi kosong. Apalagi kalau tidak terungkap lewat mulut, namun hanya bisa dinyatakan lewat surat.

ilustrasi cinta itu kosong

Rasanya sayang sekali, surat ini menjadi surat cinta yang tidak akan pernah sampai kepada penerimanya. Biasanya, aku tidak terlalu suka mengungkapkan segenap perasaanku melalui sebuah tulisan.

Setelah kupikir kembali, aku harus melakukannya. Mengapa? Karena aku tidak ingin memendam perasaan ini sendirian. Aku ingin membaginya denganmu, dengan siapapun yang nantinya berkesempatan membaca tulisanku ini.

Aku memang tidak pandai menata kalimat romantis untuk membuat orang yang kukasihi terkesan. Namun untukmu, sebisa mungkin aku akan berusaha yang terbaik agar bisa melukiskan senyum di wajah indahmu. Mana tahu, surat yang kutulis ini akan menjadi surat cinta terindah sepanjang masa.

Kalau kau membacanya, mungkin kau akan bangga padaku dan mengusap rambutku dengan lembut seperti yang biasa kau lakukan.

Satu pertanyaan yang selalu ingin aku tanyakan padamu ketika kita berkesempatan bertemu kembali di kehidupan selanjutnya nanti. Masih ingatkah pertemuan pertama kita?

Kala itu aku hanya bertanya dalam hati, mengapa aku berdandan serapi ini sedang kamu hanya memakai trining olahraga kebanggaanmu?

Lucu bukan? Hari pertama pertemuan kita yang seharusnya menjadi momen romantis malah jadi momen yang lucu.

Tapi tidak mengapa. Dari situlah aku menyukaimu dengan segala apa adanya dirimu. Di depan gang rumahku, kata pertama yang kau ucap adalah “cantiknya”.

Aku bahkan mengingat nada yang kau ucap dengan kalimat itu. Pertemuan pertama kita lalui dengan segudang cerita seru yang tak akan pernah bisa kulupa.

Bahkan, semenjak pertemuan pertama kita, aku yakin kamu adalah orang yang akan berdampak di kehidupanku.

Kala itu aku juga telah memutuskan, kamu manusia yang tepat untuk manusia rumit sepertiku. Akan kubuat hidupmu, hidupku, hidup kita bahagia.

Saat kita mengobrol di bawah pohon yang teduh, aku semakin yakin dan terjatuh lebih dalam pada dirimu. Dari caramu membelah pikiran, mengungkapkan berbagai rasa, dan mengutarakan cinta membuatku semakin yakin untuk memilihmu sebagai pelengkap hidupku.

Dan akhirnya, kita berdua memiliki impian yang sama. Aku fokus pada jalanku, dan kamu fokus pada jalanmu. Kita berdua disibukkan oleh tuntutan pekerjaan setiap harinya.

Saat aku mengeluh karena jarang bertemu, kamu selalu meyakinkan diriku bahwa semua ini harus dilakukan agar tercapainya tujuan kita.

Aku tahu betul rasa penatmu, dan kamu juga tahu rasa lelahku. Tapi, kita sudah memutuskan untuk menggapai impian yang kita bangun.

Untuk pertama kalinya, aku baru berani mengenalkan kamu kepada kedua orang tua ku. Akan kuberi tahu sesuatu yang belum pernah kukatakan padamu sebelumnya.

Kau tahu? Orang tuaku mengira kau menyukai musik bergenre rock karena rambutmu yang gondrong kala itu. Yang mereka tidak tahu, di balik rambut gondrong ada sifat layaknya calon ustadz muda.

Aku begitu ingat kau pernah marah sekali padaku sebab aku tidak tarawih di bulan puasa.

Karena rasa malasku, aku mencari berbagai alasan untuk tidak mengikuti sholat tarawih waktu itu. Akibatnya, kamu tidak mau berbicara padaku selama tiga hari lamanya.

Tapi aku tidak keberatan, semua yang kamu lakukan hanyalah untuk membimbingku ke jalan yang baik. Aku suka, sangat menyukainya. Aku bisa merasakan ketulusan di setiap kata dan tindakanmu.

Ini salah satu hal yang membuatku tidak bisa hidup tanpamu.

Hingga tiba tepatnya hari selasa, kamu yang amat menyukai makanan dengan rasa yang pedas mulai merasakan sakit perut hebat. Aku hanya bisa memarahimu karena kamu tidak pernah mendengarkanku untuk mengurangi tingkat kepedasan di makananmu.

“Maaf ya kalau aku besok sakit”. Kata yang kau ucapkan setelah kemarin berjanji esok hari akan menemuiku. Aku pun semakin marah karena kita tidak bisa bertemu setelah sekian lama.

Hari Rabu pukul 10.00 WIB. Kamu tak kunjung membalas pesan yang kukirim padamu. Kupikir kamu masih tidak enak badan karena terlalu banyak makan pedas.

Ya sudah, aku biarkan kamu beristirahat dengan tenang hari itu. Namun, di malam hari pun kamu juga masih tidak membalas pesanku. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, mustahil bagiku untuk keluar rumah.

Keesokan harinya, adikmu memberitahuku mengenai kondisimu. Aku sangat terkejut mengetahui kamu berada di rumah sakit. Sayangnya, aku tidak bisa menjengukmu karena harus mengantar ibu ke suatu tempat.

Pukul 12.35, handphone ku berdering cukup banyak. Rupanya banyak sekali pesan yang masuk. Mereka memberitahuku bahwa kamu sudah pulang ke pangkuan-Nya. Kupikir aku sedang dikerjai. Tanpa pikir panjang aku menuju ke rumahmu.

Disana sudah ada banyak sekali orang dengan bendera kuning tergantung di gang. Hari itu adalah hari dimana aku merasa hancur. Semua impianku, impianmu, dan impian kita bahkan belum sempat terwujud.

Jika diberi kesempatan sekali lagi, aku akan bertanya padamu. Bolehkah kamu tinggal lebih lama lagi? Masih adakah impian kita di anganmu? Ayo kita wujudkan bersama dan raih kehidupan yang berbahagia.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.