Media Sosial

Hi, cari artikel apa?

Surat

Empat tahun Berlalu tanpa tahu Kabarmu, Sobat

Aku selalu berdoa untukmu, sahabatku. Walau kita tak pernah bertemu. Empat tahun sudah kita terpisah.

tak pernah bersua

Semoga saat engkau membaca suratku ini, engkau dalam keadaan tersenyum dan bahagia. Karena Allah selalu menghadirkan rasa sayang serta Kasih-Nya padamu.

Rasa yang sama saat kita bersama dulu, menjalani hari-hari penuh keluh kesah, merangkai senyum dalam keletihan. Namun kita melewatinya dalam suasana penuh cinta. Hingga membuatku lupa apa arti kesedihan. 

Empat tahun telah berlalu tanpa terasa apa kabar kau disana? Sekali lagi aku menyapamu dalam selembar coretan, untuk sebuah rasa rindu yang belum terobati.

Bagaimana harimu? Saat aku menulis sepucuk surat ini aku berharap kau tak pernah melewati hari menyebalkan.

Aku senantiasa mendoakanmu dalam sujudku, agar engkau di sana tetap teguh dalam keimanan dan Allah tak pernah berhenti untuk mencurahkan Rahmat-Nya padamu.

Aku ingin kembali dapat bersua bersamamu, tak terasa kini kau telah sibuk dengan duniamu begitu pula aku. Banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, berbagi cerita, tertawa bersama dan banyak hal lain yang ingin kulakukan bersamamu.

Namun saat ini seolah jarak dan waktu benar-benar memisahkan raga dan hati kita, terlintas dibenakku mengapa Allah mempertemukan kita? 

Apakah semua kenangan indah yang telah kita lalu hanya terjadi begitu saja. Aku tak kuasa membendung rasa rindu bila merenungi semua hal tentang kita.

Di sepertiga malam, aku curahkan segenap rinduku pada Sang Pemilik Semesta, karena aku tahu padaNya lah bermula rasa rinduku padamu. dan selalu doa ku lantunkan di sepertiga malam ku, agar kau selalu dalam lindunganNya.

Apa kau ingat saat terakhir kali kita akan berpisah, saat itu aku benar-benar tak kuasa harus melepasmu, rasanya terlalu pekat untuk dilupakan.

Tapi senyummu, memberi isyarat perpisahan itu pasti terjadi. Hingga saat ini kala jiwaku terasa sunyi sekilas suaramu terngiang. Seolah engkau benar ada di sisiku.

Menghiburku dengan cerita indah dari surga, cerita tentang mereka yang selalu dikasihi Allah.

Terkadang saat cahaya senja menaungiku di pesisir pantai, aku termenung dan menatap gelombang air laut yang tenang. Membiarkan angin dengan lembutnya menerpa wajahku.

Mengusikku, yang kala itu sedang terkenang akan dirimu. Dan lagi air mata itu tak dapat kutahan, sesekali riak – riak air laut menggodaku, menyentuh kakiku yang tak beralas.

Bila aku bisa memilih, aku mengulang masa itu kita bercerita bersama,menghiburmu kala kau sedang berduka. Tapi, saat ini aku mengerti bahwa sang Khaliq telah menyiapkan skenario terindahnya untuk kita, sehingga tidak kurisaukan lagi apapun takdir Tuhan tentang kita nantinya.

Bisa mengenalmu saja aku sudah sangat bersyukur. Aku bersyukur karena Allah telah menghadirkan dirimu pada sepotong mozaik hidupku yang singkat ini.

Sepotong kenangan indah bersamamu, yang mampu mencerahkan setiap langkahku. Aku selalu ingat pesanmu untuk selalu kuat dan tegar dalam menghadapi apapun.

Kau selalu ajarkan aku apa arti kasih sesungguhnya. Kita berkisah 20 tahun lamanya tapi tak ada satu hari pun tanpa pembelajaran hidup baru bersamamu.

Ramah dan selalu menebarkan senyuman kepada siapa saja, aku ingat sapamu.

Sepucuk Surat ini, kutulis dengan hati yang bergetar. Setiap untaian katanya adalah sajak rinduku padamu. Aku menulisnya dengan perasaan sama saat kita mengucap janji-janji suci, bahwa kita akan bertemu kembali di tempat terindahNya, surga firdaus. Kini, saat kita tak saling bergenggaman lagi.

Hanya janji suci itulah yang menguatkan aku dan mengiringi langkahku dalam merangkai cita-cita.

Semenjak kita berpisah, aku telah mengenal banyak orang, bertemu bermacam rupa manusia. Namun, tak kutemukan satupun perasaan yang sama saat bersamamu.

Ada kehangatan jiwa yang ku rasakan, saat kita menertawakan kecerobohan kita sendiri, kau telah mengajari aku bagaimana cara agar kita tetap tersenyum, meski takdir terasa pahit.

Kuharap engkau selalu dalam kebaikan, jugalah selalu shalatmu, tilawahmu, serta lisanmu. Sehingga para malaikat menyaksikan engkau sebagai hamba-Nya yang sempurna dalam keimanan.

Begitu juga aku mohon agar engkau selalu mendoakanku. Agar kita bisa menjadi pribadi yang menawan berkat akhlak dan ilmu.

Seterjal apapun perjalanan yang kau tempuh, sepahit apapun kisah yang kau rasa. Ku mohon padamu, janganlah pernah berpaling dari cahaya-Nya.

Yakinlah bahwa engkau tak pernah sendiri, Allah dengan segala kemurahan-Nya akan selalu membimbingmu.

Sahabatku yang hatinya selalu terpancar cahaya Ilahi, selalu ada ruang dihatiku untukmu, karena kau telah terlebih dahulu membesarkan hatiku. 

Dan aku berharap semoga kita bertemu kembali walau di tempat dan waktu yang berbeda, namun masih ada kasih di sana. Semoga kau dapat merasakan besar rinduku padamu.

Saat kau telah membaca coretan ini aku berharap persahabatan kita tak akan memudar terkikis waktu dan jarak. 

Semoga Allah menghimpun kita di taman-taman surga-Nya, seperti janji suci yang pernah kita ikrarkan bersama.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.