Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

Tuhan-satu
Tuhan-satu
Ilustrasi kita. (Foto: Getty Images lewat Canva)

Surat

Dear, kamu: Tuhan Satu, Kita yang Berbeda

Tapi kamu tau kan, semua orang berubah. Termasuk aku, termasuk kamu.

the Monkey Times – Saat membaca pertanyaan itu kamu mungkin langsung mengerutkan alis dan keningmu. Kamu pasti heran kenapa aku harus berbasa basi dengan pertanyaan klise. Seperti bukan aku yang dulu kamu kenali, yang selalu tanpa basa-basi, lantang berucap apa yang sedang dipikirkan.

Tapi kamu tau kan, semua orang berubah. Termasuk aku, termasuk kamu. Jadi tidak salah kan aku bertanya bagaimana kabarmu setelah kita memang sudah lama tidak bersua.

Harus mulai dari mana aku berbicara denganmu jika tidak boleh bertanya perihal kabar. Atau mungkin kamu sudah tidak ingin berbicara lagi denganku, karena tidak ingin ada lagi kenangan yang muncul ke permukaan.

Tapi izinkan aku berkunjung sejenak pada hidupmu melalui beberapa tulisan ini, pada hidup yang dulunya aku juga pernah singgah cukup lama dan mengukir berbagai ingatan.

Kenapa memasang ekspresi bingung begitu? Tidak, tentu aku tidak meminta untuk semua terulang kembali seperti dahulu. Kita berdua tahu bahwa semua yang telah lalu cukup melelahkan untuk satu sama lain.

Kita berdua mengetahuinya, tidak ada yang mampu kita perjuangkan sejak pertama kali kita menjalin sebuah kisah. Pun tidak ada yang bisa membantu mengubah jalannya cerita yang kita rajut secara perlahan waktu itu.

Walau awalnya waktu itu semua ‘agak’ menyebalkan. Menyebalkan ketika aku sadar sedang berusaha menyukai hal-hal yang kamu suka. Menyebalkan ketika aku harus mengisi sebagian besar kapasitas otakku untuk memikirkanmu.

Maksudku, masih ada banyak hal yang harus aku pikirkan : uang sakuku yang menipis, deadline tugas menumpuk, dan masih banyak lagi. 

Cukup menyebalkan ketika suasana hatiku harus selalu bergantung pada kehadiranmu. Menyebalkan ketika aku harus memikirkanmu setiap kali akan tidur.

Sambil menebak-nebak, apakah saat itu kamu juga sedang memikirkanku seperti yang sedang aku lakukan, atau barangkali juga tidak. Khas percintaan remaja, yang dunianya terus berputar dengan masalah cinta.

Dulu kita masih polos, berlagak mampu untuk menghadapi semua perbedaan yang ada. Tidak peduli pada semua mata yang memandang dengan ragu, kita percaya bahwa masa depan itu ada.

Namun pada akhirnya kita juga menyerah dengan keadaan, memutuskan untuk saling melepaskan. Menyadari bahwa Tuhan memang hanya satu, kita yang berbeda. Hingga tak mungkin menyatu, cinta yang harus terluka.

Tak ada restu untuk kita, selama ini, karena kita yang berbeda dan tidak akan pernah menjadi sama. Perbedaan ini membuat sebuah benteng yang begitu tinggi. Dimana aku maupun kamu tidak sanggup untuk melewatinya.

Meski berusaha sedemikian rupa sekalipun, meski kita bisa melawan semua tatap ragu sekalipun. Meski telah lama sudah kita mencoba untuk menentukan arah, terus menunggu salah satu iman untuk menyerah.

Nyatanya tentu kita berdua tidak ada yang ingin menyerah, baik pada iman maupun pada satu sama lain. Yang bisa kita lakukan hanya terus menyalahkan keadaan, dan terus hidup dalam kebingungan selama bertahun tahun lalu menyerah pada akhirnya.

Nyatanya kita memang tidak mampu melawan kuasaNya. Nyatanya kita memang tidak bisa terus bersama untuk kedepannya.

Semua kebingungan dan arah yang tidak pasti akan kemana pada akhirnya hanya membuat pertengkaran tidak berguna. Semakin banyak kita bertengkar, semakin banyak luka yang tercipta. Lalu aku memutuskan pergi, agar tidak terus melukaimu.

doa
Ilustrasi berdoa. (Foto: Getty Images lewat Canva)

Tapi kamu berkata bahwa ini hanya alasanku saja. Padahal, aku tau kamu juga lelah. Kamu juga sangat terluka, dan tidak punya jawaban apapun.

Lantas apa lagi yang ingin kita pertahankan? Jika yang tersisa hanya ada luka baru yang terus terbentuk. Dan kini setelah sekian lama berlalu, berbagai luka itu ternyata tidak kunjung pulih.

Terus menganga, dan membuat hatiku terus merindu. Rindu padamu seperti gerimis, yang melebat tiba tiba. Mengalirkan kamu dengan deras ke dalam pikiranku, membuat basah dengan air mata.

Kamu sebuah kenangan yang terus tersimpan di dalam hati, hingga saat ini. Hingga hari ini kamu masih orang yang memicu hujan di hatiku. Masih kamu sejak dulu sampai saat ini, yang terus membuatku bahagia dan terluka di saat yang sama.

Kamu masih seseorang yang ingin kugapai, tapi tidak mampu kulakukan. Kamu masih orang yang selalu ada di mimpiku, meski di dunia nyata aku tidak dapat menemuimu.

Tulisan ini kutulis untukmu hanya untuk menyapa, tidak ada maksud ataupun niat apa apa. Meski kamu bertanya tanya kenapa aku melakukan hal ini, tapi tidak ada maksudku untuk kembali pada masa masa indah kita dulu.

Aku hanya serpihan kisah masa lalumu, yang hanya sekedar ingin mengetahui keadaanmu. Tidak bermaksud mengusik, atau mengganggu ketentraman dalam hidupmu.

Hanya semua ini masih cukup sulit bagiku. Meski sudah berlalu cukup lama, tapi aku masih saja belum terbiasa bernafas tanpamu. Memang aku yang pergi terlebih dahulu, tapi perasaanku tidak pernah kubawa pergi.

Masih di sini, di sudut hatiku yang tidak terlihat oleh siapapun. Di sana, masih ada namamu yang senantiasa muncul ketika malam datang. Kemudian membuat hujan juga ikut datang di hatiku.

Teruntuk kamu, Tuhan itu satu namun kita yang berbeda.

Artikel Menarik Lain

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.