Connect with us

Hi, what are you looking for?

Narasi

Saya Bertanya tentang New Normal kepada Pengurus Pondok Pesantren Nurul Ummah Jogja

Kami berbincang dengan pengurus Pesantren Nurul Ummah Jogja tentang New Normal.

new normal di pesantren
Ilustrasi pengajaran agama di pesantren.

29 Mei silam, sebuah rilisan untuk pers dikutip oleh akun Twitter resmi Nahdlatul Ulama.

Rilisan tersebut menegaskan sikap Nahdlatul Ulama, khususnya Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI) Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama, dalam menghadapi sikap pemerintah yang memaksa memberlakukan kelaziman baru, alias new normal, di tengah kurva pandemi yang belum turun juga.

Kendati judul dan isi rilisan pers itu seakan-akan dinyatakan sebagai sikap berseberangan dari PP RMI, lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan, namun PP RMI menegaskan di rilisan itu bahwa organisasi tetap tunduk pada pelaksanaan new normal.

Dalam rilis yang ditandatangani H. Abdul Ghofarrozin selaku ketua RMI dan Habib Sholeh selaku sekretaris RMI, disebut dengan jelas bahwa pelaksanaan new normal di pesantren tidak bisa dilakukan kecuali pemerintah memberi dukungan kepada pesantren.

PP RMI berharap dukungan dari pemerintah bisa diberikan antara lain dalam bentuk pemberian fasilitas kesehatan, dukungan sarana dan fasilitas pembelajaran online bagi santri yang belum bisa kembali ke pesantren, dan bantuan biaya pendidikan bagi santri yang terdampak secara ekonomi.

Kalau tidak ada dukungan dari pemerintah, maka “RMI-PBNU menyarankan pesantren memperpanjang masa belajar di rumah,” kata H. Abdul Ghofarrozin dalam rilisan tersebut.

Suara dari Kotagede tentang pembelajaran daring

Kira-kira setengah kilometer ke arah selatan dari lapangan Karang Kotagede, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, berdiri sebuah pesantren bernama Nurul Ummah.

Mengutip artikel berjudul “Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede, Disinggahi Santri Thailand hingga AS” di Tribunnews, Nurul Ummah didirikan pada Februari 1986 oleh KH Syhari Marzuqi.

  Cinta dalam Lembaran Kertas Coklat

Letaknya yang strategis itu membuat orang jadi gampang menemukan Pesantren Nurul Ummah. Walau begitu, suasana mungkin sedikit sunyi kalau Anda bertandang kesana hari-hari ini.

Seturut keterangan dari Adriek Noor Maftuhie, Ketua Umum Pengurus Pondok Pesantren Nurul Ummah, pesantren masih sepi karena tahun ajaran baru akan dimulai pada 13 Juli 2020.

“(Pondok sudah libur) sejak 23 Maret kira-kira,” lanjut Adriek.

Dan sama seperti sekolah-sekolah umum non-pesantren, santri mengikuti tren kekinian para pelajar dan mahasiswa seantero Indonesia: sekolah daring dimana tatap muka antara pengajar dan murid dilakukan lewat aplikasi. Namun sayang praktiknya tidak begitu mudah dilakukan.

Apalagi Nurul Ummah tidak hanya menyelenggarakan pendidikan umum saja, melainkan juga pendidikan ala pesantren dengan metode belajar yang berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya.

Pada soal praktik sekolah praktik pembealajaran daring yang sulit dilakukan, sebabnya bukan karena santri tidak terbiasa atau susah membiasakan diri belajar dengan cara daring, melainkan karena karakteristik kegiatan belajar-mengajar ala pesantren lah yang membuat konsep pengajaran daring terkesan mustahil dilakukan.

Secara umum orang mengenal dua metode pembelajaran di pesantren, terutama yang masih menggunakan kitab kuning sebagai sarana pembelajaran, yakni sorogan dan bandongan.

Kalau dalam metode bandongan seorang santri tinggal menyimak apa yang disampaikan guru/kiai-nya, metode sorogan mengandaikan ada murid yang menyodorkan materi yang ingin dipelajarinya bersama seorang guru.

Diluar kedua metode tersebut, dunia pesantren juga mengenal metode belajar-mengajar lain seperti musyawaroh/bahtsul masail, pengajian pasaran, hafalan, demonstrasi/praktik ibadah, muhawarah, dan mudzakarah.

Di Nurul Ummah, kecuali metode bandongan yang memang bersifat searah, karena guru hanya tinggal membacakan materi di depan para murid, metode lainnya sangat sulit dilakukan dengan cara daring.

  Gus Gayeng bersama Santrinya di Youtube

Namun dua metode lain, yakni sorogan dan musyawaroh/bathsul masail – dua metode yang menurut Adriek dilakukan di Nurul Ummah – sulit dilakukan secara maksimal.

“Itupun dari sekian banyak pelajaran dan kelas harus dipangkas sedemikian rupa,” kata Adriek melanjutkan.

“Justru malah pelajaran-pelajaran inti yang butuh diskusi yang dipangkas karena nggak efektif (bila dilakukan secara daring), misalnya nahwu, shorof, fiqh (dan) ushul fiqh,” lanjutnya.

Selain itu, menurut Adriek, sorogan dan musyawaroh tidak mungkin dilakukan karena Nurul Ummah sendiri memang tidak siap membebani santri dengan biaya kuota.

Tentang protokol kesehatan dari pemerintah

‘Pemerintah Bakal Kucurkan Rp23,6 T buat Pesantren saat ‘New Normal”, demikian judul berita yang diturunkan oleh Tirto pada 9 Juni kemarin. Dana itu dikucurkan dengan maksud untuk menjaga agar kluster baru penularan COVID-19 tak muncul dari pesantren.

Kabar itu bisa jadi melegakan, setidaknya bila dibaca orang yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan pendidikan di lingkungan pesantren.

Namun kabar itu belum sampai ke Kotagede.

“Belum sama sekali, mas,” kata Adriek.

Lelaki itu sendiri menyimpan kekhawatiran terhadap pondok tempat dia menjadi pengurus. Saya sempat bertanya apakah Nurul Ummah sudah siap seakdanya new normal diterapkan, Adriek menjawabnya dengan kalimat pendek: belum sepenuhnya.

Baca Juga: Gus Muda Blak-Blakan

Bagi dia, Nurul Ummah adalah pondok kecil, dan karenanya dia berpendapat pondok masih kesulitan menyesuaikan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Ditambah lagi sebagai seorang anggota komunitas (santri), Adriek terbilang khawatir dengan cara COVID-19 menular.

Kekhawatiran Adriek memang beralasan, mengingat betapa sulitnya mengontrol banyak orang dalam waktu bersamaan. Sebagai tambahan, jumlah santri yang belajar dan mondok di Nurul Ummah kurang lebih mencapai 655 orang.

  Kisahku Dengan Buku bukan Karena Cinta dari Sananya

“Santri-santri berasal dari berbagai daerah. Untuk memastikan mereka benar-benar datang membawa kendaraan pribadi dan aman tentu sulit.

(Belum lagi) tempat dan fasilitas yang belum memadahi. (Dan) kerelaan warga untuk kedatangan santri,” kata Adriek.

Walau sekarang sedang ramai wacana new normal, dan beberapa daerah di Indonesia sudah menerapkannya, dunia pendidikan di Indonesia tampaknya masih jauh dari kata siap.

“Kemarin ditingkat yayasan baru menyusun kemungkinan-kemungkinan keputusan dari pemerintah, karena kabarnya baru 30 Juni diputuskan pelaksanaan pendidikan,” kata Adriek.

Tampaknya pendidikan di Indonesia, termasuk pesantren yang menyelenggarakan pendidikan modern, belum akan mulai membuka pintunya untuk murid-murid baru. Adriek sendiri mengabarkan sesuatu kepada saya:

Kabar sementara dari pemerintah setempat, pelaksanaan pendidikan tatap muka kemungkinan (dilaksanakan) Desember.

Sumber:

  • jogja.tribunnews.com. Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede, Disinggahi Santri Thailand hingga AS.
  • ponpes.alhasanah.sch.id. Metode Pembelajaran di Pesantren.
  • republika.co.id. Sorogan dan Bandongan Metode Khas Pesantren
  • tirto.id. Pemerintah Bakal Kucurkan Rp2,36 T buat Pesantren saat ‘New Normal’

Written By

Editor in chief di the Monkey Times. Menaruh minat luas pada perkembangan media digital dan arus wacana yang berkembang di sekitarnya. Bergabung dengan the Monkey Times sejak 2019.

Artikel Terkait