Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

Hai Indonesia

Najwa Shihab menjawab Kursi Kosong Terawan

Bagaimana Najwa Shihab menjawab tudingan “melecehkan” Jokowi di acara ‘kursi kosong Terawan yang ditayangkan di Mata Najwa.

Najwa Shihab menjawab
Potret Najwa Shihab 2018. (Foto: Wikimedia)

the Monkey Times – Silvia Devi Soembarto, Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu, selasa kemarin (06/10/2020), melaporkan Najwa Shihab ke Polda Metro Jaya.

Silvia melaporkan Najwa karena merasa ada unsur parodi yang ditampilkan Najwa lewat program Mata Najwa yang mewawancarai kursi kosong yang dibayangkan sedang diduduki Menteri Kesehatan Terawan.

Silvia menganggap apa yang dilakukan Najwa – dengan mewawancarai kursi kosong – merupakan usaha pelecehan siber (cyber bullying).

“(Tindakan yang dipersangkakan) cyber bullying karena narasumber tidak hadir kemudian diwawancarai dan dijadikan parodi. Parodi itu suatu tindakan yang tidak boleh dilakukan kepada pejabat negara, khususnya menteri,” kata Silvia seperti dikutip Detik.

Mengutip Detik kembali, laporan Silvia kemudian ditolak polisi karena dinilai salah alamat.

Polisi lalu mengarahkan Silvia untuk melapor kepada Dewan Pers.

Polisi beralasan di kasus Najwa ada hukum yang berlaku di luar hukum perdata dan pidana.

“Diminta rekomendasi dan referensi (Dewan Pers). Contohnya Dewan Pers punya UU Pers mana saja pasal yang dilanggar. Kode etik mana yang dilanggar, gitu,” demikian keterangan Silvia kepada Detik.

Jawaban Najwa Shihab

Najwa kemudian menjawab pelaporan itu melalui postingan Instagram pribadinya.

Dia mengatakan tayangan kursi kosong diniatkan untuk mengundang pejabat publik, sehingga yang diundang nantinya bisa memaparkan berbagai kebijakan terkait penanganan pandemi.

“Namun, kemunculan Menteri Kesehatan memang minim dari pers sejak pandemi kian meningkat, bukan hanya di Mata Najwa saja.

Dan dari waktu ke waktu, makin banyak pihak yang bertanya ihwal kehadiran dan proporsi Manteri Kesehatan dalam soal penanganan pandemi,” tulis Najwa di akun Instagramnya.

Faktor itulah yang kemudian mendorong Najwa membuat tayangan kursi kosong di media sosial dan kanal Youtube Narasi.

Lebih jauh lagi Najwa menceritakan ide “kursi kosong” memang belum pernah dilakukan di Indonesia, meski lazim dilakukan di negara yang memiliki sejarah kemerdekaan pers yang panjang.

“Di Amerika sudah dilakukan bahkan sejak tahun 2012, di antaranya oleh Piers Morgan di CNN dan Lawrence O’Donnell di MSNBC’s dalam program Last Word.

Pada 2019 lalu di Inggris, Andrew Neil, wartawan BBC, juga menghadirkan kursi kosong yang sedianya diisi Boris Johnson, calon Perdana Menteri Inggris, yang kerap menolak undangan BBC.

Hal serupa juga dilakukan Kay Burley di Sky News ketika Ketua Partai Konservatif James Cleverly tidak hadir dalam acara yang dipandunya,” lanjut Najwa.

Sederet pertanyaan yang ditujukan ke “kursi kosong” di acara tersebut, menurut Najwa merupakan pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari publik, baik dari warga biasa, lembaga maupun para ahli yang peduli dengan penanganan pandemi.

Najwa melakukan itu guna menjalankan fungsi media yang sesuai dengan Undang-Undang Pers, yakni “melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum” serta “mengembangkan pendapat umum.”

Ditulis oleh

Tugas saya menulis berita. Titik.

Artikel Terkait

Hai Indonesia

Indonesia berniat membangun ekosistem industri baterai kendaraan listrik yang berkelanjutan.

Film

Aktris yang dulunya tenar di usia 11 tahun kini kembali.

Internasional

Sebaliknya, Israel menghancurkan 6 gedung yang berada di wilayah kekuasaan Palestina.

Internasional

Kini Palestina kehilangan kemampuan untuk melacak persebaran COVID-19 di Jalur Gaza.