Penulis: Dandun Kusuma

Musik Tradisional Talempong: Kekayaan Daerah khas Minangkabau

Alat musik talempong berasal dari daerah Sumatera Barat, dan ternyata memiliki sejarah yang panjang sehingga bisa dikenal sampai sekarang.

the Monkey Times – Kebudayaan-kebudayaan serta kesenian yang lahir di bumi Nusantara ini teramat kaya dengan khasanah lokalnya. 

Jika kita dengar kata alat musik Talempong kita akan teringat suku Minangkabau, seperti halnya orang mendengar kata Gamelan pasti orang akan tertuju pada suku Jawa.

Musik Talempong Berasal dari Daerah Sumatera Barat

Alat musik Talempong berasal dari daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Sehingga tidak heran manakala ingatan akan hal tersebut melekat kuat di kalangan masyarakat. 

“Setiap entitas di alam semesta, yaitu setiap dan semua atom yang ada, memproduksi suara unik karena geraknya, ritmenya atau vibrasinya.

Semua suara dan vibrasi ini kemudian membentuk harmoni universal pada tiap – tiap elemennya, sembari berperan sesuai kodrat dan fungsinya, turut menyumbang sesuatu bagi semesta.” Pythagoras.

Cerita tutur yang berkembang di masyarakat Minangkabau bahwa alat musik Talempong sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu sebelum abad 14, namun hal tersebut tidak bisa dibuktikan dengan catatan tertulis maupun dari sumber arkeologis.

Baru setelahnya akhir abad 14 diyakini masyarakat setempat bahwa alat musik Talempong mulai secara aktif dipergunakan oleh masyarakat Minangkabau.

Bentuk Alat Musik Talempong

gambar alat musik Talempong.
Gambar alat musik Talempong yang berasal dari Minangkabau. (Foto: Indonesia Kaya)

Talempong sendiri merupakan instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipukul dan termasuk dalam kategori perkusi, hampir menyerupai gamelan seperti bonang bentuknya pencon bulat menonjol.

Bagian tengah Talempong yang digunakan musisi untuk membunyikan alat musik tersebut berdiameter 5 cm sedangkan untuk keseluruhan bentuk berdiameter sekitar 15 – 17,5 cm. 

Instrumen sendiri merupakan bagian penting dari sebuah ekosistem di dalam musik meski yang menjadi faktor utama nya adalah musisi, jika pun tidak ada musisi maka tidak bakalan tercipta peristiwa musikal.

Cara berpikir orang musik selalu memiliki ritme, teliti serta rigid atau ketat, sehingga sering sekali tercipta karya – karya indah yang tidak sembarang diciptakan. 

Terlebih jika di dalam sebuah pertunjukan musik tersebut dipersembahkan dengan kejujuran, dedikasi tinggi serta spontanitas dalam berekspresi akan dapat kita nikmati keindahan bunyi sumbangan dari semesta yang dikatakan Pythagoras.

Instrumen ini biasanya tidak dimainkan secara tunggal, namun dimainkan secara ansambel musik atau rombongan orang dalam satu kelompok musik. Dalam memainkannya sering digunakan setidaknya 5 – 7 buah Talempong.

Dan dari beberapa instrumen lain seperti Gandang, Serunai, dan Saluang untuk  Talempong sendiri punya andil sebagai instrumen pembawa melodi.

Ansambel perkusi Talempong ini biasanya mengiringi beberapa tarian yang cenderung antraktif bertempo cepat, ritmis dan dinamis. Salah satunya tarian yang diiringi oleh alat musik Talempong adalah Tari Piring. 

Pada mulanya tarian Piring ini bernama Piriang, sebuah kegiatan ritual tertentu yang diciptakan atas adanya syukur untuk para Dewa yang telah memberikan hasil panen yang teramat melimpah menurut kepercayaan masyarakat Minangkabau.

Seiring dengan kemajuan berfikir dan masuknya agama Islam, ritual yang dahulunya disajikan untuk para Dewa kemudian berkembang tarian tersebut digunakan sebagai sarana hiburan untuk masyarakat khalayak dan ditampilkan pada acara – acara keramaian.

Tarian Piring mempunyai gerakan yang cepat dengan membawa dua piring yang ada sasaji nya yang diletakkan pada kedua tangannya

Pada fungsi cara memainkan instrumen musik Talempong dibagi menjadi dua jenis. Keduanya disebut Talempong Pacik dan Talempong Renang dan satunya lagi disebut Talempong Duduak.

Kedua jenis gaya memainkaninstrumen ini tergolong dalam Talempong tradisi dengan nada pentatonik yang hanya menggunakan lima nada saja.

Tangga nada yang ada di pentatonis dibedakan oleh jarak antar nada juga pilihan nada yang didengar.

Selain itu dibagi menjadi nada pelog dan tangga nada slendro. Dua jenis nada pentatonis ini mempunyai nada yang berbeda pada masing – masing lima tangga.

Slendro menggunakan tangga nada do, re, mi, so, la. Sedangkan untuk tangga nada pelog memakai nada do, mi, fa, sol, si.

Sesuai dengan namanya Talempong Pacik dan Talempong Ranjang yang berarti dipegang. Jadi musisi yang berjumlah sekitar 3 hingga 5 orang memegang alat instrumen tersebut kemudian masing – masing mengikuti melodi ritme yang dibutuhkan sehingga membentuk keselarasan bunyi yang indah. 

Talempong Duduak dimainkan oleh penabuh dengan keadaan duduk bersila ataupun bersimpuh.

Talempong tersebut diletakkan pada tempat yang berbentuk persegi panjang seperti bonang yang kalau di daerah Minangkabau terkenal dengan nama rea (baca Melayu : Rehal).

Cara memainkan Talempong Duduak ini ternyata lebih sulit kita temui dan hanya ada di beberapa daerah wilayah budaya Minangkabau.

Tidak halnya dengan Talempong Pacik yang pada umumnya lebih dikenal oleh masyarakat khalayak karena banyak ditemui di tempat-tempat umum di Minangkabau.

Alat instrumen Talempong ini merupakan produk budaya kebanggaan masyarakat Minangkabau yang sampai sekarang mempunyai fungsi sebagai pengiring dari gerakan beberapa tarian tradisi serta juga untuk keperluan yang sifatnya upacara adat.

Untuk itu sebaiknya kita bersama menjaga tradisi kebanggaan yang dimiliki suku Minangkabau ini.