Connect with us

Hi, what are you looking for?

Mau Tahu Donk

Perbedaan Album Musik Fisik dan Digital

Perbedaan album musik fiisk dan digital sebenarnya jelas kok. Kita bisa melihatnya dari medium yang dipakai untuk mendengarkan musik.

Ilustrasi perbedaan album musik fisik dan digital

Generasi millenial kayak kamu mungkin lebih banyak mendengarkan album musik lewat aplikasi pemutar musik yang dipasang di smartphone kesayangan. Karenanya kalian pasti lebih hafal dengan album musik digitial ketimbang album musik fisik.

Emang dua-duanya beda? Lagian, emang apa sih perbedaan album musik fisik dan digital? Yap. Dua-duanya beda. Dan pastinya dua-duanya juga mewakili perbedaan dalam hal cara seseorang menikmati musik. 

Iklan

Dengan kata lain, perbedaan album fisik dan album digital sebetulnya terletak pada sarana dan alat yang digunakan untuk memutar musik favorit.

Orang-orang yang lahir sepanjang dekade 1980 atau 1990 sangat besar kemungkinannya menikmati ragam alat pemutar musik analog macam audio tape atau cd player. Dua-duanya diperlakukan sama: sebagai alat untuk menikmati hiburan dari kaset maupun cd.

Kalau kalian hidup di era walkman, pasti nggak asing dengan alat untuk memutar kaset. Bentuknya mini dan bisa dibawa kemana-mana. Gambarnya kayak gini:

ilustrasi Walkman. (Grafis: tmtimes.id)

Ouwh … kalian nggak tahu itu apa? Baiklah. Oke. Nggak masalah. Aku jelaskan.

Pertama-tama. Itu adalah pemutar musik yang disebut Walkman. Sejak teknologi kaset magnetis ditemukan pada 1963, orang-orang jatuh hati kepadanya karena fungsinya yang sanggup menyimpan rekaman suara. Selain itu kaset dianggap jauh lebih ringkas dan gampang dibawa kemana-mana.

Nah, teman buat bawa kaset kemana-mana itulah yang disebuat Walkman. Pada 1 Juli 1979, Sony Corp. memperkenalkan Walkman TPS-L2. Sejak itu sampai 2009, Walkman terjual sebanyak 200 juta unit di seluruh negara.

Kedua. Oke kita sudah mengenal Walkman dan kaset magnetis. Jadi kurang lebih kita tahu satu hal: album musik fisik itu ada wujudnya. Kalau Walkman pemutarnya, maka kaset magnetis itu wujud fisiknya. Musik memerlukan perantara fisik supaya ia bisa didengarkan secara khidmat sambil ber-headbanging.

Jadi kalau sebuah album musik berwujud fisik, tentu kita bisa mencium baunya. Kita bisa menggosok-gosoknya. Bahkan kita bisa menyimpannya sampai jamuran!

Oh ya, wujud album fisik sebetulnya nggak terbatas pada kaset. Masih ada bentuk lain, mmisalnya keping CD, DVD dan vinyl.

Lalu sekarang kita sering menikmati musik dengan cara memasang aplikasi macam begini di smartphone kita:

ilustrasi Spotify. (grafis: tmtimes.id)

Berani taruhan, generasi millenial kayak kalian tentu tahu itu apa. Yap … itu adalah ilustrasi Spotify. Lantas apa itu Spotify?

Ketiga. Anggap Spotify itu sebuah kaset yang walau nggak berwujud, tapi menyimpan database musik dalam jumlah yang super-duper-buanyaakkk. Jauh melebih rekaman musik yang bisa disimpan di dalam sebuah kaset magnetis.

Tapi namanya juga benda nggak berwujud. Kita sulit mencium baunya. Kita nggak bisa menggosok-gosoknya. Tapi kita juga nggak usah khawatir Spotify jadi jamuran seperti kaset koleksi kita yang udah nggak pernah diputar bertahun-tahun.

Baca Juga: Benarkah Kaset sudah Mati (Secara Bisnis)?

Keempat. Begitulah beda album musik fisik dan digital. Kalau album musik fisik punya wujud dan bisa diraba, maka album digital tidak. Dan kalau kamu lebih demen memutar musik lewat Spotify, Youtube Music, Joox, dan sebangsanya, maka dipastikan kamu sedang enjoy dengan musik digital.

Iklan

Artikel Menarik Lainnya

Iklan