Connect with us

Hi, what are you looking for?

iklan
ilustrasi pikiran positif
ilustrasi pikiran positif

Narasi

Kekuatan Pikiran Positif dan Kemunculan Depresi

Pikiran positif akan membuat hidup jadi lebih baik.

Sekitar dua minggu lalu, atasanku mengajak makan siang di sebuah restoran steak. Dia bercerita ini-itu, mengeluh sana-sini, tentang bagaimana tekanan presiden direktur di tempat kami berdua bekerja membuat dia stres berat. Sederhananya, kekuatan berpikir positif dalam dirinya sepertinya hampir hilang.

Singkat cerita, dia dianggap tidak bisa bekerja; nggak punya jiwa kepemimpinan; dan nggak punya naluri bisnis tinggi. Kalau mau ditambah pelik lagi, dia sudah hampir putus asa.

“Gue kaya’nya tinggal nunggu semua uneg-uneg di kepala meledak. Abis itu nggak tau dah,” katanya di sela-sela percakapan. Oh ya, omong-omong atasanku itu lebih muda dariku, seorang direktur yang punya kepercayaan diri tinggi, dan gaya bicaranya pun tanpa basa-basi.

Aku sendiri sebetulnya menyimpan kekaguman padanya. Usianya seumuran adik bungsuku – pertengahan 20-an – dan dia sudah menjadi seorang direktur sebuah perusahaan rintisan. Standar gajinya pasti tinggi – yah … setidaknya itu asumsiku, kan aku nggak tahu berapa sebenarnya gaji atasanku itu.

Tapi setelah mengeluarkan uneg-uneg tentang banyak hal, aku jadi berpikir benarkah orang di depanku sekarang ini bahagia dengan statusnya sebagai direktur sebuah perusahaan rintisan? Kemungkinan besar nggak.

Kekuatan pikiran positif di antara perilaku depresif

Jessica Bruder bercerita tentang betapa brutalnya kenyataan di balik usaha membangun sebuah perusahaan rintisan. Dengan kata lain, di balik nama-nama populer founder dan CEO perusahaan besar, ada harga psikologis yang mesti dibayar.

Omong-omong, bisakah kamu menyebutkan nama CEO perusahaan besar yang paling populer sekarang ini?

iklan

Bruder menceritakan semua itu dengan baik lewat ‘The Psychological Price of Entrepreneurship’. Narasi yang ditekankannya lewat tulisan itu ada pada status pengusaha muda sukses yang memperoleh status pahlawan dalam budaya kita.

Karena kita tidak tahu apa yang terjadi di balik nama-nama besar sebelum mereka berhasil membesarkan perusahaan rintisannya, seringkali muncul banyak cerita yang membuat bulu kuduk merinding.

“Namun sebelum menjadi besar, mereka berjuang melalui saat-saat kecemasan dan keputusasaan yang hampir melemahkan — saat-saat dimana semuanya terasa akan hancur,” tulis Bruder di Inc.com.

Hutang besar, resiko kegagalan yang tinggi, kehilangan pembeli/konsumen, perselisihan dengan partner/klien, kompetisi yang tinggi, sampai masalah staff internal perusahaan, jadi penyebab munculnya kecemasan dan keputusasaan.

Yah, kita semua sepertinya paham bahwa rasa putus asa dan kecemasan yang muncul terus menerus punya potensi memicu depresi. Dan yang paling parah, kadang memunculkan keinginan bunuh diri.

Dok. M. Hadid

Dalam kondisi seperti itu, kesulitan tidur sampai sering bengong menatap langit-langit kamar pada malam hari jadi rentetan kegiatan ganjil yang kemungkinan besar dilakukan para CEO yang mengalami depresi.

Tapi di zaman now, kita semua rasanya dijejali lebih banyak informasi tentang bagaimana cara membangun startup dengan baik dan benar. Kalau tidak percaya coba saja ketikkan kata kunci semisal “bahagia membangun startup” di laman pencarian Google.

Viola … algoritma Google bekerja membangun asumsi bahwa kamu bisa bahagia membesarkan startup bila kamu sudah melakukan cara-cara yang benar dan tertulis dalam panduan.

Tetapi apakah ketika sudah melakukan semua hal dengan benar, lantas kita akan merasa bahagia? Kalau kita tidak bahagia, bahkan ketika kita sudah melakukan segalanya dengan benar, mungkin teman dan orang terdekat kita akan menyarankan supaya tetap terus berpikir mengedepankan kekuatan pikiran positif dan sabar menghadapi tekanan yang memunculkan ketidakbahagiaan.

Bahagia mungkin tidak lekat dengan pikiran positif

Aku sebetulnya tidak tahu apakah atasanku mengalami depresi, atau apakah dia mengalami saat-saat kesulitan tidur. Tapi aku tahu bahwa dia tidak bahagia dan dia disarankan oleh temannya di kantor untuk bersabar menghadapi situasi tidak mengenakkan seperti yang diceritakannya kepadaku.

Tapi mungkin aku bisa mempelajari satu hal dari pengalamannya. Tidak selamanya gaji besar, menyandang status CEO/direktur, berkorelasi dengan kebahagiaan – atau setidaknya menjamin kebahagiaan dalam diri.

Rasanya aku punya resep untuk menerima diri kita apa adanya: bahwa kita adalah hamba yang bisa jadi sangat rapuh di depan siapa saja.

Karena itu ketika rapuh, jangan coba menyangkal, apalagi menutupi kerapuhan itu. Dan sembari melakukan itu, kita semua agaknya perlu bersikap pasrah juga.

Hidup ini bukan milik kita, kan?

Mas Hadid
Written By

Editor in chief di the Monkey Times. Menaruh minat luas pada perkembangan media digital dan arus wacana yang berkembang di sekitarnya. Bergabung dengan the Monkey Times sejak 2019.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya