Connect with us

Hi, what are you looking for?

Narasi

Gus Gayeng bersama Santrinya di Youtube

Berbekal ilmunya, Gus Baha menurut saya adalah sosok intelektual organik di bidang agama. Mengakar, sekaligus jauh dari menara gading.

ilustrasi seorang santri

the Monkey Times – “Dirimu suka Gus Baha, mas?” Tanya seorang teman di ujung Whatsapp. Saya menimpalinya dengan jawaban tegas “ya”.

Sering ikut pengajiannya juga?, teman saya tambah kepo. “Nggak pernah. Cuma sekali aku datang ke pengajiannya. Waktu masih di Jogja.”

Percakapan singkat di suatu siang itu seingat saya terjadi tiga bulan lalu. Sebetulnya percakapan virtual antara saya dan teman itu tidak khusus membahas Gus Baha.

Hanya saja ketika cakap-cakap antara kami berdua jadi liar dan kerap membahas hal-hal diluar konteks pembicaraan awal, nama Gus Baha muncul di sela-sela perbincangan kami berdua.

Saya menduga pertanyaan teman saya itu dilontarkan karena dia sempat melihat saya membagi video Gus Baha lewat status Whatsapp.

Tentang konteks lain dari pertanyaan teman diatas, saya ingat betul satu hal: saya memang cuma sekali datang ke pengajian dimana Gus Baha jadi pengisi materinya. Dan itu terjadi di Krapyak, Yogyakarta, persis ketika Haul KH. Ali Maksum ke 31 yang diselenggarakan sekitar bulan Januari 2020.

Di luar itu, saya cuma mendengar pengajian Gus Baha lewat Youtube. Awalnya bukan karena kesengajaan, melainkan karena dulu algoritma Youtube sempat secara acak merekomendasikan salah satu kanal yang banyak materinya berisi ceramah audio Gus Baha.

Lewat satu sesi video – yang saya lupa judulnya – di kanal tersebut, saya sempat ngakak penuh tekstasi ketika Gus Baha menceritakan kisahnya pergi haji, kemudian bertemu dengan orang desa yang melakukan wirid di depan Ka’bah sambil merapal “bah, ka’bah, mulai kecil aku sholat menghadap kamu, baru sekarang kesampaian bertemu”.

Kira-kira begitu cerita Gus Baha yang saya ingat, sebagaimana kanal tersebut menyampaikannya.

Saya sepenuhnya tertarik dengan cerita tersebut, pertama-tama, karena cara penyampaian Gus Baha yang terasa dekat dengan jamaahnya – dalam konteks saya mungkin lebih tepat disebut ‘audiens’-nya.

Dan kedua mungkin karena saya orang jawa, jadi mudah pula bagi saya mencerna materi ngaji Gus Baha yang kerap disampaikan dalam Bahasa Jawa.

Lalu ada Santri Gayeng

Sejak menemukan video-audio di kanal tersebut, saya pelan-pelan mulai mencari video ngaji Gus Baha yang lain. Berbagai varian kata kunci yang berkaitan dengan ngaji Gus Baha saya pakai. Hasilnya bejibun kanal yang saya temui.

Lalu saya menemukan kanal bernama Santri Gayeng. Kemudian menetapkan hati untuk terus mengikutinya. Sampai sekarang.

Seseorang yang tertarik dengan ngaji seorang ulama biasanya punya banyak alasan untuk mengungkap kecintaannya pada ulama yang dimaksud. Namun rasanya saya tidak perlu mengungkap alasan kenapa saya terus mengikuti ngaji Gus Baha yang rutin ditayangkan di kanal Youtube Santri Gayeng.

Meski begitu, rasa ketertarikan saya terhadap Gus Baha antara lain karena sang ulama mengantarkan saya untuk menyadari bahwa Islam itu mudah, dan karena itu bagi orang awam – seperti saya, Gus Baha memudahkan saya memahami kaidah dan narasi beragama – bahkan untuk soal yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Berkali-kali Gus Baha bercerita agama adalah soal periwayatan yang narasinya diturunkan dari satu generasi ulama ke generasi berikutnya. Lalu dengan penuh canda dan semangat kecintaan pada Allah, Gus Baha berkali-kali menceritakan narasi-riwayat untuk memperkuat kaidah: bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Di lain waktu, sering pula Gus Baha menceritakan kepada muridnya persoalan sehari-hari dan bagaimana memecahkannya dengan berkiblat pada agama.

Pernah juga dalam satu kesempatan Gus Baha bercerita tentang keputusannya menjadi ulama ‘urakan’, dimana dengan begitu dia bisa lebih akrab dengan orang-orang biasa di sekitarnya, dan mereka tidak sungkan bertanya masalah agama kepadanya.

Bagi saya, di titik itu Gus Baha genap sebagai intelektual. Ulama macam Gus Baha jadi contoh kontemporer tentang seorang guru yang sepenuhnya mengabdikan diri pada (pengajaran) agama, mencintai ilmu yang diturunkan ulama generasi sebelumnya, dan yang paling penting: mencintai umat dan muridnya.

Berbekal ilmunya, Gus Baha menurut saya adalah sosok intelektual organik di bidang agama. Mengakar, sekaligus jauh dari menara gading.

Artikel Menarik Lainnya

Narasi

Tapi bukan berarti smartwatch tidak ada gunanya sama sekali.

Narasi

Sama seperti membuat video, menulis pun punya tantangan tersendiri. Dua-duanya sama-sama mengasyikkan, bila dikelola dengan baik.

Narasi

Apakah kegiatan blogging masih relevan hari ini? Memangnya tidak ada kegiatan lain.

Narasi

Radio lahir di masa penjajahan. Dan kelahirannya patut dirayakan sebagai Hari Radio Nasional.

Narasi

Konon katanya kaset sudah mati. Tapi data penjualan kaset di Amerika Serikat menunjukkan sebaliknya.

Narasi

Asyik nggak sih jadi anak agensi?

Narasi

Ada banyak kenangan tentang persewaan komik di Jogja, yang kini sudah sangat jarang ditemui.

Narasi

Kisahku dengan buku bukan dimulai dengan cinta yang menyeluruh.