Connect with us

Hi, what are you looking for?

Mozaik

Betapa Berharganya Nilai Merek: Google vs Apple

Bagaimana duo raksasa, Google dan Apple, berperang di jagat ekonomi digital?

Ilustrasi Google vs Apple. Foto: Tsahi Levent-Levi

Forbes merilis sebuah laman berisi daftar merek 2019 paling top di seluruh negara, yang memicu saya berpikir tentang betapa berharganya nilai merek. Kamu mungkin sudah bisa menebak bahwa dua raksasa: Apple dan Google, masuk dalam daftar tersebut.

Berdasarkan data Forbes, nilai merek Apple mencapai $205.5. Sementara Google mencatat nilai sebesar $167,7. Angka-angka sebesar itu pada dasarnya ingin menunjukkan valuasi kedua merek di pasar industri teknologi. Sederhananya, popularitas dan eksklusifitas sebuah merek diukur berdasarkan nilainya secara keseluruhan.

Dalam penghitungan nilai merek ada banyak variabel yang mesti diperhitungkan. Tapi saya takkan membahasnya disini.

Sekarang … saya sedang berpikir menggunakan kata “perang” dalam persaingan antara Google vs Apple. Mungkin terasa lebay, tapi tak ada yang salah dengannya.

Kita hidup di era dimana smartphone ultra-modern menawarkan banyak sekali hal untuk menunjang hidup kita yang semakin terdigitalisasi.

Sebagai seorang yang butuh hiburan, kamu demen sekali menghabiskan dua jam dalam sehari untuk menikmati konten video di Youtube, sembari bersungut-sungut atau tertawa terbahak-bahak ketika menonton channel Majelis Lucu Indonesia, misalnya – saya pun demikian dan tidak ada masalah.

Atau ketika Youtube tak cukup, kamu memilih membayar sekian ratus ribu rupiah dalam sebulan, kepada Netflix, untuk menikmati serial favorit.

Jadi pangkal dari diksi “perang” yang saya ajukan disini ingin menyoroti persaingan raksasa tech dalam medan pengembangan teknologi untuk memenuhi kebutuhan orang-per-orang, entah itu sekadar menikmati konten, mencari apps untuk mengelola produktivitas, maupun sekadar mencari jodoh lewat aplikasi kencan.

Dan di dalam semesta tech yang salah satu wujudnya termanifestasi lewat gawai yang kita pakai, selalu ada cerita menarik tentang bagaimana merek berperang untuk merebut pasar dari pesaing.

Betapa Berharganya nilai merek bagi raksasa tech

Satu contoh, misalnya, bisa kita lihat dari persaingan antara Apple dan Google di medan mobile.

Baik Apple maupun Google melewati sejarah panjang “pertikaian” bisnis. Google Voice, misalnya, sempat sulit masuk ke dalam App Store milik Apple. Imbasnya aplikasi tersebut sempat tidak bisa dipasang di perangkat Apple seperti iPhone, iPad, dan seterusnya.

Apple tentu saja tak ingin Siri (asisten suara yang eksklusif terpasang di perangkat gawai bikinan Apple) tersaingi oleh Google Voice yang notabene produk pesaing bukan?

Tapi sama seperti penjual dua pengusaha rental mobil yang dipisahkan jarak 100 meter diantara keduanya, perang antara Google dan Apple bukan cuma soal Google Voice. Persaingan keduanya meluas di ranah hardware maupun software.

Di bidang hardware, Google sempat punya Nexus yang sekarang berganti nama menjadi Pixel. Lini ponsel Pixel diletakkan berhadapan langsung dengan iPhone; di bidang Mobile OS, iOS dan Android saling bersaing keras membuat ekosistem mobile yang nyaman digunakan.

Daftar persaingan antara Google dan Apple semakin panjang bila kita menghitung bidang Cloud Computing. Google punya Google Docs, Gmail, serta Google Calendar. Sementara Apple mengusung MobileMe.

Ketika berbicara tentang hiburan, Google menyewakan film untuk pengguna Android. Di seberang Apple sudah melakukannya lebih dulu lewat iTunes store.

Belum lagi bila kita berbicara iPhoto dan Google Photos yang sama-sama menyediakan solusi manis untuk koleksi foto yang tersimpan di dalam gawai kita.

Lantas apa sih arti itu semua bagi kita? Sederhana sebetulnya: perang Google dan Apple justru terlihat dari produk-produk itu.

Kamu tak puas dengan iPhone dan mendambakan ekosistem mobile yang lebih terbuka dan populer, Google menyediakannya lewat Pixel.

Kamu tak puas dengan ekosistem Cloud Computing ala Google, Apple menyediakan solusi lain lewat MobileMe.

Perang antar para raja digital membuat konsumen lebih punya banyak pilihan.

Di balik itu, merek-merek raksasa terus bekerja keras agar produk mereka tidak ditinggalkan pelanggan.

Tapi Google masih raja mesin pencari

Persaingan Google dan Apple di bidang hardware dan software belum apa-apa bila kita melihat betapa digdayanya Google di bidang mesin pencari.

Berdasarkan data Smart Insight, mesin pencari Google menguasai pasar dengan porsi market share sebesar 74,54% pada 2017.

Dengan pangsa pasar yang besar, Google mendominasi pencarian lewat perangkat mobile di angka 90%.

Pun sama dominannya ketika kita berbicara kemampuan mesin pencari Google, dimana mereka menjawab 3,5 miliar pencarian pengguna internet setiap hari.

Angka tersebut bakal berarti banyak ketika diambil rata-rata setiap tahunnya, dimana pengguna internet melakukan 1,2 triliun pencarian per tahun!

Apple bukannya tidak menyadari dominasi Google di medan mesin pencari. Perusahaan yang bermarkas di California, Amerika Serikat, itu mengembangkan Spotlight Search untuk perangkat iOS dan MacOS.

Seandainya Spotlight Search akhirnya diintegrasikan ke dalam Safari (peramban bawaan perangkat Apple), lengkaplah dugaan bahwa Apple bermaksud menantang mesin pencari Google di masa depan.

Perang yang sungguh tak sederhana

Namun perang antar perusahaan tech tak sesederhana memilih apps yang paling sesuai untuk kebutuhan kita. Di era kiwari, persoalan perang head-to-head antara Apple dan Google bukan cuma soal apps mana melawan apps seperti apa.

Lebih dari itu ini adalah soal rancang-bangun ekosistem produk berbasis web mobile diantara keduanya. Jadi kita berbicara soal masa depan mesin pencari berbasis mobile.

Dan ya … ketika semakin banyak pengguna tergantung pada smartphone mereka ketika mencari informasi melalui peramban yang terpasang secara default di dalam gawai, hampir bisa dipastikan “perang” tak bisa lepas dari dua jenis apps: Safari dan Google Chrome.

Normalnya, pengguna iPhone punya kebebasan memasang peramban tambahan, entah itu Chrome maupun Firefox. Namun apakah pengguna akan menggunakan peramban tersebut?

Tidak juga. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pengguna iPhone secara alamiah tetap akan memilih Safari sebab peramban satu ini sudah terpasang secara default di perangkat tersebut.

Merebut porsi dengan semestinya

Gambaran tentang pengguna Chrome dan Safari di ranah mobile dicatat dengan baik oleh Statcounter. Di Indonesia, misalnya, data Juli 2018 – Juli 2019 memperlihatkan dominasi signifikan Chrome atas Safari di ranah peramban mobile. Chrome menguasai pasar di angka 69,7%, sementara Safari menguasai 4,55%.

Secara global, dalam rentang waktu dan variabel yang sama, Chrome juga mendominasi market share peramban mobile, dengan market share sebesar 59,66%. Sementara Safari menguasai 20,06%.

Meski terlihat sangat kuat secara global, Chrome justru melempem di Amerika Serikat. Di negara Paman Sam itu Safari mendominasi market share mobile search dengan angka 55,31%. Sedikit jauh diatas Chrome yang memperoleh angka 35,96%.

Secara gamblang kita diperlihatkan betapa dominannya Safari di pasar Amerika Serikat, yang berarti fungsi pencarian mobile web di Safari, Siri, dan Spotlight sepenuhnya dikontrol oleh Apple.

Jadi pada dasarnya meski Chrome mendominasi keseluruhan pencarian mobile dan pasar mesin pencari secara global, Apple justru menciptakan porsi tersendiri untuk bersaing dengan Google di pasar yang sangat masif.

Apple mungkin belum bisa memenangkan perang dengan Google di bidang mesin pencari, tapi paling tidak mereka berhasil membuktikan eksklusifitas lingkungan iPhone sebagai gawai yang dibebaskan dari dominasi total Google dan produk-produknya.

Apa yang dilakukan oleh Apple menunjukkan kepada kita betapa berharganya nilai merek bagi sebuah perusahaan yang selalu getol mengedepankan eksklusifitas mereka yang tampak kompleks itu.

Sumber Featured Image: Tsahi Levent-Levi

Baca juga:

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya