Penulis: Dina Meidiana

Menteri Agama Pertama Republik Indonesia: H.M Rasjidi

Sebagai menteri agama pertama tidak dapat dipungkiri bahwa H. M Rasjidi memiliki peranan penting terhadap kemerdekaan Indonesia. 

the Monkey Times Muhammad Rasjidi adalah tokoh Muhammadiyah yang menjabat menjadi Menteri Agama pertama di Indonesia. Ia menjadi menteri agama setelah ditunjuk langsung oleh Soekarno. Sebagai menteri agama pertama tidak dapat dipungkiri bahwa H. M Rasjidi memiliki peranan penting terhadap kemerdekaan Indonesia. 

Biografi Singkat H. M Rasjidi 

Lahir di Kotagede, Yogyakarta pada tanggal 20 Mei 1915, Rasjidi dikenal sebagai sosok ulama, ilmuwan, diplomat dan seorang penulis yang telah melahirkan segudang karya. Semasa kecil, Rasjidi menghabiskan waktu di kota kelahirannya. Beliau bersekolah di Ongko Loro, yaitu institusi pendidikan setara dengan sekolah dasar hanya saja menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar. 

Rasjidi, kala itu ditarik ke Sekolah Rendah milik Muhammadiyah di Kotagede. Kemudian ia sempat masuk juga di Sekolah Guru atau dikenal Kweekschool Muhammadiyah hingga kelas 3 saja. Lalu, beliau pindah ke Perguruan Al-Irsyad Al-Islamiyah yang berada di Lawang, Jawa Timur. Perguruan tersebut diasuh oleh Syaikh Ahmad Surkati. 

Dimana beliau adalah tokoh pembaharuan Islam yang berasal dari Sudan. Syaikh Surkati dikenal dekat dengan beberapa tokoh besar Indonesia, selain Rasjidi yang notabenenya adalah muridnya sendiri. Seperti KH Mas Mansur, H Agus Salim, Hos Cokroaminoto hingga Soekarno. 

Kembali ke masa pendidikan Rasjidi di Al-Irsyad hingga selesai. Setelah lulus, beliau mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir. Rasjidi masuk ke Darul ‘Ulum dan ikt dalam ujian persamaan Sekolah Menengah Umum. Ia menyelesaikan kedua kegiatan pendidikan ini pada tahun 1934. 

Setelah itu, Rasjidi melanjutkan ke jenjang lebih tinggi di Universitas Kairo dan menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra jurusan Filsafat. Kemudian lulus pada tahun 1934. Melihat perjalanan pendidikan yang sangat luas ini, Cak Nun dalam buku 70 Tahun Rasjidi pun menyatakan bahwa menteri agama tersebut memiliki gambaran intelektual yang sangat besar. 

Hal ini tidak lepas dari prestasi Rasjidi menjadi orang pertama di Indonesia yang memperoleh gelar Doktor (Ph.D) di Ilmu Keislaman Universitas Sorbonne pada tahun 1956 yang mana dalam disertasinya mengenai Serat Tjentini. 

Prestasinya tidak berhenti disitu saja, di tahun 1958 hingga 1963, Rasjidi diangkat menjadi Associate Professor di Universitas McGill yang terletak di Montreal, Kanada. Akhir jabatannya di negara orang pun diakhiri sebagai Wakil Direktur Islamic Center yang berada di Washington DC. 

Diangkat Menjadi Menteri Agama Pertama 

Pengangkatan Rasjidi sebagai menteri agama sangatlah berkesan. Hal ini sendiri terjadi pada tahun 1946 ketika Indonesia masih dalam tahap revolusi kemerdekaan. Dimana beliau pun tidak tahu menahu akan penunjukannya sebagai menteri agama. Rasjidi mengetahui namanya menjadi jajaran menteri ketika ia membaca koran Merdeka yang dibeli oleh sang pembantu. 

Dalam koran tersebut terdapat pengumuman pembentukan kabinet dan terdapat nama H. Rasjidi. Beliau mengira bahwa itu adalah orang lain yang mempunyai nama yang sama dengannya. Karena Rasjidi pun kala itu tidak dihubungi oleh siapapun untuk menduduki posisi dalam kabinet. 

Ternyata yang membaca koran Merdeka tidak hanya dirinya, tapi juga orang–orang yang berada di kampungnya. Karena memang di Kotagede, namanya dikenal sebagai Haji Rasjidi. Mereka pun mengirimkan kawat dan bertanya apakah yang disebutkan dalam koran tersebut benar atau tidak. 

Ternyata tidak berselang lama, datang orang yang merupakan utusan dari kabinet ke rumahnya yang kala itu ada di jalan Kebon Kacang Jakarta. Dimana mereka diperintahkan menjemput Rasjidi dan menghadiri sidang kabinet yang berada di Jalan Jawa, di rumah Perdana Menteri Sutan Sjahrir. 

Dalam Penetapan Pemerintah tahun 1946 Nomor 1/SD tertanggal 3 Januari 1946, H.M Rasjidi tercatat menjabat sebagai Menteri Agama RI yang pertama dalam Kabinet Sjahrir I dan II, 1946. Kemudian ia berhenti menjabat pada 2 Oktober 1946. 

Misi Diplomasi Untuk Pengakuan Kedaulatan 

Peran Muhammadiyah terhadap karir menteri Rasjidi sangatlah besar. Hal ini bermula ketika Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Dimana kedaulatan harus diakui oleh negara lain. Mendapatkan pengakuan kedaulatan sangatlah penting kala itu agar Indonesia diakui merdeka. 

Dengan adanya kebutuhan tersebut, maka berangkatlah tiga tokoh dari Muhammadiyah yaitu Haji Agus Salim yang menjadi ketua, A.R Baswedan dan H. M Rasjidi sebagai delegasi pemerintah untuk ke negara-negara Timur Tengah. Selain 3 tokoh tersebut ada Nazir St. Simanjuntak dan Abdul Kadir sebagai anggota. 

Di jurnal Diplomasi RI di Mesir dan Negara-Negara Arab pada Tahun 1947 (2007), Suranta Abdurrahman menyebutkan bahwa misi diplomatik yang berjalan mulai dari bulan April hingga Juli 1947 tersebut berhasil. Karena Mesir, Lebanon, Suriah, Yaman dan Arab Saudi memberikan dukungan. 

Setelah berhasil menjalankan diplomasi, Bung Hatta menunjuk Rasjidi untuk mengambil alih kedutaan serta konsulat Belanda di Jeddah dan Mekkah setelah KMB (Konferensi Meja Bundar) 1949. Tidak hanya itu saja, berhasil mengambil alih, Rasjidi pun kemudian ditugaskan menjadi Duta Besar RI untuk Arab Saudi dan Mesir di tahun 1950-1951. 

Bahkan tugas selanjutnya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran diserahkan kepada beliau pada tahun 1952 hingga 1954. Posisi Duta Besar RI yang dijabatnya adalah di Pakistan pada 1956-1958.

Kisah dari Menteri Agama Pertama RI, H.M Rasjidi mungkin memang singkat saat menjabat. Tapi, perjuangannya bersama rakyat Indonesia untuk merdeka sangatlah besar. Bahkan hingga akhir hayatnya, Rasjidi selalu memberikan sumbangsih kepada Indonesia dan selalu menulis berbagai macam buku.