Penulis: Dina Meidiana

Mengenal Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

Kelahiran Nabi Agung selalu dirayakan umat muslim dengan penuh kegembiraan.

the Monkey Times – Maulid Nabi adalah hari yang dirayakan oleh seluruh umat muslim di dunia. Di Indonesia terdapat tradisi yang dilakukan untuk menyambut Maulid Nabi, semisalnya adalah Barzanji, pengajian hingga pembacaan shalawat dengan kelompok Qasidah atau Hadroh.

Sebagai umat Islam, maka penting sekali mengetahui sejarah Maulid Nabi beserta dengan artinya. Mari simak penjelasannya di bawah ini, ya.

Arti Maulid Nabi serta Maknanya 

Arti Maulid Nabi adalah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kata maulid yang disebutkan mempunyai arti lahir.

Sehingga setiap tanggal 12 Rabiul Awal yang merupakan hari kelahiran Rasulullah, umat muslim pasti akan merayakan Maulid Nabi dengan mengucapkan shalawat. 

Adapun makna dari perayaan Maulid Nabi untuk umat muslim, di mana hal ini tidak lepas dari rasa cinta kepada Rasulullah SAW.

Terlebih, hari kelahiran Rasulullah SAW adalah berkah bagi seluruh dunia. Maka, di hari tersebut sudah selayaknya diadakan peringatan. 

Selain itu Maulid Nabi juga diharapkan bisa menjadi pengingat untuk umat muslim akan perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Islam hingga seperti sekarang.

Tidak hanya itu saja, dengan memperingati Maulid Nabi, umat muslim juga diajak untuk terus mengumandangkan shalawat yang juga masuk di dalam Firman Allah SWT. 

Sejarah Maulid Nabi 

Dari arti serta maknanya, kamu pasti penasaran sejak kapan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dilakukan.

Menurut buku dari penulis AM Waskito, peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW sudah ada ribuan tahun lalu.

Bahkan ketika masa pemerintahan khalifah Umar Bin Khattab di tahun 639 M atau 22/23 Hijriyah. Pada saat itu, Sang Khalifah ingin menetapkan Hijriyah menjadi penggalan resmi di pemerintahan Islam. 

Dalam bukunya yang berjudul Pro dan Kontra Maulid Nabi, AM Waskito menyatakan ada tiga teori tentang sejarah perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW ini. Berikut ini adalah teorinya: 

Dinasti Ubaid 

Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan pertama ketika zaman dari Dinasti Ubaid yang berkuasa sekitar 363 hingga 567 M atau pada abad ke 4 sampai ke 6 Hijriyah di Mesir. Pada masa itu perayaan dilakukan oleh umat muslim beraliran dari Syiah Ismailiyah.

Peringatan ini dilakukan pada masa Abu Tamim yang bergelar Al-Mu’izz Li Dinillah. Waktu itu tidak hanya perayaan Maulid Nabi saja, tapi juga perayaan Asyura. Pada zaman ini, perayaan Maulid Nabi juga tidak seperti sekarang, hanya ada satu jenis perayaan saja.

Kalangan Ahlus Sunnah 

Teori yang kedua adalah Maulid Nabi ini pertama kali berasal dari Ahlus Sunnah. Pada masa kepemimpinan Sultan Abu Said Muzaffar Kaukabari bin Zainuddin bin Baktari lah diperkirakan perayaan Maulid Nabi dimulai.

Sultan Muzhaffar dikenal sebagai pemimpin yang dermawan. Ia adalah orang yang membangun masjid di lereng Gunung Qasiyun dan diberi nama Al-Jami Al-Muzhaffar. 

Ada cerita yang mengatakan bahwa Sultan Muzhaffar pada saat Maulid Nabi mengundang para tamu seperti ahli tasawuf serta rakyatnya.

Seluruh orang yang datang pun dijamu olehnya dengan berbagai hidangan makanan lezat, memberikan sejumlah hadiah serta bersedekah untuk para fakir miskin. 

Dinasti Ayyub 

Teori terakhir dari perayaan Maulid Nabi adalah ketika Sultan Shalalahudin Al-Ayubbi berkuasa di tahun 567 hingg 622 Hijriyah.

Sultan Shalalahudin merupakan penguasa di zaman Dinasti Ayyub. Saat itu, kekuasannya dimulai di Mesir dan di bawah otoritas dari zaman Dinasti Zanki serta Daulah Abbasiyah.

Ketika Sultan Shalalahudin berkuasa, pengaruh dari Syiah Rafidhah sangatlah kuat. Pengaruh ini datang dari Dinasti Ubaidiyah.

Diketahui bahwa masa kekuasaan dinasti tersebut berjalan di Mesir sekitar 280 tahun lamanya. Maka, tidak heran bila tradisi dari Syiah ini masih melekat dengan erat di kehidupan masyarakat Mesir. 

Dinasti Ubaidiyah dikenal membangun kekuasaan secara kultural. Terbukti dengan berdirinya Al-Azhar yang merupakan pusat kaderisasi yang diisi oleh para dai dengan aliran Syiah Rafidhah.

Kala itu, para dai ini disebarkan ke seluruh wilayah di Mesir. Bahkan, dai dari Al-Azhar ini selalu berusaha untuk membangun simpati dengan mengadakan berbagai macam perayaan yang berhubungan dengan Islam, salah satunya Maulid Nabi. 

Maka, pada saat Sultan Shalahuddin berkuasa, ia tidak menghapus seluruh budaya Syiah yang sudah ada ratusan tahun.

Ia sangat menyadari bahwa peradaban dari bangsa Syiah sudah mengakar dalam kehidupan rakyatnya, sehingga sudah pasti akan sulit untuk menghilangkan seluruhnya. 

Sultan Shalahuddin pun melakukan banyak perubahan dengan perlahan. Pertama-tama adalah mengubah kurikulum Syiah yang diajarkan, dimulai dari pengubahan simbol, ulama serta buka Syiah dengan menggunakan versi dari Ahlus Sunnah. Pada saat itu, Sultan Salahudin mengadakan acara Maulid Nabi secara massal. 

Hal ini sempat menimbulkan banyak protes dari para ulama yang menganggap bahwa kegiatan ini menyalahi aturan yang ada di agama Islam atau Bid’ah.

Alasannya yang diberikan oleh ulama adalah pada masa Nabi Muhammad SAW tidak ada perayaan seperti ini. Waktu itu, Sultan Shalalahudin menjawab bahwa Maulid Nabi bukanlah ritual, tapi sebagai acara yang memperluas syiar Islam. 

Pertama kali perayaan Maulid Nabi diadakan oleh Sultan Salahuddin adalah tahun 580 H atau pada 1184 M. Kala itu ia mengadakan berbagai sayembara untuk menuliskan riwayat Nabi Muhammad SAW dan disertai dengan puji-pujian. 

Penulisannya pun harus seindah mungkin. Para ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi ini. Pemenang dari kompetisi tersebut adalah Syekh Ja’far Al-Barzanji yang hingga sekarang karyanya masih menjadi bacaan wajib di saat acara Maulid Nabi. 

Demikianlah sejarah Maulid Nabi yang ternyata sudah terjadi semenjak ribuan tahun lalu. Walaupun masih ada pro dan kontra akan acara perayaan ini, tapi setidaknya yang dijalankan adalah memiliki tujuan baik salah satunya adalah dengan berbagi sedekah ke fakir miskin.