30 Hari Berlatih Menahan Diri dengan Puasa

Puasa adalah salah satu metode untuk menguasai nafsu.


Ilustrasi berpuasa

Oleh: Mas Hadid

Diterbitkan:

the Monkey Times – Syahdan, teman sekantor saya bercerita tentang bos kita berdua yang sempat “ngamuk-ngamuk” karena salah satu anak buahnya nggak becus bekerja. Dan itu terjadi di bulan Ramadhan tahun lalu, di sebuah malam ketika orang-orang seharusnya menahan diri dengan puasa.

Lebih jelasnya begini: bos saya itu ngamuk-ngamuk selepas waktu berbuka. Jadi karena di kantor ada satu anak buahnya yang tidak becus bekerja; menelantarkan pesanan konten dari klien.

Berhubung saya bekerja di agensi marketing, posisi klien jadi penting. Tidak mengerjakan tugas yang berhubungan dengan pesanan klien pun jadi sebuah “dosa” besar yang fatal akibatnya.

Tentu saja bagi sebagian besar dari kita, siang hari di bulan Ramadhan adalah waktu suci. Di waktu itulah kaum muslim menahan diri untuk tidak makan, minum, merokok, atau bersenggama (bagi yang sudah beristri) sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Menahan diri dengan puasa: perintah yang turun pada 2 Hijriah

Tahun ke-2 Hijriah jadi penanda waktu turunnya perintah puasa di bulan Ramadhan; dan perintah puasa tak bisa dilepaskan dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Kelak dalam sejarah dicatat: puasa adalah ritual yang sudah dilakukan oleh banyak golongan, jauh sebelum masyarakat muslim lahir. Contoh paling gamblang bisa kita lacak pada puasa ‘Âsyurâ.

Dulu, puasa ‘Âsyurâ biasanya dilakukan orang-orang Yahudi dan Arab (Quraisy) pada 10 Muharram. Jauh sebelum kedatangan Nabi Muhammad ke Madinah, orang-orang Yahudi dan penganut Hanîf, termasuk Nabi Muhammad sendiri, sudah melakukan ritual puasa ‘Âsyurâ.

Baru setelah perintah puasa turun di tahun yang saya sebut, melalui suratul Al-Baqarah ayat 183, umat Islam mulai menjalankan ibadah puasa sebagaimana kita memahami praktiknya seperti sekarang ini: menahan makan-minum dan nafsu sampai waktu berbuka tiba.

Lalu setelah berbuka kita ngapain?

Mungkin kebanyakan dari kita memilih membebaskan nafsu ketika matahari terbenam di bulan Ramadhan. Seperti bos yang saya ceritakan di atas misalnya, yang marah-marah ke anak buah – teman sekantor saya – selepas berbuka.

Nafsu marah-marah yang kaya’-nya dia pendam di siang hari langsung dimuntahkan malam harinya, membuat suasana kantor jadi tegang.

Saya katakan “mungkin”, sebab bisa jadi ada banyak orang yang sudah ngelakoni puasa lebih dari sekadar menahan makan minum dan nafsu di pagi, siang dan sore hari. Orang-orang seperti itu yang membuat saya iri dan ingin mencapai hal yang sama dengan mereka.

Baca Juga:  Awal Mula Uang: Penggerak Dunia dan Benda dengan Dua Wajah

Selamat berpuasa. Selamat datang ramadhan, bulan suci yang dirindukan. Semoga kita semua mampu menahan diri dengan puasa, dan kemudian menjadi hamba yang pasrah dan selalu berserah diri kepada-Nya.

Atau baca artikel lain yang ditulis: Mas Hadid

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru