Melantai di Bursa, Saham Bukalapak Melejit 24,7%

Beberapa hari lalu saham Bukalapak mulai diperdagangkan di bursa saham. Nilainya langsung melejit.


ilustrasi saham bukalapak

Ilustrasi investasi saham. (tmtimes.id)


Oleh: Ika Umi Hayati

Diterbitkan:

the Monkey Times – Saham PT Bukalapak.com Tbk atau Bukalapak sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat 06 Agustus 2021.

Ini merupakan hari bersejarah bagi pasar modal Indonesia, sebab raihan dana penawaran umum saham perdana (IPO/Initial Public Offering) Bukalapak tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah BEI yaitu mencapai Rp. 22 triliun.  

Jumlah saham BUKA yang tercatat dalam data resmi BEI terdiri dari saham pendiri sebesar 77.296.514.554 dan saham penawaran umum 25.765.504.800 sehingga totalnya 103.062.019.354 saham.

Dengan angka tersebut, tentu perusahaan teknologi unicorn ini menjadi yang pertama mencatat saham di Bursa Efek Indonesia.

Saat pembukaan, harga saham perdana Bukalapak pada IPO adalah Rp. 850 per lembar dan sempat menyentuh batas atas auto rejection (ARA) dengan harga Rp. 1.060 per lembar saham.

Artinya saham Bukalapak naik sebanyak 24,71 tidak setelah melantai di BEI.

Bukalapak Masih rugi, Tapi Kenapa Banyak Investor yang Berminat?

Pada triwulan I 2021, Bukalapak tercatat masih membukukan rugi tahun berjalan Rp. 323,805.

Meskipun begitu, dibandingkan periode lalu kerugian tersebut turun sebanyak Rp. 69,69 miliar dari total kerugian Rp. 393,49 miliar.

Menurut beberapa pengamat ekonomi, melesatnya saham milik Bukalapak sampai 24,71% dikarenakan ada euforia yang berlebihan sebab para investor retail menilai perusahaan teknologi unicorn ini memiliki valuasi yang besar, walau belum menghasilkan profit.

Selain euforia, faktor lain yang menyebabkan saham milik Bukalapak diminati banyak investor adalah karena banyaknya investor kelas atas dan menengah yang sedang mencari-cari kesempatan menaikkan aset di masa pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi.

Tidak bisa disangkal, saat ini memang ada banyak sektor usaha yang terus mengalami penurunan akibat PPKM yang tak berkesudahan.

Ini adalah spekulatif di saat ekonomi tertekan, fenomena psikologis pasar yang menaruh minat terhadap saham yang melesat dengan cepat.  

Sebelumnya, kejadian yang sama pernah terjadi pada tahun 1998, ketika asia mengalami krisis besar.

Saat itu muncul saham sebuah startup meledak menjadi dotcom bubble tidak lama setelah melantai di bursa saham.

Investor hanya melihat sentimen jangka pendek dan tidak melakukan analisis lebih dalam, mereka hanya ingin mencari untung dengan cepat saja. 

Seharusnya para investor ini dapat melihat riwayat dari Bukalapak, apakah benar-benar prospek atau tidak, jadi bukan hanya ikut hanyut dalam euforia tersebut.

Baca Juga:  Guguran Awan Panas Gunung Merapi mencapai 1,5 Kilometer

Perusahaan teknologi unicorn ini tercatat di BEI dengan kode emiten BUKA dan telah menghimpun dana sekitar Rp. 21,9 triliun di IPO. Saham bukalapak harga perlembar semula Rp. 850 kini menjadi Rp. 1.060.

List Investor Bukalapak  

Ada sebanyak 22 pemegang saham Bukalapak dalam IPO berkomitmen tidak mengalihkan atau menjual 90 persen saham perusahaan setelah mendapat pernyataan dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Salah satunya adalah Muhammad Fajrin Rasyid, founder Bukalapak yang memegang saham sebesar 2,45 miliar, dilanjutkan dengan Sutanto Hartono, Wakil Direktur Utama PT Elang Mahkota Teknologi TBK Susanto dan Pandu Patria Sjahrir, Komisaris BEI yang sama-sama memegang saham sebanyak 13,37 juta.

Sementara itu terdapat 32 pemegang saham lainnya yang terdiri dari 204 pemegang saham perorangan adalah karyawan atau mantan karyawan Bukalapak. Mereka wajib melock up kepemilikan sesuai dengan POJK. Berikut ini nama-nama pemegang saham tersebut:

  1. Achmad Zaky Syaifudin
  2. Microsoft Corporation
  3. Archipelago Investment Pte. Ltd.
  4. PT Kreatif Media Karya
  5. Naver Corporation
  6. Standard Chartered UK Holdings Limited
  7. UBS AG, London Branch
  8. Peter Teng He Xu
  9. Star AA Ventures Limited
  10. Mirae Asset-Naver Asia Growth Investment Pte Ltd
  11. PT Mandiri Capital Indonesia
  12. PT BRI Ventura Investama
  13. Seungkook Lee
  14. Jaeyoon Doh
  15. Sungjin Kim
  16. DKI Growing Stad Fund II
  17. KRUN No. 1 Start-Up Investment Fund
  18. Bon Angels Pacemaker Fund
  19. Genting Ventures VCC
  20. Rionardo
  21. Natalia Firmansyah
  22. Willix Halim
  23. Teddy Nuryanto Oetomo
  24. Muhammad Rachmat Kaimuddin
  25. Phiong Tadhan Immanuel Yapi
  26. 500 Kimchi, LP
  27. Pemegang saham lainnya yang terdiri dari perorangan yang merupakan karyawan dan mantan karyawan Bukalapak.

Apa Rencana Selanjutnya dari Bukalapak?

Direktur Utama Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengatakan dana yang didapat dari investor akan digunakan untuk modal kerja perseroan atau entitas anak.

Rencana ini dilakukan untuk mengejar misi menciptakan keadilan ekonomi untuk semua. Bagaimana caranya? Yaitu dengan terus mengembangkan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah).

Melalui pemberdayaan UMKM ini, diharapkan para pelakunya dapat berjualan lebih banyak dan berhasil memajukan bisnisnya.

Bukalapak juga akan menambahkan fokus pada platform e-commerce dan para mitranya dengan harapan ini dapat meningkatkan jumlah pembeli secara konsisten.

BUKA merupakan perusahaan tercatat ke-28 di bursa efek Indonesia pada tahun 2021. Adapun jumlah seluruh nilai IPO saham itu telah menyentuh rp. 21,9 triliun.

Bagaimana dengan Anda? Apakah tertarik membeli saham Bukalapak setelah mendengar kabar ini?

Atau baca artikel lain yang ditulis: Ika Umi Hayati

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru