Kami mungkin menerima komisi untuk setiap pembelian yang dilakukan lewat tautan afiliasi yang termuat di beberapa jenis konten yang diterbitkan pada topik/kategori tertentu. Pelajari selengkapnya.

Topik: Surat

Mama, Malaikat Cantik Kebanggaanku

Mama, melihatmu semakin beranjak tua membuatku semakin takut akan kehilangan dirimu. Raut wajahmu itu tak lagi memancarkan sinar kesegaran dan keceriaan.


Ilustrasi ibu dan anak

Ilustrasi ibu dan anaknya.

Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

the Monkey Times – Mama, melihatmu semakin beranjak tua membuatku semakin takut akan kehilangan dirimu. Raut wajahmu itu tak lagi memancarkan sinar kesegaran dan keceriaan.

Iklan

Perlahan tapi pasti, akan ada kerutan baru yang tumbuh di setiap sentinya. Malaikat cantik tanpa sayap yang selalu menjadi wanita kebanggaanku, kini sudah tak lagi muda. Mama semakin menua dan siap untuk memasuki usia senjanya.

Aneh rasanya menulis surat ini untukmu, ma. Padahal kalau ingin mengobrol, bercerita, dan mencurahkan seluruh kegundahan hati, aku tinggal mengetuk pintu kamarmu, ma.

Iklan

Dan senantiasa mama dengan senang hati pasti akan mendengarkan berbagai keluh kesah yang aku rasakan.

Senang rasanya bisa berbagi cerita dengan mama, aku yang selalu cerita tentang berbagai hal mulai dari permasalahanku dengan teman, asmara, bahkan kegundahan hatiku tentang masa depan

Iklan

Rasanya sudah semua hal yang aku rasakan selalu aku ceritakan ke mama. Namun, ada beberapa hal yang tak bisa aku bagikan denganmu. Di usiaku yang sudah menginjak 19 tahun ini, aku merasa telah tumbuh dewasa.

Tetapi kau selalu menganggapku sebagai peri kecilmu yang masih tidak bisa apa-apa. Banyak kegundahan hati yang sedang aku rasakan, tetapi mama selalu mengatakan kepadaku bahwa semua akan baik-baik saja selagi kamu berdoa dan berusaha. 

Ketika aku bertambah dewasa, semakin takut rasanya kalau aku tidak bisa membahagiakanmu, ma. Kau telah menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan materi. Takut rasanya ma, aku tak bisa mengembalikan apa yang telah kau berikan padaku. Aku sangat ingin memberikan berbagai hal dengan hasil keringatku sendiri.

Aku ingin membantu ketika mama dalam keadaan susah. Sedih rasanya bila melihat mama menyembunyikan sesuatu dariku. Ketika aku bertanya tentang keadaan mama, kau selalu menjawab bahwa sedang tidak terjadi apa-apa.

Mama, kali ini aku sengaja mengemas kata-kataku dalam bentuk tulisan yang dapat dibaca berulang-ulang kali. Surat ini aku tujukan kepadamu, ma. Supaya mama tahu betapa penting dan spesialnya dirimu di hati dan kehidupanku.

Bagiku mama adalah sosok malaikat yang nyata. Berbagai perjuanganmu mulai dari mengandung hingga melahirkan diriku ke dunia ini. Sampai bisa membuatku mengecap bagaimana rasanya hidup di dunia.

Tak ada kata yang lebih tepat untuk diucapkan selain kata, “terima kasih” untukmu mamaku. Sebagai anak, sudah sepatutnya aku harus selalu mengucapkan kata itu sesering mungkin.

Terima kasih karena mama sudah rela menahan mual ketika awal masa kehamilan. Terima kasih juga karena mama harus merasakan beratnya membawa aku kemana pun mama pergi selama diri ini tinggal di dalam perutmu.

Bahkan hingga aku terlahir di dunia, perjuanganmu tak lantas menjadi semakin mudah. 

Entah ada berapa jam tidur mama yang harus tersita demi meladeni aku yang sering kehausan, kelaparan, ataupun rewel yang tak kenal waktu.

Satu demi persatu perjuangan tersebut jelas terlalu dangkal bila disebut sebagai suatu kewajiban seorang ibu. Sebagai manusia, mama seharusnya memiliki hak untuk menghindari rasa sakit dari berbagai fase masa kehamilan hingga melahirkan.

Namun mama, wanita yang selalu ku kagumi itu, memilih untuk memperjuangkan makhluk yang sebelumnya tak pernah dilihat wajah bahkan fisiknya. 

Meskipun harus menanggung rasa sakit, mama lebih memilih untuk memperjuangkanku dan merawat sejak janin hingga lahir dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Di tengah kesibukan yang harus juga mencari tambahan uang demi membantu ayah. Dengan tujuan agar anakmu ini memiliki masa depan yang cerah. Kau selalu hadir dan merawatku dengan memberikan perhatian yang sangat besar.

Keluarga ini memanglah bukan berasal dari keluarga yang serba ada ataupun mampu. Namun, mama selalu mengatakan bahwa kita ini keluarga yang sudah cukup.

Mama selalu mengatakan padaku bahwa aku harus selalu bersyukur. Jangan selalu melihat ke atas, karena disana tentunya banyak orang yang sangat lebih dari kita.

Mama selalu mengajarkan untuk selalu melihat orang-orang yang ada di bawah kita. Dimana mereka selalu mengalami kesusahan. Bahkan untuk tidur pun mereka ada yang tidak memiliki tempat yang tetap.

Terima kasih, mama. Kau selalu mengajarkanku berbagai hal mulai dari menghargai satu sama lain hingga harus saling berbagi meskipun yang kita punya tidak banyak.

Aku ingat beberapa hari lalu, waktu pertama kali aku mendapatkan pekerjaan dan aku memperoleh gaji pertama. Gaji yang aku peroleh pun tidak seberapa.

Namun mama selalu berkata, tidak perlu jadi kaya dan bergelimang harta baru bisa membantu orang yang membutuhkan. 

Selain masalah kesederhanaan dan membagi waktu antara kerja dan keluarga. Hal ini juga membuatmu semakin mempesona di mataku. Cara mama mengalahkan keinginan pribadi hanya demi memenuhi kebutuhan kita sehari-hari.

Dengan ekonomi yang ada, mama selalu berusaha semaksimal mungkin dan selalu memutar otak agar semua kebutuhan yang ada dapat tercukupi.

Sebagai seorang perempuan, mama tidak memiliki banyak kemauan. Padahal sebetulnya, bila kau ingin egois. Mama bisa membelanjakan uang itu demi kesenangan itu.

Semua jerih payahmu tak ayal mengukir kagum di hati anakmu ini. Bagiku mama bukan hanya sosok manusia. Tetapi malaikat penolong yang Allah SWT hadirkan secara nyata di dunia.

Kini izinkan aku untuk mengantarkan ucapan terima kasih untuk semua hal yang telah mama berikan dan lakukan. Namun, ketahuilah ma aku sangat menyayangi dan mengagumimu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih.

Dari putrimu kesayanganmu,

Yang selalu mengagumi mama.

1637809467 LMqn9WyiH4rRRXbPuXboe1tYL1EqK5ei
Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

artikel Terkait