Penulis: Anggie Warsito

Mahershala Ali: Akting, Islam, dan Musik

Mahershala Ali bukan cuma aktor. Hidupnya terbilang ulang alik, karena sempat jadi atlet.

the Monkey Times – Tak banyak aktor berkulit hitam yang memiliki prestasi gemilang di ajang Academy Awards.

Mahershala Ali menjadi salah satunya. Ia berhasil mendapatkan dua piala Oscar secara berturut-turut untuk dua kategori, yaitu Best Supporting Actor dan Best Picture.

Bersama Viola Davis, Ia menjadi semacam pembuka jalan bagi para aktor kulit berwarna untuk mendapatkan piala Oscar untuk kategori Best Supporting Actor dan Best Supporting Actress.

Hal itu bisa dilihat pada perhelatan Academy Awards 2020 dan 2021, dimana saat itu kategori Best Supporting Actor dan Actress dimenangkan oleh Daniel Kaluuya (2020) dan Kim Youn Yuh-Jung (2021).

Ia juga menjadi salah satu aktor Muslim yang masih konsisten berkarya saat ini. Di luar karier keaktorannya, pria berusia 48 tahun ini juga sempat melebarkan sayapnya di dunia musik sebagai rapper.

Dari Atlet ke Keaktoran

Keaktoran sebetulnya bukan jalan yang ingin ditempuh Ali saat masih muda. Ia justru ingin sekali menjadi atlet basket. Keinginan itu lantas ia ejawantahkan dengan mengikuti klub basket di tempat ia kuliah, St. Mary’s College of California (SMC).

Sayangnya, perlakukan tak adil yang ia terima selama di klub basket membuatnya memutuskan untuk mengubur impiannya.

Ia pun lantas mengalihkan minatnya ke akting dengan mengikuti pementasan Spunk. Untuk memperdalam kemampuan aktingnya, Ali lantas magang Shakespeare Theater setelah lulus, serta mengambil pascasarjana keaktoran di Tisch School of the Arts.

Berawal dari Masjid

Ali sebetulnya tidak terlahir dalam keluarga Muslim, melainkan dari keluarga Kristiani dengan nama lahir Mahershalalhashbaz Gilmore.

Perkenalannya terhadap Islam sendiri terjadi saat ia menempuh pendidikan pascasarjana.

Saat itu, ia tengah mempertanyakan keyakinannya terhadap agama yang ia anut. Dari situlah, ia pelan-pelan mempelajari spiritualisme dan keagamaan lewat buku-buku yang ia baca.

Di tengah proses pencariannya itu, ia berjumpa dengan Amatus Sami-Karim.

Seorang gadis Muslim yang juga tengah mempertanyakan keyakinannya sendiri. Amatus sendiri nantinya akan menjadi pasangan hidup Ali.

Suatu ketika, Ali mendatangi masjid yang tak jauh dari tempat ia berkuliah. Di sana, ia mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari seorang imam masjid.

Ali pun lantas mencucurkan air mata setelah mendengar lantunan ayat suci tersebut. Dari situ, ia pun mulai rajin mendatangi masjid itu, lalu di kemudian hari memutuskan menjadi mualaf.

Selepas menjadi mualaf, ia pun mengganti nama belakangnya dari Gilmore menjadi Ali. Di awal kehidupan barunya sebagai mualaf, Ali sempat mendapatkan perlakuan rasial di tempat umum seperti bank dan bandara. Walau begitu, Ali menanggapinya dengan cukup santai.

“Jika kamu masuk Islam setelah berpuluh-puluh tahun tinggal di Amerika Serikat sebagai kulit hitam, diskriminasi yang kamu terima jadi terasa tidak mengejutkan. Seringkali saya diejek dan ditanya, ‘apakah kamu membawa senjata’ atau ‘apakah kamu seorang germo?’

Seperti ada diskriminasi baru saat kamu memutuskan menjadi seorang Muslim. Tetapi, itu bukan hal baru bagi kami,” ujarnya yang dikutip dari Guardian.

Sempat Jadi Rapper

Di luar karier aktingnya, Ali sempat menggeluti dunia musik sebagai rapper dengan moniker Prince Ali. Dua album sudah ia torehkan, yaitu “Corner Ensemble” (2006) dan “Curb Side Service” (2007).

Keduanya tak pernah ia promosikan secara proper lewat tur, sehingga kurang terdengar di pasaran. Karier musiknya pun tak ia teruskan, lantaran ia ingin fokus di ranah keaktoran.

Meski begitu, ia pernah comeback ke dunia musik pada tahun 2019 dan 2020. Bukan dengan merilis album penuh, melainkan dengan menjadi kolaborator beberapa musisi.

Sebut saja Keith Murray lewat albumnya “Lord of The Metaphor 2” (2019), serta Riz Ahmed lewat album “The Long Goodbye” (2020).

Walau kini sudah tak aktif sebagai rapper, Tajai Massey tetap mengakui kalau Ali punya bakat nge-rap. Tajai sendiri adalah manajer dari label Hieroglyphic Imperium yang menaungi Ali semasa jadi rapper.

“Saya pikir ia (Mahershala Ali) luar biasa, kawan. Kerennya, ia sudah memulai kariernya dari bawah sejak 10 tahun sebelum bergabung dengan label kami.

Hal itu bikin orang sadar dan bilang, ‘oh, kami telah melihat orang ini selama beberapa tahun’, terutama saat ia berada di puncak kariernya. Kami merekrutnya saat itu karena ia adalah seorang rapper yang keren, bukan karena reputasinya di bidang akting,” ujarnya.