Kami mungkin menerima komisi untuk setiap pembelian yang dilakukan lewat tautan afiliasi yang termuat di beberapa jenis konten yang diterbitkan pada topik/kategori tertentu. Pelajari selengkapnya.

Topik: Film

Leonardo DiCaprio yang Membangun Kota dan Peradabannya Sendiri

Leonardo DiCaprio membangun dunia karirnya sendiri, merangkak dari bawah.


Leonardo DiCaprio

Leonardo DiCaprio di Berlinale Film Festival 2010. (Foto: Wikimedia Commons)

Diterbitkan:

the Monkey Times – Bisa dibilang kalau karier Leonardo DiCaprio cukup unik. Disaat aktor lain sukses lewat film superhero atau film sekuel, Leo justru sukses dengan non-sekuel.

Iklan

Leo tak perlu memakai pakaian superhero untuk menunjukkan kemampuan aktingnya. Dengan pakaian biasa dan teriakan marahnya yang khas, Leo sukses menancapkan kakinya sebagai unicorn di jagad Hollywood.

Tom Rothman selaku pimpinan perusahaan Sony Pictures menjuluki Leonardo sebagai suatu “brand“. Sedangkan Quentin Tarantino menganggap Leo sebagai sosok stand alone layaknya Robert de Niro dan Al Pacino.

Iklan

“Dia berdiri sendiri layaknya Robert de Niro dan Al Pacino di era 70-an. Mereka (de Niro, Pacino, Leo) tidak memaksakan diri bermain di dua film dalam setahun. Mereka bisa melakukan hal apa pun yang mereka mau.

Dan jika mereka melakukan sesuatu, maka sesuatu tersebut pasti sangatlah menarik,” ujar sutradara yang pernah bekerja sama dengan Leo itu.

Terinspirasi dari Leonardo da Vinci

Lahir pada 11 November 1974 di Los Angeles, Leo terlahir dari orangtua dengan darah Jerman dan Italia yang kental.

Nama Leonardo sendiri diambil dari nama pelukis ternama, Leonardo da Vinci. Nama tersebut dipakai setelah Ibunya melihat salah satu lukisan da Vinci di Florence, Italia.

Sebelum menjadi aktor unicorn seperti sekarang, Leo punya awal karier yang cukup menyedihkan.

Dirinya sempat mengalami fase-fase sulit mendapatkan agen di awal kariernya. Hal itu sempat bikin Leo menganggur dari dunia akting selama setahun.

Sempat hampir menyerah, Leo pun terus mencoba peruntunganya di dunia seni peran. Sampai akhirnya, Leo pun mendapat pekerjaannya sebagai aktor lewat sebuah serial televisi di era 90-an.

What’s Eating Gilbert Grape in Titanic

Dari sekian film yang dia lakoni, What’s Eating Gilbert Grape (1993) dan Titanic (1997) adalah dua film paling berpengaruh bagi karier Leo.

What’s Eating Gilbert Grape adalah film pertama yang membuat Leo memerankan karakter dengan kelainan mental. Sebuah peran menantang untuk Leo yang masih berusia 18 tahun pada saat itu.

Adapun Titanic adalah film yang membuat namanya makin dikenal khalayak luas. Hal itu tak lepas dari akting maksimalnya sebagai Jack Dawson, serta chemistry-nya dengan Kate Winslet yang berperan sebagai Rose.

Penerus Tongkat Estafet Robert de Niro

De Niro adalah kolaborator utama seorang Martin Scorsese. Total, ada 8 film yang sudah dihasilkan oleh keduanya.

De Niro yang menua pun lantas merekomendasikan seorang aktor yang layak menjadi penerusnya. Dan Leonardo DiCaprio adalah aktor tersebut.

De Niro dan DiCaprio sendiri pernah bekerja sama dalam film The Boy’s Life (1993). Maka tak heran, jika De Niro tak ragu merekomendasikan aktor berzodiak Scorpio itu kepada Scorsese.

Kerja sama perdana Scorsese dan Leo sendiri ditandai lewat film Gangs of New York (2002).

Selain menandai kerja sama antara keduanya, film tersebut juga menjadi momen di mana Leo berhasil melepaskan image pretty boy yang melekat pada dirinya saat itu.

Sudah 5 film yang dihasilkan Leo bersama Scorsese. Keduanya pun siap merilis film ke-6 yang bertajuk Killers of The Flower Moon. Menariknya, film itu juga akan dibintangi kolaborator Scorses lainnya, yakni Robert De Niro.

Enviromentalist

Diluar profesinya sebagai aktor, Leo juga berkecimpung sebagai environmentalist. Global waming adalah isu utama dari environment yang dia jalankan.

Leo tak pernah lelah menyadarkan masyarakat bahwa global warming itu nyata adanya. Dia juga mendukung adanya sumber energi terbarukan.

Di ajang Academy Award ke-88, Leo sempat menyampaikan speech yang menyinggung isu global warming, khususnya soal perubahan iklim. Adapun isi speech tersebut adalah:

Perubahan iklim itu nyata dan sekarang tengah terjadi. Ini (perubahan iklim) ancaman paling mendesak yang dihadapi semua spesies kita. Kita perlu bekerja sama secara kolektif dan stop menunda-nunda. Kita juga butuh pemimpin yang tidak berbicara untuk perusahaan besar, melainkan untuk seluruh manusia, masyarakat adat di dunia, serta miliaran orang yang kurang mampu…”

1637809467 LMqn9WyiH4rRRXbPuXboe1tYL1EqK5ei
Temukan artikel menarik lainnya di topik: narasi tokoh