Kisahku Dengan Buku bukan Karena Cinta dari Sananya

Kisahku dengan buku bukan dimulai dengan cinta yang menyeluruh.


buku dan kisahku

Ilustrasi tumpukan buku.


Oleh: Mas Hadid

Diterbitkan:

the Monkey Times – Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah pernyataan: saya bukanlah orang yang benar-benar mencintai buku.

Ibarat bandul, kisahku dengan buku ibarat bandul kadang berayun ke kanan, kemudian ke kiri. Kadang luntur, kadang malas menyentuhnya, seringnya tidak peduli.

Tapi saya tetap cinta. Setidaknya, cinta saya kepada buku selalu ada. Tapi sebagaimana semua kisah cinta, selalu ada awal mulanya. Dan itu bermula dari keluarga saya.

Saya rasa keluarga saya adalah pencinta buku tulen. Ibu saya seorang peneliti, demikian pula ayah. Seingat saya, ayah yang memperkenalkan saya kepada buku, lebih tepatnya kepada buku sastra.

Masa muda ayah saya dihabiskan sebagai mahasiswa Sastra Jepang di sebuah universitas terkemuka. Kecintaannya kepada Jepang dan karya sastranya membuat rumah lumayan penuh sesak dengan karya sastra penulis-penulis Jepang. Sebutlah salah satunya seperti Ryƫnosuke Akutagawa.

Sedangkan ibu menghabiskan masa mudanya sebagai mahasiswa Filsafat. Jadilah rumah keluarga saya penuh dengan buku-buku filsafat, beberapa karya NH. Dini, dan deret karya-karya babon filsuf terkemuka dari Barat sana, tersimpan rapi di kamar kerja keluarga.

Walau dibesarkan di tengah keluarga penggila buku, saya nyaris malas menyentuh – apalagi membaca – deret buku yang diletakkan di rak-rak buku di dalam rumah.

Tapi saya selalu ingat wejangan ayah yang suatu kali – dan beliau mengulanginya berulang kali – berkata begini: “kalau kamu mau belajar tentang kehidupan, bacalah karya sastra.”

Kata-kata itu menyembur begitu saja ketika saya masih berusia sekitar 16 tahun. Berarti waktu itu saya duduk di bangku SMA. Walau kata-kata itu terasa menggetarkan bagi seorang anak mbeling seperti saya, toh saya tetap tidak memahami sepenuhnya apa yang dimaksud ayah.

Kisahku dengan buku dimulai dari kemalasan

Boleh dibilang saya mulai membaca dengan serius ketika masuk ke SMA. Waktu itu nilai saya jeblok, dan fakta itu diperparah dengan suasana jiwa yang waktu itu tergolong pemalas akut. Jadi kalau mau dianalogikan begini: karena pemalas, nilai saya jadi jeblok di SMA.

Marah karena tingkah laku anaknya dan karena begitu jebloknya nilai sekolah putra pertamanya, kedua orang saya memarahi saya habis-habisan. Tapi di situlah saya berkenalan dengan buku-buku yang dibaca orang tua saya.

Lebih tepatnya “memaksa”. Saya ingat dengan jelas ibu saya menyarankan membaca sebuah novel filsafat berjudul Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, dan beliau memerintahkan saya membaca itu setiap selesai subuhan.

Baca Juga:  Karena Surat Cinta Untuk Pacar, Kita Pernah Dekat

Cerita Sophie yang belajar filsafat, ditemani seorang filsuf bernama Alberto. Dari sang filsuf itulah dia berkenalan dengan tradisi filsafat dari berbagai belahan dunia.

Viola … itulah perkenalan pertama saya secara intens dengan buku.

Baca Juga: Persewaan Komik dan Kenang-kenangan yang Hidup

Karena merasa tertarik dengan Dunia Sophie, saya kemudian membongkar lemari dan rak ibu dan ayah saya. Dari sana saya menemukan banyak bacaan menarik yang menawarkan keasyikan tiada tara. Sebut saja misalnya Arjuna Wiwahahaha….! karya Yudhistira A.N.M Massardi; atau sebuah novelet berjudul Kappa karya Akutagawa.

Ketiga karya yang saya sebut itu paling saya ingat dan sering saya letakkan dalam daftar pertama buku-buku masa remaja yang saya baca.

Kisahku dengan buku kurang begitu romantis, tapi mumpung sekarang hari buku sedunia, jadinya saya merasa berhutang banyak kepada tiga karya itu. Jadi, selamat banyak membaca hari ini. Semoga terus berlanjut.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar buku, opini

Atau baca artikel lain yang ditulis: Mas Hadid



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial