Penulis: Dina Meidiana

KH Wahab Hasbullah: Ulama Pendiri NU yang Nasionalis

Dedikasi terhadap agama dan negara, membuat Kyai Wahab diangkat menjadi tokoh pahlawan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2014 lalu

the Monkey Times – KH Wahab Hasbullah memiliki nama Lengkap Kyai Haji Wahab Hasbullah adalah tokoh pahlawan penting yang mendirikan Nahdlatul Ulama. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas, berwawasan luas dan sangat modern. Beliau sangatlah disegani karena memang sosok yang sangat agamis serta nasionalis. 

Silsilah KH Wahab Hasbullah 

Kyai Wahab lahir pada 31 Maret 1888 dan wafat pada tanggal 29 Desember 1971. Tanggal lahir tersebut sesuai dengan apa yang tertulis di nisan beliau. Karena beberapa sumber memberikan tahun kelahiran yang berbeda-beda. Tidak hanya tercatat sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, Kyai Wahab juga pendiri dari Gerakan Pemuda Ansor. 

Beliau berasal dari Desa Gedang, Kelurahan Tambakberas yang berada kurang lebih 3 km di sebelah utara Kota Jombang. Secara silsilah Kyai Wahab ternyata memiliki garis keturunan yang sangat luar biasa. Beliau berkerabat dekat dengan Kyai Hasyim Asy’ari. Beliau adalah keturunan langsung dari Raja Pajang, yaitu Joko Tingkir. 

Kiai Wahab adalah anak pertama dari delapan bersaudara dan dari pasangan Kyai Haji Hasbullah Said dan Nyai Latifah. Dari seluruh saudaranya, memang Kyai Wahab yang paling menonjol dan banyak dikenal orang. 

Pendidikan Kiai Wahab Hasbullah 

Kyai Wahab sedari kecil sudah besar dalam lingkungan pesantren. Ketika beliau berusia tujuh tahun, Kyai Wahab diajarkan oleh ayahnya sendiri tentang ilmu agama Islam. Kemudian, selama 20 tahun, Kyai Wahab menimba ilmu di beberapa pesantren. Karena sejak usia muda sudah mempelajari ilmu agama secara intensif, tidak heran jika Kyai Wahab memiliki moral dan sifat yang bersahaja. 

Beberapa pesantren yang beliau sambangi adalah Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Mojosari di Nganjuk di bawah pengasuhan Kyai Sholeh, Pesantren Tawangsari di Surabaya dan Pesantren Bangkalan di Madura serta diasuh langsung oleh Kyai Kholil. Kyai Wahab juga pernah belajar di Pesantren Cempaka. 

Terakhir, Kyai Wahab belajar di Pesantren Tebu Ireng yang diasuh langsung oleh Kyai Hasyim Asyari. Di Pesantren Tebu Ireng, Kyai Wahab belajar termasuk lama, yaitu 4 tahun lamanya dan sempat menjadi Lurah Pondok. Dimana itu adalah jabatan tertinggi kepada seorang santri dan merupakan kepercayaan dari Kyai serta santri.

Ketika umur Kyai Wahab sudah mencapai usia 23 tahun, ilmu yang dimiliki beliau pun sudah dirasa sudah matang. Tapi, Sang Ayah berpendapat berbeda. Kyai Said merasa bahwa Kyai Wahab masih belum cukup memperoleh ilmu. Kemudian pada tahun 1909, Kyai Wahab pun dikirim ke Mekkah untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi. 

Disana, guru yang mengajari Kyai Wahab bukanlah sembarang guru. Beliau langsung diajari oleh Kyai Mahfudz Termas yang menulis kitab Al-Turumusi. Di bawah bimbingannya, Kyai Wahab belajar banyak hal, termasuk ilmu hukum, Tasawuf serta Ushul Fiqh. Kemudian, bersama dengan Kyai Muhtarom Banyumas, Kyai Wahab menyelesaikan Kitab Fathul Wahab. 

Tidak berhenti sampai situ saja, Kyai Wahab pun mempelajari Ilmu Nahwu di bawah bimbingan  Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Ahmad bin Bakri Syatha. Kyai Wahab juga belajar ilmu Fiqh dengan bimbingan dari Syaikh Ahmad Khatib. 

Kemudian, untuk ilmu mantiq, Kyai Wahab berguru dengan Kyai Baqir yang berasal dari Jogja. Bahkan dari beberapa guru tersebut, Kyai Wahab mendapatkan ijazah dari Syaikh Sa’id Al-yamani dan Kyai Mahfudz Termas. 

Selama belajar bersama para guru besar tersebut, Kyai Wahab bertemu dengan banyak teman dan sahabat. Hebatnya lagi, Kyai Wahab masih belajar ilmu berdebat dan memperdalamnya ketika masih di Mekkah. Guru yang membimbing beliau adalah Kyai Muchit yang berasal dari Sidoarjo. Beliau juga mempelajari Ilmu Hisab dan Ilmu Falak dari Kyai Asy’ari dari Pasuruan. 

Perjuangan Kyai Wahab Hasbullah 

Sepulangnya dari Mekkah pada tahun 1914, Kyai Wahab merasa sangat prihatin akan saudara sebangsa dan setanah airnya. Selain mengurus pesantren milik beliau di Tambakberas, Kyai Wahab sangat aktif dalam pergerakan nasional. Kyai Wahab merupakan seorang Panglima Laskar Mujahiddin (Hizbullah) ketika masa penjajahan Jepang. Beliau bersama dengan Ki Hajar Dewantara juga sama-sama duduk menjadi anggota DPA. 

Dari rasa prihatin yang beliau rasakan, pada tahun 1916, Kyai Wahab mendirikan sebuah organisasi yang bernama Nahdlatul Wathan yang memiliki arti Kebangkitan Negeri. Pendirian organisasi pergerakan ini tidak lepas akan tujuan awal agar mampu menyadarkan masyarakat untuk melawan penjajahan. 

Agar organisasi semakin kuat, maka Kyai Wahab pun mendirikan Nahdlatul Tujjar yang berarti Kebangkita Saudagar. Organisasi ini sebagai pusat penggalangan dana dalam perjuangan untuk mengembangkan Agama Islam serta Kemerdekaan Indonesia. 

Kehebatan dari Kyai Wahab ini tidak hanya dalam persoalan dalam negeri. Beliau juga mengamati perkembangan yang terjadi di dunia. Pada tahun 1919, Kyai Wahab mendirikan Taswirul Afkar atau lebih dikenal sebagai Nahdlatul Fikri. Organisasi ini memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan sosial politik kepada para santri. 

Berdirinya organisasi ini tidak hanya sebagai tempat untuk menempuh ilmu. Pada kenyataannya pada saat masa penjajahan, Taswirul Afkar menjadi tempat diskusi para tokoh nasional. Bahkan generasi muda dan tua dapat berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan gamblang untuk memajukan Islam dan meraih kemerdekaan. 

Disaat usaha beliau serta sahabat dalam melawan penjajahan, muncul konflik baru di dalam dunia Islam, yaitu munculnya aliran Wahabi dari Najed yang melakukan ekspansi dan berhasil menduduki Mekkah pada tahun 1924 dan juga Maddinah pada tahun 1925. 

Aliran baru ini pun membuat perubahan besar dalam dunia Islam, dimana mazhab Hanbali, Syafi’i, Hanafi dan Maliki yang sebelumnya saling berdampingan mendadak tidak diizinkan lagi dipelajari bahkan diamalkan di Tanah Suci. Aliran Wahabi ini pun malah disambut baik oleh para Islam Modernis di Indonesia. 

Demi mencegah hal tersebut, Kyai Wahab pun membentuk komite Hijaz yang berisikan para ulama dari pesantren. Mencegah aliran Wahabi yang dikenal tidak toleran serta keras kepala harus menggunakan langkah pasti, yaitu dengan mengirimkan langsung delegasi Komite Hijaz ini langsung kepada pemimpin aliran Wahabi yaitu Raja Abdul Aziz. 

Namun, pengiriman ini sendiri harus mempunyai kekuatan yang lebih besar, sehingga terbentuklah Nahdlatul Ulama atau NU pada 31 Januari 1926. Kyai Haji Abdul Wahab pun berangkat bersama dengan Syaikh Ghonaim Al-Misri berangkat menemui Raja Abdul Aziz yang akhirnya pun disambut baik. 

Dalam pertemuan tersebut, akhirnya disetujui bahwa makam Nabi Muhammad tidak jadi dibongkar dan masih diperbolehkan menjalankan mazhab yang berbeda. Meski masih tidak diizinkan untuk memimpin. 

Pendirian dari NU memberikan banyak sekali perubahan baik secara sosial dan politik. Kyai Wahab sadar bahwa peran rakyat sangat penting sekali. Sehingga beliau pun menggerakan masyarakat dengan menerbitkan koran dakwah yang bernama Soeara Nahdlatul Oelama. Adanya pengembangan media massa ini menjadi alat propaganda yang sangat hebat. 

Tujuannya jelas untuk membawa gerakan NU dan pesantren untuk ke publik. Gagasan ini pun mendapat dukungan dari KH Mahfudz Siddiq serta KH Wahid Hasyim untuk berpartisipasi secara aktif dalam pengembangan media massa ini. 

Di zaman penjajahan Jepang gerakan NU pun semakin sulit. Apalagi dengan penangkapan berbagai tokoh-tokoh NU yang dilancarkan Jepang. Tentu saja Kyai Wahab tidak tinggal diam, beliau pun menjadi dalang utama untuk melancarkan aksi pembebasan tokoh NU. 

Perjuangan dari KH Wahab Hasbullah memang tidak sebentar, berjalan bersama rakyat untuk mengusir penjajah dilakukannya tanpa kenal lelah. Bahkan, setelah kemerdekaan NU masih banyak ditekan oleh banyak pihak. Dedikasi terhadap agama dan negara, membuat Kyai Wahab diangkat menjadi tokoh pahlawan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2014 lalu.