Kepada Seseorang yang Menyapaku di Persimpangan Jalan

Pertemuan dua orang bisa sangat berkesan, melekat dalam ingatan. Lalu yang tertinggal cuma cara kita merawat ingatan paling berkesan.


ilustrasi pertemuan dua orang
Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

Pagi itu langit tak terlalu cerah. Aku terburu buru untuk berlari ke minimarket yang berada di dekat kostku, untuk membeli sandwich dan sekotak susu.

Pagi itu masih teringat jelas, aku hampir telat untuk jadwal interview di perusahaan baru yang memang sudah aku idam idamkan sejak lama.

Pagi pun masih tak bersahabat. Kereta yang aku tunggu di Stasiun Depok Baru masih belum datang. Ditambah lagi, aku melihat pada peron stasiun terdapat banyak orang yang sedang menunggu di jalur yang sama, jalur Jakarta Kota. 

Aku semakin panik dan takut, takut tidak bisa datang di jam yang telah ditetapkan. Aku takut terlambat mengikuti sesi wawancara untuk kepentingan pekerjaan.

Dalam hatiku lunglai, tapi Starbucks yang berada di persimpangan jalan menuju calon kantorku, bisa merubah mood dalam sekejap. Hal yang mengejutkan pun terjadi, seseorang lelaki berlari ke arahku dan menarik paksa tanganku. 

Aku yang sudah takut akan kecopetan, langsung sigap untuk berlari. Namun, pikiranku salah. 

Ternyata lelaki tersebut hendak menyelamatkanku dari arah sepeda motor yang hendak berbelok ke arah tempat ku menyebrang.

Pikiranku yang masih kalut pun ternyata membuatku tak mawas diri dan berpikiran negatif terhadap orang yang aku kenal. Akhirnya, aku dan kamu pun berkenalan. 

Kita memasuki kedai kopi modern tersebut berdua. Aku memesan ice americano sebagai bentuk kepahitan dingin yang aku rasakan di pagi hari. 

Tetapi, rasa pahit tersebut tak begitu terasa. Lantaran kamu hadir untuk membuat hariku menjadi sedikit berwarna.

Iya, kamu datang tepat untuk menyelamatkanku, Sakti. Mulai dari menarikku paksa hingga menemaniku untuk mengobrol hingga siang hari di kedai kopi. 

Kamu ternyata juga melamar di perusahaan yang sama denganku. Namun, takdir kita yang tidak keterima di tempat tersebut, berhasil untuk mempertemukan kita berdua di kedai berwarna hijau ini.

Ada banyak yang bisa aku ambil ketika bertemu denganmu, Sak. Aura positif yang terpancar di wajahmu. 

Senda gurau yang kamu lontarkan untuk membuat suasana hatiku menjadi gembira, hingga secangkir es kopi dingin yang kamu berikan kepadaku di pagi itu. 

Rasanya aku tak bisa melupakan kebaikanmu begitu saja. 

Berlanjut ke pertemuan kita selanjutnya, tetap di kedai kopi yang sama di persimpangan jalan dekat kantor yang tidak jadi kita masuki. 

Baca Juga:  Surat untuk Kamu yang Mengenakan Jaket Almamater Biru Navy

Entah mengapa, perjalanan dari Depok ke Cikini tak berasa. Kamu pun juga rela menempuh perjalanan dari Palmerah ke Cikini hanya untuk sekedar ngopi bersama di tempat pertama kali kita bertemu.

Tak terasa, sudah hampir lima bulan kita sering menghabiskan waktu bersama di kedai kopi tersebut. Banyak hal yang kita bicarakan berdua. 

Mulai dari membuat lamaran kerja bersama, hingga kamu yang selalu menunjukkan karya video terbaru yang kamu buat di laptop. 

Tidak menyangka, aku bisa bertemu dan dekat dengan seseorang dalam waktu kesengajaan ini.

Bulan depan, kamu mulai pindah ke Singapore. Meskipun masih termasuk negara yang dekat, tapi kedai kopi di Cikini tak akan terasa sama nantinya. 

Aku harap kita lebih sering menghabiskan waktu berdua untuk mengobrol ataupun sekedar berjalan jalan untuk hunting foto bersama. mungkin, saat saat itu akan sangat ku rindukan. 

Terlebih selama lima bulan terakhir ini banyak waktu yang telah kita habiskan berdua.

Di dalam surat ini, aku juga memberi tahu tentang jawabanku atas pertanyaan yang tempo hari sempat kamu tanyakan kepadaku. 

Tidak Sak, aku tidak akan berubah. Aku akan tetap menjadi teman yang siap untuk mengomentari segala isi videomu yang masih mentah tersebut. 

Aku akan selalu ada buat kamu, meskipun kita terpisah ratusan kilometer jauhnya.

Dan, Ya. Iya aku akan menemanimu untuk datang ke museum yang ada di Kota Tua. Hahaha. Lucu banget, kamu ingin menghabiskan waktu akhir pekan bersama dengan mengunjungi semua museum yang ada di daerah kota tua. 

Okay selamat ber pegel pegel ria. Tapi, bagus juga idemu. Nantinya, kita bisa dapat foto yang banyak ketika mengunjungi kawasan tersebut.

Oke Sak, rasanya disini dulu surat dari aku. Sebenarnya aku bisa mengirimimu email ataupun menjawab pesanmu melalui media sosial

Namun, aku ingin membalasnya dengan cara yang konvensional. biar kamu menunggu lama untuk tahu jawabanku. 

Mungkin kamu hanya menemukan satu teman yang freak seperti aku. Namun, pastinya paling berkesan bukan?

Akhir kata, makasih ya Sak dulu udah nyelametin aku dari hampir-terserempet sepeda motor di persimpangan jalan. 

Nggak nyangka, kejadian yang tak terduga tersebut ternyata justru membuat kita menjadi semakin dekat. See you soon, di museum minggu depan ya Sak.

PS: kosongkan memory card, biar bisa ambil foto yang banyak ^.^

Baca Juga:  Surat untuk Kita, Belasan Tahun Kemudian
Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru