Connect with us

Hi, what are you looking for?

Narasi

Persewaan Komik dan Kenang-kenangan yang Hidup

Ada banyak kenangan tentang persewaan komik di Jogja, yang kini sudah sangat jarang ditemui.

persewaan komik adalah surga penggemar komik

the Monkey Times – Setahun lalu saya mendengar kabar yang sebetulnya nggak menghebohkan amat: Perpustakaan Gajayana – sekaligus persewaan komik – yang mengambil lokasi di pertigaan jalan Gajayana, Malang, dan berdiri sejak 1978, katanya bakal tutup.

Kabar itu seliweran di lini massa media sosial pada Juni 2018. Dan pada akhirnya, persewaan di Malang itu benar-benar bangkrut.

Persewaan komik di Jogja era 2000-an

Kalau mau membicarakan soal persewaan komik, ingatan ini mau nggak mau berputar ke awal tahun 2000. Waktu itu saya sekolah di SMU Muhammadiyah I (Muhi). Datang dari ibukota, saya sebetulnya tidak tahu ada tempat yang disebut persewaan komik.

Maklum saja, tidak ada yang namanya persewaan komik di tempat saya tumbuh besar sampai usia SMP – amatan inipun cuma sebatas di daerah tempat saya besar, di antara Bendungan Hilir dan Cibubur, Jakarta.

Lagipula, tante saya waktu itu sering membeli komik, terutama manga. Jadi bisa dibilang koleksi komik di rumah terbilang cukup banyak. Syahdan, karena itulah saya waktu itu nggak kenal konsep persewaan. Toh di rumah sudah ada yang menyediakan bahan bacaan komik.

Lalu saya pindah ke Jogja pada 2000. Waktu itu rental film dan taman bacaan sedang menjamur, bersamaan dengan tumbuhnya warung internet di mana-mana. Ada sebuah rental komik kecil persis di seberang gerbang belakang sekolah.

Seingat saya bangunan itu bercampur bersama kos-kosan siswa perempuan. Di sanalah saya sering meminjam beberapa judul serial manga seperti Dragon Ball dan pusparagam manhua (komik Hong Kong) macam Tapak Sakti dan Legenda Putra Langit.

Beberapa judul cult lainnya seperti serial Asterix juga pertama kali saya baca di tempat itu. Tapi rental di belakang sekolah itu bukanlah satu-satunya yang saya kunjungi.

  Tentang Radio yang Terus Bertahan dengan Caranya Sendiri

Bergeser sedikit ke utara Muhi, persis di pinggir jalan AM. Sangaji, ada sebuah rental bernama Donal. Nyaris setiap hari saya meminjam komik di tempat ini.

Donal “berjasa” besar untuk saya, karena di tempat itulah saya pertama kali mengenal penerbit Sakura Comics. Nama satu ini seingat saya getol mencetak manga erotis bajakan dengan kertas kualitas seadanya.

Buat saya waktu itu, Donal bagaikan oase yang membimbing saya pada pencerahan eksistensial: bahwa dunia remaja perkotaan menjelang baligh takkan bisa lepas dari bacaan-bacaan semacam itu.

Jadinya saya menikmati betul beberapa judul manga erotis seperti Is, misalnya. Walhasil Donal jadi semacam tempat suci untuk memperbarui katalog ingatan saya tentang komik-komik erotis.

Baca Juga: Di Togamas, Saya Didekatkan kepada Rusdi Mathari

Era mengenaskan persewaan komik

Antara tahun 2000-2008 saya kerap berpindah-pindah rental. Kadang satu nomor serial tertentu hilang di Donal, tapi ada di rental lain. Jadinya saya perlu ke tempat lain itu untuk namatin serial yang pengin saya baca.

Kira-kira lima sampai enam rental jadi langganan saya waktu itu. Seingat saya rental komik di Jogja kebanyakan tumbuh di lokasi yang dekat dengan sekolah, kampus, dan juga kos-kosan.

Tentu roda zaman terus berputar. Saya beranjak dewasa; mulai berkuliah; dan mulai meninggalkan rental komik. Anak-anak seangkatan saya kemungkinan besar mengalami fase serupa.

Di saat bersamaan, satu persatu persewaan komik tumbang. Donal tumbang dengan mengenaskan (walau saya lupa kapan persisnya). Saya pernah mendapat cerita dari kawan tentang pemilik Donal yang melego koleksi persewaannya total sebesar 10 juta rupiah.

Rental komik di gerbang belakang sekolah pun nasibnya sama saja. Koleksinya dilego, dan pemiliknya menutup rental. Kalau pemilik rental cukup tabah, dia akan mengganti usahanya jadi bisnis laundry.

Baca Juga: Kisahku Dengan Buku bukan Karena Cinta dari Sananya

  Gus Gayeng bersama Santrinya di Youtube

Biar saja dimakan rayap

Tapi dari semua cerita tentang rental komik yang tiarap dimakan zaman, ada satu yang mungkin masih bertahan sampai sekarang. Saya katakan mungkin, sebab saya tak tahu nasibnya di era kiwari.

Namanya KK Book Rental. Sama seperti tempat persewaan komik lain, dulu saya kerap menyewa komik di sana. Kalau kamu kebetulan lewat di bawah jembatan Lempuyangan atau menyusuri area jalan Prof. dr. Sardjito, dekat jembatan Code, rental itu masih berdiri gagah. Total ada tiga KK Book Rental yang masih buka sampai tulisan ini dibuat.

Beda dengan saudara tuanya yang tumbang satu-persatu, KK tampaknya masih selalu memperbarui koleksi manga-nya dengan yang terbaru. Toh dengan koleksinya yang masif, banyak judul lawas yang dipindah ke gudang penyimpanan KK, yang menurut penjaga rentalnya nggak terurus.

Kalau ada orang yang coba-coba pengin membeli koleksi KK di gudang itu, jelas nggak akan dibolehkan. “Kata bos kita, biar aja (komik) yang di gudang dimakan rayap,” kata sang penjaga KK. Ngenes memang, tapi biarlah, saya nggak berhak protes.

Saya nggak tahu apa resep pemilik KK Book Rental, sampai-sampai nama satu ini masih bertahan sampai sekarang. Tapi kalau kamu main-main kesana, pengelola KK memang nggak cuma nyewakan komik, tapi juga film dan novel. Mungkin itu yang bikin mereka bertahan, meski saya sendiri nggak yakin.

Saya lupa berapa nomor pelanggan KK yang saya pegang, tetapi tutupnya sebuah taman bacaan di Malang bagi saya jadi berita yang bikin haru. Saya tumbuh di era menjamurnya rental komik terjemahan. Sedikit banyak selera saya akan bacaan populer ikut dibentuk di rental-rental.

  Benarkah Kaset sudah Mati (Secara Bisnis)?

Tapi ya mungkin zaman memang mengharuskan perubahan, semasygul apapun bentuknya. Sialnya, persewaan komik kayaknya jadi salah satu objek yang kerap dirundung kemasygulan yang bikin para penggemarnya baper.

Written By

Editor in chief di the Monkey Times. Menaruh minat luas pada perkembangan media digital dan arus wacana yang berkembang di sekitarnya. Bergabung dengan the Monkey Times sejak 2019.

Artikel Terkait

Literasia

Sebagian orang mungkin menganggap 'KATA' sebagai novel populer. Kalau begitu anggapannya, maka ada kabar baru: Falcon Pictures mengadaptasi novel tersebut ke layar lebar.

Literasia

Hanya saja informasi tentang aktor/aktris yang terlibat dalam produksi film the Other Side masih dirahasiakan.

Ulas Buku

Novel karya Adelina Ayu ini tergolong ringan secara bahasa, namun punya bobot berlebih di dalamnya.

Literasia

Apakah kamu tertarik mendalami jurnalisme musik? Ada satu buku asyik yang membahas topik itu dengan serius.

Literasia

Dimana tempat makan enak di Jakarta? Sebuah buku panduan berjudul Top Tables akan menunjukkan jawabannya ke kamu.

Ulas Buku

Buku ini menyenangkan dibaca. Penuh dengan cerita konyol remaja kuliahan di kota Jogja, yang demen mabuk-mabukan dan main judi.

Literasia

Resensi buku karya Dea Anugerah, Hidup Begitu Indah dan Hanya itu Yang Kita Punya.

Narasi

Kisahku dengan buku bukan dimulai dengan cinta yang menyeluruh.