Penulis: Dina Meidiana

Besar di Keluarga Beda Agama, Tetap Happy dan Seru

Aku terlahir dari keluarga beda agama. Ayahku menganut katolik dan ibuku adalah seorang muslim.

the Monkey Times – Pernikahan merupakan salah satu perjalanan sakral yang dialami oleh mayoritas orang. Aturan-aturan pernikahan juga tertulis jelas salah satunya meliputi keyakinan.

Lalu, bagaimana jika urusan keyakinan ini berbeda? Pasti akan menjadi penghambat. Tapi, hal ini tidak berlaku untuk keluargaku. 

Aku terlahir dari keluarga beda agama. Ayahku menganut katolik dan ibuku adalah seorang muslim.

Tapi, sepertinya tidak menjadi masalah besar di dalam keluargaku hingga sekarang. Bahkan kakakku kandungku juga seorang katolik taat dan aku sendiri muslim. Kita berdua selalu kompak dan saling bertukar pikiran dalam segala hal. 

Banyak dari teman-temanku yang bertanya bagaimana rasanya hidup di antara dua keyakinan berbeda dalam satu keluarga.

Nah, bagi kalian yang penasaran, aku akan bagikan beberapa pengalaman menyenangkan hingga saat ini. 

Saling Menjaga saat Puasa 

Ini yang aku kagum dari keluargaku. Saat sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, ayahku serta kakakku akan menemaniku dan ibu untuk sahur. Bahkan ayah sering memasakkan menu sahur. 

Walaupun mereka tidak ikut berpuasa, tapi tidak pernah kakak dan ayah makan di depanku atau ibu.

Mereka pasti akan makan di tempat yang kami tidak bisa lihat, semisalnya di dapur atau ruang tamu. Saat berbuka juga ayah juga rela memasakkan berbagai macam menu lezat untukku dan ibu.

Di agama katolik pun juga ada masa di mana umatnya menjalankan puasa. Kalau ayahku menyebutnya puasa paskah.

Tapi, puasa paskah ini biasanya hanya tidak makan yang menjadi pantangan. Semisalnya adalah tidak makan daging sapi atau ayam. 

Aku pun juga menghormatinya, jadi kalau ayah dan kakak sedang menjalankan puasa paskah, menu yang jadi pantangan juga tidak akan dimasak oleh ibu.

Kalau semisalnya aku ingin makan dengan bahan dari daging-dagingan, aku memilih untuk tidak makan di rumah. 

Lebaran dan Natal Jadi Hari Spesial 

Kalau membahas keyakinan, pasti ada hari-hari spesial. Jadi, buatku hari lebaran dan natal itu berkah buat kami sekeluarga.

Saat lebaran, aku juga akan sungkem dengan ibu dan ayahku. Saat natal pun aku akan mengucapkan Selamat Natal untuk ayah dan kakakku. 

Saat lebaran pun aku juga akan tetap datang ke rumah keluarga dari pihak ayahku. Mereka pun menyambutku dengan senang hati.

Ketupat dan opor juga mereka sajikan untukku dan ibu yang sedang merayakan lebaran. Paling senang kalau ada yang berikan uang jajan.

Hehe.. namanya juga lebaran, dapat amplop dari keluarga ya senang, dong. 

Di saat natal juga kami akan berkumpul. Aku memang tidak merayakan, tapi aku diajarkan untuk menghormati keyakinan keluarga ayahku.

Biasanya aku dan ibu akan datang ke acara makan-makan yang diadakan salah satu keluarga ayah.

Aku tidak ragu juga untuk memberikan hadiah natal ke ponakan-ponakan. Selama keluargaku bahagia, aku sudah pasti bahagia. 

Belajar Memahami Agama dan Manusia 

Bukan berarti aku mempelajari agama ayahku dan jadi seorang katolik. Tidak seperti itu, tapi disini aku jadi lebih memahami kepercayaan ayah dan kakakku.

Aku jadi lebih mengerti bahwa dalam agama katolik tidak memiliki perbedaan ajaran yang terlalu jauh dari Islam. 

Ibu, ayah, kakak dan aku memiliki Tuhan yang sama, tapi hanya berbeda cara berdoa. Kami sama-sama makhluk ciptaan-Nya yang juga penuh kekurangan.

Pandanganku terhadap manusia juga lebih terbuka. Aku menjadi lebih santai saat bertemu orang-orang yang berbeda keyakinan denganku. 

Bahkan beberapa teman yang beragama katolik sempat bertanya, kenapa aku bisa mengerti istilah Misa atau Jalan Salib.

Walau hanya tahu sedikit, tapi ini menjadi obrolan menarik dengan mereka. Aku pun juga jadi ikut belajar banyak agar bisa menjadi pribadi yang mampu menerima orang-orang dengan keyakinan berbeda. 

Percaya Jika Cinta Tidak Terbatas 

Melihat kedua orang tuaku yang memiliki perbedaan keyakinan, tapi tetap bersama. Membuatku memiliki pandangan yang lebih luas terhadap cinta.

Aku belajar bahwa rasa cinta ini tidak terbatas. Dari cinta terhadap agama yang orang tuaku anut, cinta yang mereka jalin sampai sekarang hingga cinta terhadap sesama manusia lainnya.  

Aku pun menjadi sadar bahwa sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT, kita bebas mencintai siapapun.

Aku yakin, Sang Maha Kuasa pasti akan memberikan jalan bagi seluruh umat-Nya. Bila kamu sedang menjalin kasih dengan yang berbeda agama, berdoalah dengan cara yang kamu tahu. Yakinlah Tuhan akan memberikan petunjuk agar kalian bersama. 

Dari seluruh pengalaman yang aku rasakan hingga sekarang, tidak ada satupun hal yang membuatku sedih dari segi agama.

Kami memang memiliki perbedaan, tapi kami adalah keluarga. Aku bersyukur bisa hidup di tengah keluarga yang mengajarkanku akan toleransi terhadap seluruh umat beragama. 

Kalau kalian juga besar dari keluarga beda agama, adakah pengalaman lain yang juga dirasakan?