Kalender Gregorian: Lahir sebagai Revisi atas Kalender Julian

Walau begitu, kemunculan Kalender Gregorian sempat ditentang negara-negara Eropa yang menganut agama Protestan.


ilustrasi kalender gregorian

Ilustrasi kalender masehi/gregorian. (Foto: Getty Images lewat Canva Pro)


Oleh: Data Keeper

Diterbitkan:

the Monkey Times – Hari ini kita semua menyepakati pemakaian Tahun Masehi sebagai istilah yang merujuk pada periode tahunan yang terus-menerus kita pakai di hidup kita. Sederhananya, tanggalan yang kita pajang di ruang makan, misalnya, merupakan benda yang merujuk pada sistem penanggalan Tahun Masehi.

Dan sistem penanggalan itu merujuk pada kodifikasi bulan, hari, dan minggu yang diatur dalam sistematika Kalender Gregorian. Nama ini merujuk pada sistem penanggalan yang disepakati secara universal di sebagian besar negara.

Sejarah Kalender Gregorian

Kalender Gregorian adalah sistem penanggalan yang paling sering digunakan di berbagai negara. Dibutuhkan waktu sekitar 300 tahun sebelum akhirnya Kalender Gregorian dipakai di berbagai negara untuk menggantikan Kalender Julian.

Mengutip situs Time and Date, gregorian pertama kali diperkenalkan sebagai sistem kalender pada 1582. Pada dasarnya sejarah pemakaian kalender gregorian tidak bisa lepas dari keputusan otoritas tertinggi agama Katolik – dalam hal ini Paus – yang mengesahkan penggunaan penanggalan tersebut.

Walau begitu secara ilmiah kita bisa mengatakan kalender gregorian dibuat untuk merevisi sistematika Tropical Year yang dipakai di Kalender Julian.

Mengacu buku A History of Time: A Chronicle of Calendars, Clocks and Time Zones yang ditulis Paul R. Wonning, gregorian lahir karena pendapat yang menyatakan ketidakakuratan Kalender Julian membuat semua hal terkait penanggalan global jadi rumit. Perkaranya karena jurang perbedaan antara solar year dan sistematika hitungan hari dalam tahun yang tercatat di kalender Julian terlalu lebar.

Walhasil, bila periode solar year disepakati selama 365 hari, 5 jam, 48 menit, dan 45 detik, jumlah hari dalam kalender kalender julian sedikit lebih panjang dari skema tersebut.

Dengan kata lain, periode solar year tiap empat tahun sekali dicatat lebih pendek ketimbang hitungan tahun di kalender julian. Karena itulah jumlah hari pada 1582 lebih panjang 10 hari ketimbang periode edar matahari.

DIlatarbelakangi kejadian tersebut, karuan saja Paus Gregory XIII kemudian memberi izin penggunaan kalender baru untuk merevisi kalender julian.

Bagaimana kalender gregorian menghitung hari, bulan dan tahun

Sistematika gregorian didasarkan periode solar year. Ini berarti dalam setahun ada 365 hari yang dibagi ke dalam 12 bulan, dimana jumlah hari setiap bulan berbeda satu sama lain.

Ada 30 atau 31 hari setiap bulan dari 11 bulan pada penanggalan gregorian. Pengecualian untuk bulan Februari yang memiliki 28 hari. Walau begitu, 1 hari ekstra ditambahkan setiap empat tahun sekali di bulan Februari. Konsekuensinya, empat tahun sekali kita menemukan satu hari yang lebih panjang dalam setahun (366 hari).

Baca Juga:  Jadwal dan Rute baru Bus Double Decker Rosalia Indah

Kalender gregorian mencatat 7 hari dalam seminggu, dan setiap minggu dinomori mulai 1 sampai 52 atau 53 minggu. Itu berarti dalam setahun kita menjalani 52 atau 53 minggu. Di titik itu kita juga mengenal beberapa perbedaan kecil dalam penerapan skema kalender gregorian di berbagai negara.

Misalnya: kalau di Indonesia kita mengenal Senin sebagai penanda hari pertama dalam satu pekan, Minggu terlanjur dikenali sebagai hari pertama dalam satu pekan di negara seperti Amerika Serikat dan Kanada.

Sekilas kita tidak melihat adanya masalah dengan mekanisme penerapan kalender gregorian. Namun dengan mekanisme penghitungan seperti itu pun, ada yang menyebut kalender gregorian sebagai upaya untuk mengganti tanggal Hari Paskah.

Mengutip laman History.com, perayaan Paskah pada 1582 tidak jatuh pada 21 Maret karena kalender julian salah 11 menit dalam menghitung solar year. Bagi Paus Gergory XIII, salah penghitungan hari paskah jadi masalah, karena di tahun itu Hari Paskah melenceng jauh dari titik musim semi matahari, yang di belahan bumi utara seharusnya terjadi mulai 20 Maret.

Pada akhirnya otoritas katolik yang diwakili Paus Gregory XIII memang harus disebut sebagai individu yang berada di balik kelahiran kalender gregorian.

Namun kita tidak boleh lupa satu hal: kalender gregorian didesain oleh Aloysius Lililus (yang dikenal dengan nama Luigi Lilio). Dia adalah dokter, ahli astronomi dan filsuf yang lahir pada 1510 dan meninggal pada 1576. Di titik ini kita tahu, kalender gregorian diresmikan enam tahun setelah kematiannya.

Pun setelah diresmikan, butuh beberapa ratus tahun sampai sistem kalender gregorian diadopsi di banyak negara. Negara-negara Eropa yang menganut agama Katolik jelas tidak butuh waktu lama untuk menyetujuinya. Namun tidak dengan negara-negara lain yang mayoritas warganya menganut agama lain.

Negara-negara Eropa yang menganut Protestan sempat mencurigai keputusan Paus Gregory XIII sebagai upaya untuk melemahkan perjuangan mereka.

Walhasil, Jerman – yang menganut Protestan – baru memakai kalender gregorian pada 1699. Inggris baru mengadopsinya pada 1752. Kemudian disusul Swedia (1753), Jepang (1873), China (1912), Uni Soviet (1918) dan Yunani (1923).

Temukan artikel menarik lainnya di topik: Pengetahuan sehari-hari, sejarah penanggalan masehi

Atau baca artikel lain yang ditulis: Data Keeper



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial