Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kisah Nabi Muhammad

Tahun Gajah dan Kisah Raja Abrahah Mencoba Menghancurkan Ka’bah

Kisah raja Abrahah selalu identik dengan tahun gajah, dimana waktu itu ia mencoba menghancurkan ka’bah.

ilustrasi kisah raja abrahah dan kelahiran Nabi Muhammad

the Monkey Times – Kelahiran Nabi Muhammad merupakan peristiwa penting bagi umat Islam dan selalu diperingati setiap tahun. Tahun kelahiran Nabi disebut juga dengan Tahun Gajah, karena pada masa itu terjadi peristiwa penting: percobaan penghancuran Ka’bah yang dilakukan Abrahah.

Mekah secara historis menyimpan aura yang menarik para peziarah meninggalkan rumah mereka, kemudian berbondong-bondong menuju kota dengan rumah suci yang dibangun Ibrahim dan Ismail beratus-ratus tahun lalu. Rumah suci itu kita kenal dengan sebutan Ka’bah.

Dalam nukilan yang tercatat di buku Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haekal menuliskan betapa sucinya Mekah dan Ka’bah, sampai-sampai daerah lain berlomba membuat rumah ibadat sendiri guna mengalihkan perhatian orang-orang Arab dari Mekah.

“Di Hira pihak Ghassan mendirikan rumah suci, Abraha al-Asyram (selanjutnya disebut Abrahah – red) membangun rumah suci di Yaman. Tetapi bagi orang Arab itu tak dapat menggantikan Rumah Suci yang di Mekah, juga tak memalingkan mereka dari Kota Suci itu,” demikian tulis Haekal.

Haekal menceritakan ambisi Abrahah menyaingi Mekah dan Ka’bah dengan menghiasi rumah suci yang dibangun di Yaman dengan segala jenis perlengkapan paling mewah yang dianggap bisa menarik perhatian orang Arab.

Namun apa lacur usahanya gagal. Orang-orang Yaman pun tetap memilih Mekah sebagai tujuan ziarah.

Kisah Raja Abrahah yang Ingin Menyaingi Mekkah

Abrahah awalnya hanya seorang kepala tentara yang berada di wilayah Yaman. Saat itu Yaman dipimpin oleh Gubernur bernama Aryath yang juga merupakan gubernur pertama dari Yaman. Sebelumnya Yaman dikuasai oleh kerajaan Himyariyah. Aneksasi wilayah kemudian membuat Yaman dikuasai kerajaan Habsyah, dimana rajanya kemudian menunjuk Aryath sebagai gubernur.  

Abrahah tidak suka dengan keputusan tersebut. Dia kemudian membunuh Aryath dan berhasil menguasai komando tentara Yaman.

Abrahah yang akhirnya menjadi gubernur Yaman kemudian memenuhi hatinya dengan ambisi agar bangsa Arab mengalihkan rutinitas ziarah mereka ke Yaman, alih-alih ke Mekah. Ia meminta Kerajaan Habasyah untuk membuat bangunan yang megah agar bisa menyaingi Ka’bah. Bangunan yang dimaksud adalah sebuah gereja.

Abrahah membuat gereja yang besar dan menjulang tinggi di Kota San’a, yang dianggap sebagai gereja yang paling megah di waktu itu. Setelah bangunan selesai ia memberitahukan kepada masyarakat Arab untuk berziarah ke Yaman. Berita ini didengar oleh seluruh penjuru Arab dan sampai ke telinga orang-orang Bani Kinanah.

Beberapa orang Bani Kinanah kemudian melakukan pengrusakan di Kota San’a, termasuk gerejanya. Versi lain seperti yang dicatat Republika yang mengutip tafsir al-Qur’an al-Adhim karya Ibnu Katsir, menyebut kaum Quraisy, Qathan dan Adnan membenci Abrahah karena bangunan tersebut. Sehingga mereka ramai-ramai mendatangi San’a untuk menghancurkannya.

Negosiasi yang Gagal

Mendengar berita tentang pengrusakan gereja, Abrahah kemudian bermaksud membalasnya. Dia bertekad menghancurkan Ka’bah dan bersumpah akan memporak-porandakan rumah suci itu hingga bangunannya rata dengan tanah. Kemudian ia menyiapkan pasukan untuk melakukan penyerangan dengan membawa pasukan gajah.

Maka, mengutip Haekal kembali, “sekarang tak ada jalan lain bagi penguasa Negus itu kecuali ia harus mengancurkan rumah Ibrahim dan Ismail itu”.

Usaha pengrusakan Ka’bah dihalangi oleh beberapa suku Arab. Sayangnya pasukan Abyssinia berhasil menangkap para pemimpin dari suku. Bahkan salah satu diantaranya diminta menunjukkan jalan sebagai pengganti nyawanya.

Pasukan Abrahah berhenti di Mughammis, kemudian merampas apa saja yang mereka temukan di tengah perjalanan, termasuk unta milik kakek Nabi.

Akhirnya para suku Arab mengadakan pertemuan untuk membahas serangan yang dilakukan oleh Abrahah. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk tidak melawan. Kemudian Abrahah mengutus Hunata untuk menemui penjaga Ka’bah.

Kita mengenal penjaga itu sebagai kakek Nabi yang bernama Abdul Muttalib bin Hasyim. Hunata menyampaikan pesan Abrahah: bahwa pasukannya hanya punya tujuan menghancurkan Ka’bah, bukan memulai api peperangan.

Kabar yang disampaikan Hunata membuat Abdul Muttalib – bersama anak-anaknya dan beberapa pemuka Mekah – mendatangi Abrahah.

“Kedatangan delegasi Abdul Muttalib ini disambut baik oleh Abrahah, dengan menjanjikan akan mengembalikan unta Abdul Muttalib. Akan tetapi dengan segala pembicaraan mengenai Ka’bah serta supaya menarik kembali maksudnya yang hendak menghancurkan tempat suci itu ditolaknya belaka,” tulis Haekal di dalam Sejarah Hidup Muhammad.

Sadar usaha negosiasinya berujung kegagalan, Abdul Muttalib memanjatkan doa di sisi Ka’bah memohon perlindungan pemilik Ka’bah. Itu terjadi menjelang malam, sebelum Abrahah dan pasukannya datang. Setelahnya Abdul Muttalib mengajak masyarakat Mekah berlindung di sebuah bukit.

Ilustrasi penyerangan Abrahah ke Mekah. (Foto: Umar Farukh/Wikimedia)

Keesokan harinya Abrahah melakukan penyerangan ke Kota Makkah dengan membawa pasukan gajah. Doa Abdul Muttalib dikabulkan oleh pemilik Ka’bah, Allah. Sepasukan gajah yang dibawanya justru tidak menurut dan hanya berputar putar mengelilingi Ka’bah.

Selang beberapa waktu kemudian datanglah burung Ababil yang membawa batu dan menjatuhkannya ke arah pasukan Abrahah. Pasukan Abrahah semakin panik dan mulai berguguran satu persatu. Di tengah kekacauan Abrahah berhasil kembali ke kota San’a. Namun ia justru meninggal dengan kondisi yang lebih mengenaskan ketimbang pasukannya.

Versi cerita lain seperti yang ditulis Haekal menyebut pasukan Abrahah binasa karena wabah cacar yang menyerang pasukan Abrahah dan membinasikan mereka. Wabah cacar itu mengganas dan terus mengganas. Sampai-sampai anggota pasukan yang mati tidak terhitung lagi.

Kelahiran Nabi Muhammad

Peristiwa kegagalan pasukan Abrahah semakin menegaskan posisi Mekah dalam arti agama. Sekaligus menandai sebuah tahun kelahiran seorang Nabi suci yang kelak dikagumi dan dihormati umat muslim di seluruh belahan negara.

Ketika pasukan Abrahah menyerang Ka’bah, putra Abdul Muttalib, Abdullah, ayah Nabi, tidak berada di Makkah karena sedang berdagang dari Palestina ke Suriah bersama kafilah yang lain.

Di tengah perjalanan Adullah jatuh sakit sehingga menginap di keluarga neneknya yang tinggal di Yatsrib. Akhirnya rombongan kafilah tersebut kembali tanpa Abdullah. Mendengar anaknya sedang jatuh sakit, Abdul Muttalib meminta Harits mengajak Abdullah pulang jika memungkinkan. Namun setelah sampai di Yatsrib, Harits menemukan jika adiknya telah meninggal dunia.

Nabi Muhammad terlahir sebagai yatim.

Tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, Aminah – istri Abdullah – melahirkan Nabi ketika ia sedang tinggal di rumah pamannya. Kabar kelahiran Nabi dikirimkan Abdul Muttalib yang kemudian datang menjenguk cucunya. Ia menggendong cucu tersayangnya dan membawanya ke Ka’bah sembari memanjatkan doa dan rasa syukur.

Rekomendasi Artikel

Otomotif

Volvo memperkenalkan sedan S60 generasi ketiga, yang menantang keberadaan BMW Seri 3 dan Mercedes Benz S-Class.

Sepakbola Inggris

Liverpool mengalami kesialan kala bertandang ke markas Brighton, yang berhasil menahan imbang anak asuhan Jurgen Klopp dengan skor 1-1.

Surat

Surat ini kutujukan untuk pujaan hati. Aku memujamu setiap saat. Sampai-sampai semuanya terasa begitu indah.

Surat

Surat ini kutujukan untuk sosok istimewa. Ayah yang kuingat sebagai seorang sosok pekerja keras yang rela berkorban untuk keluarga.