Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

berburu-gelar-juara
berburu-gelar-juara
Inter dan Milan berburu gelar juara Serie A. (Foto: Getty Images lewat Canva | Grafis: the Monkey Times)

Sepakbola Italia

Menimbang Peluang Juara Serie A Dari kota Milan

Liga Serie A Italia sudah berlangsung hampir separuh perjalanan. Semua tim sudah memainkan pertandingan sampai matchday 14, dengan duo Milan nangkring di puncak klasemen. Siapa yang bakal juara?

the Monkey Times – Sekilas pandang sulit menentukannya. Setidaknya kedua tim sama-sama bermain baik sampai matchday 14. AC Milan mengumpulkan 34 poin, dan untuk sementara berhak menempati singgasana Serie A.

Sedangkan rival sekotanya, Inter Milan, dipisahkan jarak satu poin. Cukup ketat mengingat masih banyak poin yang bisa didulang kedua tim.

Walau begitu Inter sebetulnya unggul selisih gol memasukkan-kemasukan (Inter 17, sementara Milan 16). Sektor penyerangan Inter sedikit lebih buas ketimbang Milan (Inter mencetak 34 gol hingga matchday 14, sementara Milan mencetak 32 gol). Namun pertahanan Milan lebih baik ketimbang Inter (kebobolan 16 gol, berbanding 17 gol yang diterima Inter).

Satu-satunya kesalahan Inter: mereka kalah 2-1 dari rival sekotanya itu dalam pertandingan derby yang berlangsung pada 17 Oktober silam. Kekalahan Inter itu memang tidak menentukan gelar juara. Namun setidaknya memberi gambaran untuk menimbang kekuatan kedua tim, terutama dari sisi penyerangan.

statistik-derby-milan
Statistik pertandingan Inter vs Milan 17/10/2020. (Foto: the Monkey Times)

Statistik di atas memperlihatkan kekuatan Inter yang mendominasi Milan di pertandingan derby. Singkat cerita kita diperlihatkan potensi kekuatan Inter ketika berhadapan dengan rival sekotanya itu, meski toh di saat bersamaan kita tahu juga bahwa Inter tidak berhasil mendominasi pertandingan sepenuhnya. Walau begitu kita bisa bertanya satu hal: kalau Inter mendominasi, lantas kenapa mereka tidak berhasil memenangkan pertandingan?

Jawabannya pertama-tama bisa dilihat dari taktik Milan yang mengandalkan pressing ketat terhadap pemain Inter, yang berusaha membangun ritme serangan mulai dari bawah. Dengan kata lain, di pertandingan derby itulah Milan menerapkan formula dimana mereka diwajibkan memberi tekanan keras kepada punggawa Inter yang memainkan bola di area lapangan tengah. Walhasil, Inter dipaksa memainkan bola lebih melebar.

Di titik itulah taktik Inter berubah. Dari memanfaatkan umpan pendek sekaligus memainkan ritme di lapangan tengah, kemudian berubah jadi memanfaatkan operan panjang. Taktik ini sempat berjalan lancar, apalagi gap antar pemain tengah dan belakang Milan sempat terbuka lebar akibat gelandang Inter menarik diri lebih dalam ke wilayah pertahanan mereka, yang – karena taktik pressing tinggi – pada gilirannya menarik pemain Milan untuk mengikutinya.

Sayang perubahan taktik yang dilakukan Inter gagal membuahkan kemenangan. Karena Milan dengan sabar terus menerapkan tekanan tinggi, mengubah formasi pertahanan mereka dengan menumpuk lebih banyak pemain di lapangan tengah, sembari mencari celah untuk menyerang balik. Hasilnya adalah dua gol Ibrahimovic yang hanya mampu dibalas satu gol dari Inter yang dicetak Lukaku.

Tidak agresif, tapi efektif

AC Milan sampai matchday 14 Serie A sebetulnya tidak bisa digolongkan sebagai tim yang agresif. Tampaknya jauh lebih tepat bila kita menyebut mereka sebagai tim yang efektif. Taktik pressing tinggi, sembari mencari celah untuk menyerang balik, seperti yang ditunjukkan ketika melawan Inter, agaknya jadi sebuah pertunjukan yang diulang terus menerus dari satu pekan ke pekan lain.

Statistik di bawah ini akan menunjukkan perbandingan agresivitas permainan duo Milan sepanjang 14 matchday Serie A.

#1TimTotal Gol*Rata-rata gol
1Inter Milan 342.43
2AC Milan322.29
Catatan: *) sampai matchday 14

Untuk soal jumlah gol yang dicetak kedua tim, Inter Milan lebih superior ketimbang rival sekotanya, meski dalam soal total tembakan, AC Milan lebih efisien ketimbang Inter – sebagaimana ditunjukkan lewat tabel di bawah ini.

Hal itu mungkin terjadi karena penerapan taktik serangan balik yang lebih berjalan efektif, sehingga menghasilkan peluang yang lebih efektif pula.

#1TimTotal tembakan*On TargetOff Target
1AC Milan2018870
2Inter Milan1839165
Catatan: *) sampai matchday 14

Hanya saja permainan Milan sampai matchday 14 Serie A Italia memang tidak pernah benar-benar agresif, bahkan dalam soal seberapa jauh para pemain mereka menjelajahi lapangan permainan – sebagaimana ditunjukkan lewat tabel di bawah ini.

Lantas, kenapa hal itu jadi penting? Dalam sebuah pertandingan sepakbola, hasil akhir memang seringkali tidak ditentukan oleh seberapa jauh para pemain di sebuah tim berlari dari satu pertandingan ke pertandingan.

Tapi setidaknya indikator rata-rata jarak tempuh pemain bisa memberi kita gambaran tentang seberapa agresif sebuah tim dalam menjalani sebuah pertandingan. Nah, Milan tidak begitu ahli dalam hal ini.

Lagi-lagi, agaknya itu disebabkan taktik Stefano Pioli yang mementingkan pencarian kesempatan mencetak gol lewat pertahanan yang dalam dan pressing ketat, ketimbang terus menerus menekan lawan dengan cara agresif.

Artinya lawan dibiarkan menguasai pertandingan, namun di sisi lapangan para pemain Milan siap menghabisi lawan dengan serangan balik mematikan.

#1TimRerata jarak tempuh pemain*
1Inter Milan112,067 km
2AC Milan108,978 km
Catatan: *) sampai matchday 14

Konsekuensinya, AC Milan juga bukan tim dengan catatan penguasaan bola yang bagus. Ketimbang Inter, AC Milan buruk dalam hal ini – bahkan lebih buruk ketimbang Spezia yang berada di peringkat 17 klasemen Serie A.

#1TimTotal*Own MidfieldOpponents Midfield
1Inter Milan28’5815’1813’40
2AC Milan27’0014’4312’17
Catatan: *) sampai matchday 14. Waktu dalam menit

Yang menarik, kedua tim asal Milano itu sebetulnya tidak pernah benar-benar mutlak menghasilkan catatan penguasaan bola yang bagus. Juventus dan Napoli lebih baik dari keduanya meski secara klasemen tertinggal jauh dari kedua tim.

Dengan kata lain, baik Inter maupun Milan tidaklah benar-benar memainkan sepakbola atraktif sejauh ini. Tapi bagaimanapun keduanya mungkin relatif berhasil – ketimbang Juventus maupun Napoli, misalnya – dalam hal mempertontonkan sepakbola pragmatis dengan caranya masing-masing. Walau begitu pekan-pekan ke depan akan jauh lebih berat bagi Inter ketimbang Milan.

Sampai matchday 18 nanti, jadwal Inter terbilang berat karena masih harus menghadapi AS Roma (matchday 17 – 10/1/2021) dan Juventus (matchday 18 – 18/1/2020). Sementara itu satu-satunya lawan berat Milan hanya Juventus yang akan mereka hadapi di matchday 16 (17/1/2020).

Jadi sampai separuh musim Serie A nanti, ketahanan Milan dan Inter akan diuji berat. Siapa yang bisa meraih pucuk pimpinan klasemen di matchday 18 nanti, kemungkinan besar tim itu yang akan menjuarai Serie A di penghujung kompetisi.

Dalam hal ini AC Milan punya peluang yang lebih bagus ketimbang Inter. Tapi sebaliknya, Inter mungkin berada dalam posisi lebih menguntungkan dalam hal perburuan gelar juara Serie A, sebab mereka sudah tidak lagi bermain di Eropa. Beda dengan AC Milan yang masih harus bertarung di babak 32 besar Liga Eropa.

Artikel Menarik Lain

Bolaku

Sang pelatih ragu Tottenham bisa meraih gelar juara.

Bolaku

Konon katanya Ancelotti 99 persen akan kembali ke klub itu.

Bolaku

Dia ditawar sebesar 60 juta euro, atau sekitar 1 triliun rupiah!

Bolaku

Mereka berdua melakukan pertemuan selama 30 menit guna membahas masa depan Koeman di Barca, setelah serangkaian kegagalan.

Bolaku

Apa kami bilang, Juventus benar-benar bisa juara Coppa Italia, kan?

Sepakbola Inggris

Liverpool mengandaskan tim tuan rumah tiga gol tanpa balas. Memperbesar langkah mereka ke Liga Champions musim depan.

Sepakbola Italia

Pertandingan ini sudah tidak menentukan gelar juara. Namun kemenangan 3-2 untuk Juventus diwarnai hujan penalti.

Bolaku

Leicester City mengangkat trofi piala FA setelah mengalahkan Chelsea 1-0 di Wembley, Sabtu malam (15/05/2021).