Penulis: Anggie Warsito

Jack Antonoff: Personel Fun. yang Menjadi Penulis Lagu Andalan

Walaupun mengalami gangguan kesehatan mental, Jack Antonoff tetap jadi andalan Fun.

the Monkey Times – Selama vakum dari Fun., Jack Antonoff tetap aktif bermusik lewat project solonya, Bleachers. Total, tiga album sudah ia hasilkan lewat project solonya itu.

Antonoff pun juga terjun di balik layar sebagai penulis lagu cum produser. Sudah banyak musisi ternama yang telah memakai jasanya. Mulai dari Taylor Swift sampai Lana Del Rey. Sejumlah nominasi dan penghargaan pun berhasil diraih dari kariernya sebagai penulis lagu dan produser. Semua itu membuat Antonoff menjadi personel Fun. dengan karier yang paling moncer hingga saat ini.

Bermusik Sejak SMP

Antonoff memulai terjun ke ranah musik sejak masih SMP. Saat itu, ia membentuk band bergenre punk bernama Outline. Sebiji EP berhasil ia hasilkan di grup musik tersebut pada 1998 silam.

3 tahun setelahnya, Outline pun resmi merilis album perdana, “A Boy Can Dream” (2001). Dari album inilah Antonoff mulai merasakan yang namanya tur musik bersama sebuah band. Sayangnya, band tersebut harus bubar pada 2002.

Semangat bermusik Antonoff masih berkobar kendati Outline sudah bubar. Bersama temannya yang bernama Scott Irby-Ranniar, ia pun lantas membentuk Steel Train.

Album perdana pun dirilis Antonoff bersama Steel Train pada 2005 silam. Lewat album ini, Antonoff mencoba membangun reputasi Steel Train di skena musik bawah tanah. Dari band ini pula Antonoff bertemu dan Nate Ruess dan Andrew Dost yang kelak menjadi partnernya di Fun..

Andalan Para Diva, Terutama Taylor Swift

Sukses besar Antonoff sebagai anak band baru didapat saat ia menukangi Fun., terutama saat merilis “Some Night” (2012). Di album ini, untuk pertama kalinya Antonoff merasakan bagaimana karyanya terjual jutaan copy, serta bergelimang nominasi dan penghargaan.

Per tahun 2014, Antonoff dan personel Fun. harus jalan sendiri-sendiri dulu sampai waktu yang belum ditentukan. Antonoff pun lantas memanfaatkan momen itu dengan terus berkarya, baik di depan maupun belakang layar.

Khusus di belakang layar, ia mencoba peruntungan dengan menjadi penulis lagu sekaligus produser. Peruntungannya itu tergolong berhasil. Sejumlah diva ternama telah ia ajak sebagai kolaborator. Mulai dari Lorde, Lana Del Rey, hingga Taylor Swift.

Taylor Swift menjadi diva yang paling sering diajak kolaborasi. Tercatat, ada tujuh album dari sang diva yang telah diproduseri oleh Antonoff. Taylor sendiri merupakan sosok yang paling berjasa bagi karier keproduseran Antonoff. Tanpanya, Antonoff bakal dicap sebelah mata oleh orang lain.

“Taylor adalah orang pertama yang membiarkan saya menjadi produser untuk suatu lagu. Sebelum Taylor, orang-orang sering berkata kepada saya kalau saya bukanlah seorang produser. Namun, Taylor meyakinkan saya dengan berkata, ‘I like the way this sounds‘” ujarnya pada The New York Times.

Tak hanya mendapatkan kesempatan menggarap album-album sang diva, Taylor Swift juga membikin Antonoff merasakan indahnya menerima penghargaan sebagai produser. Teranyar, ia bersama Taylor meraih penghargaan Album of the Year di ajang Grammy 2021.

Sempat Bergelut dengan Masalah Kesehatan Mental

Di balik gemilang kariernya, Antonoff rupanya pernah bergelut dengan beberapa masalah kesehatan mental. Mulai dari depresi, gangguan obsessive compulsive, sampai gangguan kecemasan.

Pada Juni 2014, Antonoff memberanikan diri datang ke terapis dan psikofarmakologis guna menyembuhkan semua gejala kesehatan mentalnya. Ia pun juga sempat merilis docuseries bertajuk “Thank You and Sorry” yang menggambarkan seperti apa masalah mental pada dirinya.

Untuk menguatkan dirinya, Antonoff sering mendengar kisah orang-orang yang memiliki struggle yang sama dengannya, namun berhasil melampaui itu semua. Bagi Antonoff, mendengarkan kisah mereka memang tak membuatnya jadi lebih baik. Tapi, setidaknya ia tak merasa menjadi satu-satunya yang mengalami masalah kesehatan mental.

“Itu (masalah kesehatan mental, -pen) akan mudah ditangani bila Anda tak merasa sendirian. Sebaliknya, hal itu akan sulit dikontrol bila Anda merasa jadi satu-satunya yang mengalami hal tersebut. Dari situ, saya rasa penting rasanya untuk membicarakan masalah mental,” ujarnya pada Huffpost.