Penulis: Dina Meidiana

Sejarah Berdirinya Khalifah Bani Umayyah Hingga Keruntuhannya

Secara resmi Dinasti Umayyah berdiri pada tahun 41 Hijriyah atau 661 M di Damaskus

the Monkey Times – Khalifah Bani Umayyah atau sering disebut Dinasti Umayyah adalah kekhalifahan Islam pertama setelah Khulafaur Rasyidin. Dalam catatan sejarah, dinasti ini dibagi menjadi dua periode yaitu pada 661 M hingga 750 M di sekitar Jazirah Arab dengan ibu kota Damaskus serta 756 M hingga 1031 M dengan pusatnya adalah di Cordoba. 

Sejarah Khalifah Bani Umayyah 

Berakhirnya masa kepemimpinan dari Ali bin Abi Thalib menyebabkan berakhir pula pola kepemimpinan yang berdasarkan keteladanan Nabi Muhammad, yaitu lebih mengedepankan musyawarah dalam memilih pemimpin selanjutnya. Dinasti Umayyah berkembang menjadi kepemimpinan turun temurun. 

Dinasti Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan yang sering dipanggil Muawiyah I. Ia merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad da dikenal sebaga pribadi yang sangat taat akan Agama Islam. Muawiyah I memulai politik saat ditunjuk oleh Umar bin Khattab untuk menjadi Gubernur Syiria pada sekitar 631 M. 

Masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib memang sudah penuh dengan kekacauan. Hal ini tidak lepas karena wafatnya Utsman bin Affan. Ali bin Abi Thalib mewarisi banyak keributan di zaman khalifah sebelumnya. Di era inilah terjadi perang saudara yang cukup besar terjadi. Pertempuran Shiffin adalah kejadian yang melemahkan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. 

Dari sinilah dimulainya sejarah dari Dinasti Umayyah. Ketika Ali bin Abi Thalib meninggal karena diserang oleh kaum Khawarij, kepemimpinan diserahkan kepada anaknya, yang juga cucu dari Nabi Muhammad, Hasan bin Ali. Tapi, ia menjabat hanya sesaat saja. Hal ini karena tidak adanya dukungan politik yang kuat. 

Sehingga Hasan bin Ali pun dengan rela menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah I. Dalam buku Sejarah Peradaban Islam yang ditulis oleh Akhmad Saufi dan Hasmi Fadillah, disebutkan penyerahan posisi khalifah ini diikuti dengan perjanjian yaitu pemilihan sesudahnya akan diserahkan kepada umat Islam.

Dengan adanya perjanjian tersebut, maka umat Islam pun bersatu di bawah kepemimpinan satu khalifah. Hanya saja ada perubahan yang tadi sudah disebutkan, yaitu dari pemilihan khalifah secara musyawarah ke arah kerajaan

Secara resmi Dinasti Umayyah berdiri pada tahun 41 Hijriyah atau 661 M di Damaskus. Sehingga ini menyebabkan pusat pemerintah pun ikut pindah yaitu dari Madinah ke Damaskus. Mengingat bahwa pengalaman politik dari Muawiyah I sangatlah panjang, yaitu dimulai dari masa kepemimpinan Nabi Muhammad hingga Ali bin Abi Thalib, tidak heran jika beliau berhasil mengubah banyak hal dalam pemerintah Islam.

Di bawah Dinasti Umayyah perubahan yang paling terlihat adalah dari sistem pemerintahan. Khalifah tidak lagi harus menjadi pemimpin agama seperti khalifah sebelumnya. Dimana untuk urusan ini, ulama adalah yang ditugaskan untuk memimpin. Para ulama pun juga hanya dilibatkan dalam pemerintah jika memang diperlukan. 

Meski ada banyak perubahan dalam masalah pemerintahan, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa Muawiyah I mampu menyebarkan agama Islam secara lebih luas. Peranan Muawiyah I sangat tinggi saat menaklukan wilayah seperti Turki dan Armenia. Angkatan laut yang dibangunnya juga tidak bisa dianggap remeh.

Dimana di bawah komandonya, para pasukan pun berhasil menguasai laut tengah. Kala itu beberapa pulau yang berhasil ditaklukan adalah pulau-pulau yang ada di sekitar Archipel yang berada di antara Yunani, Turki dan Pulau Kreta. Bahkan Muawiyah I pun dengan berani melawan pemerintahan Byzantium. 

Penaklukan wilayah oleh Muawiyah I tidak berhenti disitu saja. Ia melebarkan sayap hingga ke Afrika Utara, Andalusia bahkan sampai ke daratan Perancis. Kepiawaiannya dalam mengatur strategi perang dan berpolitik membawa dinasti ini pun menjadi semakin kuat. Dari luasnya wilayah yang ditaklukan pun memberikan banyak sekali keuntungan bagi Umat Islam kala itu. Keuntungan yang paling besar adalah dari ilmu filsafat dan ilmu hitung.

Karena kesuksesan yang telah ia dapatkan, Muawiyah I ingin mengangkat anaknya, Yazid, untuk menjadi putra mahkota menggantikan dirinya bila wafat. Muawiyah I tahu bahwa hal ini akan berdampak perpecahan di antara umat Islam jika tidak dicegah. Pada tahun 679 M, Muawiyah I mencalonkan Yazid. 

Agar pencalonan ini tidak ada yang melawan, Ia mendekati pemuka hingga seluruh lapisan masyarakat. Bahkan para penentang akan usulan tersebut pun didekatinya satu persatu. Sebagian besar cara ini sangatlah berhasil, walaupun ada yang harus ditakut-takuti agar bisa menerima pencalonan Yazid menjadi pemimpin setelahnya. 

Sistem pemilihan pemimpin ini pun akhirnya dijalankan oleh Dinasti Umayyah. Dimana pemimpin akan jatuh ke tangan anak atau kerabat yang sekiranya dianggap pantas menjabat di posisi tersebut. Dengan berjalannya sistem ini, maka demokrasi atau musyawarah yang dilakukan pada masa Nabi Muhammad juga berakhir. Berganti menjadi sistem monarchiheridetis.

Penolakan Sistem Dinasti Umayyah 

Adanya sistem pemerintahan yang baru tersebut menimbulkan banyak pergolakan. Muawiyah I yang mengangkat anaknya menjadi Khalifah baru mendapatkan banyak penolakan. Terutama dari Hasan bin Ali yang menganggap bahwa Muawiyah I telah melanggar perjanjian yang sebelumnya dibuat. 

Pengangkatan Yazid sebagai putra mahkota akhirnya menimbulkan berbagai gerakan oposisi di tengah masyarakat Islam kala itu. Dimana akibatnya adalah terjadi beberapa kali perang saudara. Bahkan setelah pengangkatan resmi Yazid, beberapa petinggi di Madinah juga enggan menyatakan setia. 

Hal ini pun ditanggapi oleh Yazid bin Muawiyah dengan mengirimkan surat kepada Gubernur Madinah dan memintanya untuk memaksa seluruh masyarakat setia kepadanya. Tentu saja hasilnya banyak yang terpaksa untuk tunduk terhadap kepemimpinan Yazid. Tapi, Hasan bin Ali dan Abdullah bin Zubair tetap menentangnya. 

Mendengar penentangan dari Hasan dan Abdullah, Yazid tidak tinggal diam begitu saja. Terlebih pada saat itu Hasan bin Ali juga dibaiat di Madinah sekitar tahun 680 M. Yazid akhirnya mengirimkan pasukan dan memaksa Hasan untuk setia kepada dirinya. 

Tapi yang terjadi selanjutnya adalah perang yang tidak seimbang. Hasan bin Ali tewas dengan kepala yang terpenggal. Dimana bagian kepala Hasan dikirim ke Damaskus dan badannya dikubur di Karbala. 

Dari sini pun banyak perlawanan yang terus dilancarkan oleh kelompok lain. Dimana yang paling berperan dalam perlawanan ini adalah Abdullah bin Zubair. Pertempuran antara pasukan Yazid bin Muawiyah dan kekuatan yang dikumpulkan oleh Abdullah tidak terhindarkan lagi. Ketika pertempuran hebat ini terjadi, pasukan Yazid bin Muawiyah terpaksa pulang ke Damaskus, karena sang pemimpin dinyatakan wafat. 

Dengan berbagai pertempuran yang terjadi dan Abdullah bin Zubair sudah ditaklukan di bawah kepemimpinan Abdul Malik bin Marwan, kekuatan dari Dinasti Umayyah pun semakin menguat. Hubungan dengan pihak oposisi juga terus mengalami perbaikan saat kekhalifahan Umar bin Abdul Azis. Pembangunan pun dijalankan dengan lancar, zakat juga diringankan hingga sadarnya golongan Syi’ah.

Runtuhnya Dinasti Umayyah 

Akhir dari Dinasti Umayyah adalah pada masa kepemimpinan Yazid bin Abdul-Malik yaitu sekitar tahun 720 M hingga 724 M. Kehidupan masyarakat yang awalnya damai dan tentram terpaksa berubah menjadi kacau balau. Masyarakat menganggap bahwa cara memimpin Yazid bin Abdul-Malik hanya bertumpu kemewahan saja dan tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat. 

Kerusuhan terus berlangsung hingga masa kepemimpinan Hisyam bin Abdul-Malik. Bahkan pada masa ini muncul kelompok baru yang lebih kuat, yaitu Bani Hasyim. Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah dari Dinasti Umayyah tidak ada yang kuat. Selain lemah, mereka juga tidak memiliki moral yang baik. 

Hal ini pun dimanfaatkan oleh Bani Hasyim yang akhirnya mampu menggulingkan Daulah Umayyah yang kala itu dipimpin oleh Marwan bin Muhammad. Bani Hasyim berhasil menangkap Marwan bin Muhammad yang melarikan diri ke Mesir dan membunuhnya. Meski begitu, salah satu Bani Umayyah, yaitu Abdurrahman Ad-Dakhil, berhasil melarikan diri pada tahun 755 M ke Andalusia. 

Dengan tewasnya Marwan bin Muhammad, maka masa khalifah Bani Umayyah di Damaskus juga berakhir dan diganti dengan era baru yaitu Bani Abbasiyah. Meski begitu Abdurrahman Ad-Dakhil mendapatkan dukungan dari kelompok Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol) dan mengangkat dirinya sendiri menjadi Amir (Pemimpin). 

Photo of author
Penulis konten yang tinggal di Jogja. Menggemari segala hal berbau Korea. Tetap santai dikala ada kesempatan.

Berita Terkini:

Kenapa mobil butuh asuransi
Kenapa Mobil Butuh Asuransi?
teknologi pengenlan wajah
Samsung Disebut-sebut Sedang Bekerja Meningkatkan Akurasi Teknologi Pengenalan Wajah
Promo Shopee Cashback
Shopee Berikan Cashback Rp 75,000 untuk Pengguna Baru
Bagi bagi ikan nelayan
Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama Bagikan Ikan Gratis Sebanyak Satu Ton

Artikel Terkait:

Sejarah Berdirinya Khalifah Bani Umayyah Hingga Keruntuhannya

Logo the Monkey Times

Kontribusi
Kirim Surat

The Monkey Times adalah media digital yang dikelola Rotasi Media Bahagia

Bagikan artikel ini