Hidup Optimis dengan Musik Dangdut Via Vallen

Musik dangdut kadang bisa membuat pendengarnya jadi merasa lebih optimis menghadapi hidup.


Ilustrasi pertunjukan dangdut

Ilustrasi pertunjukan dangdut

Oleh: Mas Hadid
Diterbitkan:

the Monkey Times – Sayup-sayup terdengar suara azan maghrib di seberang jalan, persisnya sekitar 100 meter dari pintu keluar Stasiun Jatinegara. Saya melangkahkan kaki cepat-cepat, mencari warung kopi untuk sekadar berbuka puasa. Sore itu saya menjauhi sikap hidup optimis.

Akhirnya ketemulah warung kopi yang saya cari. Di seberang jalan; sekitar 100 meter ke arah Timur dari pintu keluar stasiun. Disana sepasang suami-istri mengelola warung kecil yang menjual mie rebus/goreng, aneka gorengan dan minuman.

Sembari memesan kopi panas dan semangkuk mie rebus telor, saya mengambil ponsel pintar di saku celana. Sembari membuka Instagram, saya mengamati pelan-pelan feeds penghuni Instagram yang saya ikuti. Mungkin ada satu-dua foto yang bisa saya berikan like, begitu pikir saya.

Ternyata tidak ada yang menarik. Jadinya saya simpan kembali gawai itu saku celana. Di sebelah saya seorang remaja menyetel lagu keras-keras di smartphone.

Pancene kowe pabu, nuruti ibumu, jare nek ra ninja, ra oleh dicinta,” demikian lirik yang keluar dari pengeras suara gawainya. Aha! Saya tahu penyanyinya: Via Vallen. Warna vokalnya terlalu khas untuk tidak saya kenal.

Banting setir ke Via Vallen supaya hidup optimis

Dalam daftar putar musik sehari-hari, nama Via Vallen kadung nyangkut di otak saya yang bodoh ini. Jadinya kalau menyebut dangdut, otomatis pikiran saya nyangkut nama doi. Persetan yang lain. Seolah-olah dangdut adalah Via Vallen, dan berlaku sebaliknya.

Walau begitu saya nggak bermaksud menafikan penyanyi dangdut lain. Tapi yha maklum saja, namanya juga opini pribadi. Malah, ketika berusaha keras jadi anak dangdut garis keras yang hafal sebagian besar lagu dangdut – kemudian gagal pada akhirnya – saya malah kembali melirik This is Via Vallen, sebuah berkas daftar putar yang ditawarkan Spotify.

Nah, berkas itulah yang selalu saya putar berulang-ulang dalam kondisi kejiwaan macam apapun; mau itu sedih, gembira, atau terlunta-lunta sekalipun. Saking seringnya saya mendengarkannya, lama-lama saya bisa mengingat satu persatu unsur lagu yang dimuat di dalam berkas tersebut.

Remaja tanggung yang memutar ‘Kimcil Kepolen’ di sebuah warung kopi pinggir jalan itu salah satu contoh gimana saya menghafal Via Vallen dengan baik.

Selama ini kita semua kaya’nya tahu betapa terkenalnya Via. Dia pernah tampil di final Piala Presiden 2018 di Gelora Bung Karno, yang mempertandingkan Persija vs Bali United. Waktu itu dia sempat membawakan ‘Sayang’.

Baca Juga:  Video Klip Kate Perry 'Electric' menampilkan Pikachu

Lalu Via, bersama dengan Nella Kharisma, sempat dikontrak Gus Ipul untuk jadi pengisi suara sekaligus model lagu kampanye ‘Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur’. Ini terjadi pada momen Pilkada Jawa Timur 2018.

Rasanya dua contoh di atas sudah layak jadi bukti betapa terkenalnya Via Vallen. Tapi yang pengin saya bicarakan tak berhenti sampai disitu saja.

Beberapa statistik penting

Supaya nggak terlalu abstrak, ada baiknya saya mengutip survei Nielsen Radio Audience Measurement tentang demografi pendengar dangdut pada 2016, sebagaimana dikutip oleh Katadata.

Jumlah pendengar dangdut dari kalangan milenial.

Survey yang dilakukan terhadap 8,400 responden berusia 10 tahun ke atas mau memperlihatkan kepada kita posisi dangdut sebagai musik yang masih banyak didengarkan oleh sebagian besar orang Indonesia dari berbagai rentang usia.

Saya tak mampu menemukan data akurat yang menjelaskan lebih rinci mengenai seberapa banyak orang Indonesia dari berbagai rentang usia yang memilih Via Vallen sebagai opsi utama mereka ketika menyimak musik dangdut. Tapi ….

Data dari Spotify bisa sedikit menjelaskan basis kepopuleran Via berdasarkan berapa kali sebuah lagu diputar oleh pendengar.

Lafu dandgut Via Vallen yang paling sering diputar di Spotify.

Saya cuma mau nunjukin bahwa dangdut, khususnya seperti yang diwakili Via Vallen, diterima dengan baik. Kalau begitu faktanya, kenapa orang memilih musik dangdut, khususnya seperti yang dibawakan Via?

Mau hidup optimis, cobalah berkiblat ke dangdut

Manusia biasa seperti kita nggak pernah lepas dari usaha untuk selalu mencoba waras; menginginkan semua aspek dalam hidup berjalan baik; selalu berpikir positif; hidup optimis; dan mencoba nyari ketenangan dalam hidup.

Muara dari semua itu adalah visi untuk menemukan kebahagiaan hidup. Metode untuk menemukan kebahagiaan hidup bermacam-macam. Ada yang setiap minggu menziarahi makam wali/auliya; ada yang mengikuti pengajian mingguan; ada yang memilih bermain dengan anaknya seharian di akhir pekan; ada pula pilihan yang lebih universal, misalnya mendengarkan musik.

Apapun pilihan yang sedang kamu ambil, disini saya ingin fokus pada satu titik saja: asumsi bahwa mendengarkan musik adalah pilihan bagus untuk pikiran dan tubuh. Pendek kata, musik berhubungan erat dengan emosi positif.

Dalam sebuah studi yang dimuat di jurnal Frontiers of Psychology, musik dianggap sebagai metode tertua yang ampuh untuk mengurangi stres. Sederhananya, musik mampu memperbaiki emosi manusia yang terkadang bisa remuk karena banyak sebab, misalnya ketika diri divonis menderita penyakit kronis; ketika patah hati, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  3 Lagu Spesial untuk Hari Ayah Nasional

Kalau pernyataan itu diterjemahkan supaya lebih ngonteks sama tulisan ini: mendengarkan musik dangdut memiliki kemungkinan untuk menjadikan hidupmu lebih optimis di tengah kondisi negatif.

Lima lagu Via Vallen pilihan

Ada adagium populer yang mengatakan: mau susah atau sedih sekalipun, dangdut tetap bisa membuatmu bergoyang. Kalau kamu merasa hidupmu sedang berada di titik nadir, cobalah sejenak memutar lima lagu Via Vallen di bawah ini. Sembari ditemani kripik dan segelas kopi juga boleh.

  • Aku Cah Kerjo

Hidup optimis dimulai dari nrimo, kemudian setelahnya bersikap sabar dan pasrah. ‘Aku Cah Kerjo’ menurut saya mengajarkan tiga konsep itu, yang sepintas gampang diucapkan tapi susah dilakoni, dengan cara yang menyenangkan.

Saya sangat suka bagian ketika Via merapal bagian lirik ‘Aku Cah Kerjo’ layaknya seorang rapper di menit ke 3.50 – 4.05. Ketika rentetan romantisme liris diledakkan di menit 4.05, yang tertinggal cuma decak kagum. Aduhai!

  • Kebacut Baper

Intro lagu dibuka dengan rock melodius, dengan campuran ketipung, kendang plus seruling ala-ala musik Melayu. Seluruh bagian lirik ‘Kebacut Baper’ membuat saya ngakak setengah mati.

Bagian paling menarik ada di menit ke 0.44 – 1.12. Dengan vokal paling manis, Via membawakan kisah remaja tanggung jatuh cinta. Selipan vokal kedua dari pria dengan cengkok Jawa – di sepanjang lagu – membuat saya semakin ngakak.

  • Bojo Galak

Kalau diresapi lebih dalam, lagu ini sebetulnya menarasikan kisah sedih. Tetapi langgam musik plus tone vokal Via menjadikannya jauh lebih ceria dibanding yang sepintas terdengar. Ketulusan dan kemampuan untuk pasrah sepenuhnya jadi pesan utama yang mau diperdengarkan Via di lagu ini.

  • Banyu Langit

Saya sangat suka dengan cara Via membawakan lagu lawas milik Didi Kempot ini. Rasa rindu seorang kekasih yang dirapal lewat syair di dalamnya dibawakan dengan sangat puitis, sembari meminjam imaji-imaji alam. Rindu di dalamnya menjanjikan kesetiaan.

  • Pamer Bojo

Dibanding keempat lagu diatas, ‘Pamer Bojo’ dibawakan dengan cara yang lebih modern. Sedikit racikan ala funk dan jazz, plus melodi tipis-tipis, ketukan drum penuh tenaga, menemani vokal Via yang terdengar lebih “dewasa” dibanding empat lagu diatas. Terasa beda namun tetap bisa bikin bergoyang.

Ujung dari semuanya

Apa yang menjadikan hidup hari ini lebih optimis dibanding hari kemarin? Sepertinya ada banyak faktor. Mengoreksi kesalahan diri, kemudian berusaha memperbaikinya, misalnya, bisa jadi membuat hidup seseorang lebih optimis.

Baca Juga:  Ini dia Para Pemenang Anugerah Musik Indonesia Awards 2020

Atau mungkin tindakan kecil nan sederhana seperti menyimak musik dangdut, misalnya; siapa tahu itu membuat hidup optimis bukan sekedar harapan kosong.

Sumber:

  • Adam M. Croom. Music, Neuroscience, and the Psychology of Well-Being: A PrĂ©cis. Front Psychol. 2011; 2: 393.
Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar musik tanah air, rekomendasi lagu

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru