Review Buku Dea Anugrah: Hidup itu Menyenangkan, Walau Kadang So So

Resensi buku karya Dea Anugerah, Hidup Begitu Indah dan Hanya itu Yang Kita Punya.


Ilustrasi resensi buku Hidup itu Indah dan Hanya itu Yang Kita Punya

Hidup itu Indah dan Hanya itu Yang Kita Punya.


Oleh: Mas Hadid

Diterbitkan:

the Monkey Times – Kalau begitu indah, apakah hidup itu menyenangkan bagi semua orang? Sebelum menjawabnya, saya ingin bercerita satu hal kecil, tepatnya sebuah perbincangan di malam Sabtu, di sebuah pondok Pesantren di pinggiran kali di Jalan Wonosari.

Malam itu saya menceritakan sebuah judul, Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, di depan seorang kiai. Kepada kiai saya bercerita baru saja membeli sebuah buku yang judulnya menarik hati – paling tidak untuk saya pribadi.

“Lalu, apa kesimpulanmu setelah membacanya?,” tanya kiai. Saya kesulitan menjawab beliau waktu itu.

Pak kiai kemudian menukar ketidakmampuan saya menjawab dengan cerita seorang tukang bangunan yang bunuh diri di sebuah komplek perumahan di dekat kediaman beliau. Umurnya masih muda. Taksiran pak kiai sekitar 25 tahun. Dia ditemukan gantung diri. Tidak ada yang tahu sebabnya dia bunuh diri di usia semuda itu.

Cerita itu diakhiri dengan pak kiai menghirup asap rokok dalam-dalam, kemudian menyemburkannya. Lalu menutupnya dengan satu pamungkas: “hidup ini kan begitu indah, kenapa anak semuda itu pengin cepet-cepet mati.”

Hidup itu Menyenangkan, kan?

Saya pertama kali mendengar nama Dea Anugrah beberapa tahun lalu, ketika namanya disebut dalam sebuah esei (atau status Facebook?) yang ditulis Saut Situmorang. Kini, namanya nongol lagi di depan mata saya, tepatnya lewat sebuah buku berjudul Hidup itu Begitu Indah dan Hanya itu Yang Kita Punya.

Dea memilih satu tulisan di akhir bukunya sebagai judul buku kumpulan tulisan yang diterbitkan Buku Mojok pada Februari 2019 itu. Ada 20 tulisan yang terkumpul disana, dan semuanya sudah pernah terbit di Tirto.id sepanjang 2016-2018.

Win Han, penulis puisi dan cerpen yang tinggal di Bandung, menilai Hidup Begitu Indah sebagai bunga rampai yang “[…] mengingatkan pada serial Catatan Pinggir Goenawan Mohamad. Namun, dalam wujud yang lebih segar dan asyik.” Penggalan itu dimuat di laman Detik.com.

Saya tak pernah membaca Catatan Pinggir Goenawan, jadi perkara kebenaran pendapat Win Han tak pernah bisa saya pastikan. Namun saya lebih tertarik pada bunyi klaimnya: “lebih segar” dan “asyik”.

Benarkah Hidup Begitu Indah lebih segar dan asyik? Saya ingin menilainya lewat tulisan yang jadi judul buku itu sendiri.

Pengalaman Diri Sendiri vs. Yang Saya Baca

Kadang saya menakar bagus tidaknya sebuah buku berdasarkan pengalaman pribadi. Semakin dekat sebuah tema buku dengan pengalaman pribadi, hati saya semakin melonjak kegirangan. Artinya saya bisa menggali pengalaman dan cerita orang lain, untuk kemudian menakarnya menggunakan pengalaman pribadi.

Baca Juga:  Jurnalisme Musik dan Hal-Hal Terkait Dengannya

Sering juga saya memperoleh pengetahuan baru dari pengalaman orang lain. Pengalaman membaca yang terakhir ini juga saya sukai sepenuh hati. Meski tentu saya sepenuhnya sadar penilaian dengan cara seperti ini sangat subjektif dan tergantung kata hati.

Namun lewat cara seperti itu saya menemukan kisah hidup manusia yang menarik. Dalam beberapa larik paragraf di Hidup Begitu Indah dan Hanya itu Yang kita Punya, Dea dengan caranya yang masygul, mengungkap penyesalannya karena kehilangan teman lama gara-gara ulahnya sendiri.

Pokok yang ingin dia bicarakan dalam tulisannya itu adalah ‘dunia ideal’, dunia yang – dalam kata-kata Dea sendiri – “bagi saya kini, cuma selaput tipis di kaki langit yang terus menjauh saban kita mendekatinya. Yang ada hanyalah dunia ini, beserta hidup yang bergulir terus, terus, di dalamnya” (hlm. 175).

Soal Dunia Ideal dalam Pikiran

Ketika sepertinya semua orang punya angan-angan mewujudkan dunia ideal dalam pikirannya, Dea malah menasihati kita untuk menjauhinya. Tak ada dunia yang ideal, walau sampai setengah mampus kita semua pernah coba mewujudkannya.

Bagi saya sendiri, dunia yang ideal jadi semacam angan-angan. Saya cenderung menyebutnya sebagai eskapisme yang mengendap di bawah sadar. Punya rumah jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Hidup di negara yang tidak berpihak pada kapitalisme. Tetangga yang ramah, jauh dari prasangka buruk, dan toleran terhadap sesama. Punya ini-itu-makmur-sampai-mati.

Sebagian besar dunia ideal saya ada di dalam angan-angan saya sendiri. Toh walau sepertinya semua masih sulit saya gapai, rasanya semua orang yang secara normal masih bisa berangan-angan akan terus berusaha menggapai yang ideal tadi. Termasuk saya sendiri.

Bagaimana kalau seandainya yang ideal itu tadi tak terwujud? Kecewa? Bisa jadi. Dirundung murung? Sangat manusiawi. Toh guliran hidup seorang manusia penuh dengan kesenangan dan rundungan yang muncul silih berganti.

Di tengah situasi macam dimana kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti, saya ingin meminjam kata-kata Dea lagi: ” […] kita bisa menikmatinya sebagaimana adanya. Kita dapat bersandar pada banyak alasan dan berkata, tanpa berteriak, bahwa hidup ini layak dijalani: musik, sepakbola, humor, belas kasih, cinta…. Dan dari pemahaman yang demikian, harapan bisa terus lahir.” (hlm. 178).

Ah lihatlah. Awalnya Dea masygul karena membuang hubungan persahabatan yang berharga dengan kawannya. Namun di balik kemasygulan dan penyesalan itu, dia menganggap pengalaman buruk dan baik sebagai kewajaran dalam hidup. Semacam takdir yang mesti dihadapi.

Baca Juga:  Novel Populer 'KATA' Diadaptasi ke Layar Lebar

Di saat bersamaan dia mengajak pembacanya untuk menabung harapan, sembari menghujat para optimis yang terus menerus menyuntikkan narasi tentang optimisme yang – dalam bahasa Dea – selalu tak siap kecewa.

Memang rasanya kita tak perlu susah payah mengharapkan hidup yang selalu penuh optimisme. Makanya esei terakhir yang jadi judul bukunya itu, dan esei-esei lainnya, jadi begitu mengasyikkan. Karena kita diberi ruang untuk menikmati hidup dengan segenap kemalangan dan kesedihan yang diberikan.

Mungkin Dea maunya ngomong begini ke pembacanya: meski bisa jadi sederhana, dan bisa jadi sangat rumit, hidup itu menyenangkan, kok.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar buku, Review, ulasan buku

Atau baca artikel lain yang ditulis: Mas Hadid

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru