Kami mungkin menerima komisi untuk setiap pembelian yang dilakukan lewat tautan afiliasi yang termuat di beberapa jenis konten yang diterbitkan pada topik/kategori tertentu. Pelajari selengkapnya.

Topik: Foodies

Gudeg Pawon, Menu Unik dan Khas Dari Dapur Tradisional Jogja

Jika kamu terbiasa dengan kompor listrik atau gas untuk masak, Gudeg Pawon masih dimasak dengan tungku dan kayu bakar.


Gudeg Pawon

Ilustrasi Gudeg Pawon (Foto : Kadek Bonit/Canva Pro)

Oleh: Redoni
Diterbitkan:

the Monkey Times – Buka malam hari, makan langsung di dapur, dan selalu rame, itulah keunikan yang khas dari Gudeg Pawon, Yogyakarta.

Iklan

Menu asli Kota Istimewa satu ini memang selalu menjadi tujuan pelancong yang penasaran untuk mencicipinya.

Melihat Keunikan Khas Gudeg Pawon

Nggak heran sih. Kalau musim sudah memasuki libur panjang, antrian di gudeg pawon panjang nggak ketulungan. 

Iklan

Tapi, semenjak Pandemi Covid 19 beberapa tempat dan wisata lainnya benar-benar terdampak, apalagi pedagang kuliner gudeg.

Sejenak untuk mengingat dan kembali menggambarkan keseruannya, kami mencoba untuk mengajak kamu berimajinasi lagi terkait sensasi rasa dan pengalaman dalam menikmati gudeg legendaris tersebut, yuk kita utas sama-sama. 

Iklan

Sajiannya Khas, Nikmatnya Tempo Doeloe

Untuk kamu yang merindukan kesederhanaan, mampir dulu yuk ke Gudeg Pawon. Ketika kamu sudah disana, kamu akan melihat suasana makan ala tempo doeloe sekali. Kenapa begitu menarik? B

agaimana tidak, kamu harus ngantri masuk dapur, ambil makan, dan nikmati sajian gudegnya langsung dari dapur rumah yang benar-benar berbeda dari lainnya. 

Sebenarnya konsep ini bukan tanpa alasan, karena untuk mempertahankan roh yang ada selama 63 tahun ada di Jogja dan turun temurun dikelola keluarga membuat proses untuk menikmatinya langsung dari dapurnya.

Kini, Gudeg Pawon sudah masuk dalam generasi kedua yang mengelola dan melanjutkan warisan leluhur tersebut. 

Jika kamu terbiasa dengan kompor listrik atau gas untuk masak, Gudeg Pawon masih dengan tungku dan kayu bakar.

Ketika kamu masuk pada area itu, perpaduan bumbu, asep, dan hiruk pikuknya membuat kamu merasakan ketentraman yang merasa kembali ke masa lampau. Cukup sederhana, tapi benar-benar mengesankan. 

Berpindah-Pindah Akhirnya Menetap

Jika mengulas lebih jauh perjalanan Gudeg Pawon, rasanya perlu melihat awal berdirinya terlebih dahulu ya.

Gudeg Pawon sendiri pertama kali dirintis oleh ibu Prapto Widarso, tepatnya pada tahun 1958.

Sebelum setenar sekarang, gudeg masih dipasarkan dan dijalankan secara berpindah-pindah. Pernah juga dulu berjualan di pasar, tepatnya di Pasar Sentuh. 

Tapi, semenjak tahun 2000 memutuskan untuk langsung merintis dari rumah saja. Dulunya Gudeg Pawon dikenal hanya dari mulut ke mulut.

Namun hadirnya media sosial mulai banyak yang penasaran, saat ini Gudeg Pawon menjadi destinasi wisatawan jika berkunjung ke Jogja. Mulai dari pejabat, artis, anak muda, dan masyarakat lainnya penasaran untuk mencoba.

Tekstur Gudeg Basah, Tidak Terlalu Manis dan Pas di Lidah

Sebelumnya dijelaskan kalau kamu kesana akan langsung masuk ke dapurnya, pas kamu masuk pasti akan langsung jatuh cinta.

Aroma santan dan kayu bakarnya itu benar-benar memberikan aroma yang sangat mendamaikan.

Belum lagi pelayanan yang begitu ramah, membuat kamu benar-benar semakin tidak sabar melahap semua sajiannya. 

Segi tekstur yang diberikan, Gudeg Pawon itu berbeda dengan gudeg pada umumnya yang terkesan manis.

Tapi, pada gudeg ini lebih cenderung rasa gurih dan tidak terlalu manis untuk dinikmati, sehingga lidah yang tidak terbiasa masih mampu untuk menikmatinya.

Komposisinya pun cukup lengkap, mulai dari gudeg itu sendiri, sambel krecek merah, dan menu lainnya. 

Untuk harganya sendiri juga sangat terjangkau dan ramah dikantong, tergantung kamu memilih menu tambahan dalam sepiring gudeg tersebut.

Kalau kamu hanya ambil tambahan telur saja cukup bayar 15 ribu rupiah, namun jika seporsi lengkap dari ayam opor, telur, tempe atau tahu kisaran harganya sekitar 45 ribu rupiah. 

Pandemi Mengubah Semuanya 

Jam Buka Berganti dan Menyesuaikan Aturan 

Sebelum pandemi Gudeg Pawon memang dikenal sebagai kuliner malam yang tidak boleh dilewatkan begitu saja, dulu waktu bukannya sekitar jam 22.00 WIB. Tapi, badai pandemi Covid 19 mengubah jam buka tersebut.

Pak Wanto sebagai pemiliknya sekarang, sekarang untuk menikmatinya Gudeg Pawon bisa dilakukan sore hari, tepatnya pukul 18.00-21.00 WIB. 

Ada banyak batasan dan kondisi malam hari yang sepi, membuat Identitas khas dari Gudeg Pawon benar-benar berubah.

Antriannya pun tidak sepanjang dulu yang mengular dan buat kaki pegal, tapi sekarang antriannya masih cukup lenggang.

Harapannya semoga pandemi mulai mereda dan terkendali, wajah lama dari Gudeg Pawon akan bersinar kembali lagi. 

Tutup Kurang Lebih 2 Bulan 

Dampak Pandemi Covid 19 benar-benar terasa oleh pedagang gudeg, terutama untuk Pak Wanto yang mengelola gudeg pawon.

Selama awal pandemi masuk ke Indonesia dan menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia, Gudeg Pawon sempat tutup. Bukan hanya sehari dua hari, tapi selama 2 bulan tutup. 

Semuanya dilakukan untuk mematuhi aturan pemerintah dan membatasi pergerakan masyarakat, sehingga tidak terjadinya penyebaran begitu luas.

Akibat Covid 19, Gudeg Pawon benar-benar terdampak dan kehilangan pelanggannya. Dulunya habiskan 12 Kg beras, sekarang 7 Kg saja belum tentu habis. 

Sementara ini, semenjak level PPKM terus menurun dan aturan mulai dilonggarkan Gudeg Pawon kembali lagi menjamu pelanggannya yang rindu akan cita rasanya tersebut. 

Untuk kamu yang sedang berlibur di Jogja, sempatkan yuk untuk mampir dan berkunjung ke Gudeg Pawon. Tapi, perlu diingat ya, tetap patuhi protokol kesehatan dan pastinya sudah ikut program vaksin ya 🙂

1637809467 LMqn9WyiH4rRRXbPuXboe1tYL1EqK5ei
Temukan artikel menarik lainnya di topik: Kuliner Jogja, tempat makan