Kami mungkin menerima komisi untuk setiap pembelian yang dilakukan lewat tautan afiliasi yang termuat di beberapa jenis konten yang diterbitkan pada topik/kategori tertentu. Pelajari selengkapnya.

Topik: DigiDay

Google akan Mempermudah Pengguna Mendapat Informasi Vaksin COVID-19

Mereka akan melakukannya dengan memanfaatkan Search.


search-google

Ilustrasi Google Search. (Foto: Getty Images lewat Canva)

Diterbitkan:

the Monkey Times – Berbagai negara kini sedang fokus pada pengembangan vaksin untuk mengakhiri pandemi COVID-19 yang sudah berjalan selama hampir satu tahun.

Iklan

Dan dalam upaya mendistribusikan vaksin yang aman untuk seluruh warga, Inggris baru-baru ini dikabarkan sebagai negara pertama yang sudah memberi persetujuan darurat untuk penyuntikkan vaksin untuk warganya.

Google rupanya tidak mau ketinggalan dalam keterlibatan pengembangan vaksin, meski dengan jalan dan perspektif berbeda.

Dengan kemungkinan penyebaran informasi tentang vaksin yang sangat cepat, Google menganggap akan ada kebutuhan berbagi info akurat dengan tujuan untuk mendidik publik.

Nah, perusahaan yang bermarkas di California itu akan ikut serta dalam hal memberikan panduan informatif tentang kapan, dimana dan bagaimana mendapat vaksin. Bagaimana mereka melakukannya?

Tentu saja lewat teknologi mesin pencari.

Lewat sebuah postingan di blog resmi mereka, Google mulai merilis fitur baru di dalam teknologi Search yang membantu pengguna dalam mencari informasi tentang vaksin COVID-19.

Fitur tersebut mulai diaktifkan Google di Inggris, negara pertama yang sejauh ini sudah mulai menyuntikkan vaksin ke seluruh warganya.

Rencananya Google akan menerapkan fitur tersebut ke negara lain, terutama ketika otoritas di sebuah negara mulai mengizinkan penyuntikkan vaksin.

Cara kerja fitur pencarian yang berhubungan dengan vaksin COVID-19 relatif sederhana. Ketika seorang pengguna mencari informasi tentang vaksin, Google akan menunjukkan daftar vaksin yang sudah diizinkan pemakaiannya oleh otoritas setempat.

Dengan kata lain, apa yang dilakukan Google tersebut sebetulnya juga dilakukan dalam rangka meminimalisir dampak informasi menyesatkan yang mungkin muncul ketika seseorang mencari segala hal tentang vaksin COVID-19 lewat Google.

search-google
Ilustrasi pencarian informasi vaksin. (Grafis: the Monkey Times – Foto: Google)

Apa yang dilakukan Google bisa dikerangkeng dalam upaya melawan disinformasi tentang penggunaan vaksin COVID-19. Namun perkaranya bukan cuma ‘melawan disinformasi’ semata, tapi juga mengambil perhatian di sisi bahwa persetujuan publik terhadap vaksin coronavirus masih rendah.

Selain itu kita juga mesti berhadapan dengan kenyataan bahwa disinformasi seputar vaksin dan imunisasi coronavirus secara umum akan berbahaya.

Ihwal mengenai berbahayanya disinformasi seputar vaksin coronavirus bisa disimak melalui pendapat vaksinologis Dirga Sakti Rambe yang dikutip Jakarta Post (8/12/2020).

Rambe mengatakan hanya sekitar 50 sampai 60 persen populasi di Indonesia yang menyetujui penggunaan vaksin.

Dia menambahkan kalau sampai publik mempercayai disinformasi, maka program imunisasi reguler yang sudah berjalan selama puluhan tahun juga akan terancam.

Dengan alasan tersebut, upaya Google dalam menampilkan hasil pencarian yang akurat lewat teknologi yang mereka gunakan tentu saja mesti dikarengkeng sebagai usaha untuk meminimalisir bahaya yang mungkin muncul akibat kesalahan informasi.

Tapi yang menarik, Google tidak secara resmi mengeluarkan kebijakan penanganan disinformasi mengenai vaksin, setidaknya sampai Oktober 2020.

Tech Crunch melaporkan platform Youtube milik Google tidak melakukan pembredelan terhadap konten hoaks tentang vaksin, atau membuat kebijakan guna melarang seluruh aspek disinformasi COVID-19.

Alih-alih melakukannya dengan cepat, Google baru bertindak pada bulan Oktober guna membersihkan platform-nya dari sebaran konten hoaks terkait COVID-19.

Dengan kata lain, Google menunggu untuk mengatasi penyebaran konten antivaks COVID-19 hingga persetujuan vaksin muncul dalam waktu dekat.

Hingga tulisan ini dirilis, Google dilaporkan sudah menyingkirkan 700,000 video yang menampilkan konten COVID-19 yang berbahaya dan berpotensi menyesatkan audiens.

1637809467 LMqn9WyiH4rRRXbPuXboe1tYL1EqK5ei
Temukan artikel menarik lainnya di topik: berita hari ini, berita internasional, berita teknologi, covid-19