Fakta Tanaman Porang: Tumbuhan Semak dengan nilai Ekonomi Tinggi

Tanaman Porang adalah salah satu jenis tanaman iles-iles. Kegunaannya banyak, karakteristiknya juga membuat Porang tampil sebagai bahan makanan sehat.


Umbi Porang

Ilustrasi Umbi-umbian Porang. (Foto: Shutterstock)


Oleh: Kaisar

Diterbitkan:

the Monkey Times – Tanaman Porang memang belum begitu populer layaknya umbi-umbian yang dikenal di tengah masyarakat, seperti garut, ubi jalar, ubi kayu, dan lain sebagainya.

Walau begitu tanaman satu ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Buktinya bisa kita lihat, misalnya pada Juni 2020 silam, dimana Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melepas 60 ton Porang ke China. Jumlah itu setara Rp 1,2 Miliar, menurut CNBC Indonesia.

Tanaman porang merupakan salah satu komoditas hasil hutan non kayu, dan secara umum dikenal sebagai salah satu jenis tanaman iles-iles.

Lebih jauh dengan umbi Porang

Mengutip buku Serat Pangan Dalam Penanganan Sindrom Metabolik yang ditulis Sunarti, kawasan perhutanan jadi lokasi yang ideal bagi tumbuh kembang tanaman Porang.

“Tanaman Porang dapat tumbuh hingga tinggi 100-150 cm, berbatang halus, tangkai dan daunnya berwarna hijau tua bergaris-garis dengan bercak hitam putih,” tulis Sunarti.

Meski sekarang dianggap punya nilai jual tinggi, status Porang agaknya sempat berada di kasta terendah umbi-umbian. Mengutip Serat Pangan kembali, Tanaman Porang juga dikenal dengan nama Bunga Bangkai Jawa.

Disebut begitu karena bagian tumbuhan dan bunga Porang mengeluarkan bau busuk. Pada gilirannya, karakteristik itu membuat Porang sering diremehkan di keluarga umbi-umbian.

Mengutip Pembangunan Pertanian: Membangun Kemandirian Pangan dalam Masa Bencana dan Pandemi yang disusun Tim Dosen Faperta UGM, kawasan hutan di Provinsi Jawa Timur jadi tempat dimana tanaman Porang tumbuh subur.

Sebagai tambahan, Porang juga bisa ditemui secara alamiah di kawasan hutan jati. Di kawasan macam itu, orang bisa menemukan Porang di bawah tegakan pohon jati.

Catatan di buku yang sama menyebut Porang sebagai tanaman yang bisa tumbuh baik di ketinggian antara 100 – 600 meter dpl, dengan suhu berkisar antara 25 – 35 derajat celcius, serta memiliki curah hujan antara 300-500 mm per bulan, terutama di masa vegetasi yang biasanya berlangsung antara Desember sampai Februari.

Di buku yang sama Tim Dosen Faperta UGM menambahkan: Porang masih bisa tumbuh baik di kawasan dengan curah hujan minimal 75 mm di bulan kering selama 1-7 bulan.

Karakteristiknya yang digolongkan ke dalam keluarga umbi-umbian membuat Porang tampil sebagai pilihan bahan pangan alternatif. Bila dikelola dengan baik, Porang bisa diolah sebagai pengganti tepung terigu.

Baca Juga:  Cara membuat Blog di Wordpress.com: Plus tips untuk Pemula

Karena itulah kandungan Porang kaya akan pati dan karbohidrat, dan dengan demikian baik pula dijadikan sumber pangan alternatif yang sehat.

Mengutip Serat Pangan dan Pembangunan Pertanian kembali, manfaat Porang bagi kesehatan bisa diringkas dalam dua poin:

  • Pertama, kandungan serat larut yang tinggi (64 persen) membantu mengurangi kolesterol dan gula darah.
  • Kedua, Porang mengandung glukomanan yang bermanfaat untuk memperpanjang rasa kenyang, memperlambat pengosongan lambung dan menahan penyerapan lipid dan glukosa.

Secara ilmiah kita bisa menyebut Porang sebagai bahan pangan yang menarik untuk dikonsumsi, karena toh ada manfaat langsung yang bisa dirasakan manusia. Selain itu kandungan gizi Porang pun cukup kaya, sebagaimana bisa kita lihat di tabel berikut.

Zat GiziJumlah
Energi69 Kkal
Karbohidrat15,7 gram
Protein1 gram
Lemak0,1 gram
Kalsium62 miligram
Fosfor41 miligram
Besi4,2 miligram
Sumber: Serat Pangan dan Pembangunan Pertanian

Aplikasi Porang dalam industri

Walau ditengarai mengandung zat gizi yang kaya, nyatanya tanaman Porang belum banyak digunakan dalam dunia kesehatan, karena – menurut Sunarti – manfaatnya di bidang tersebut belum banyak diteliti.

Namun Porang sudah lama digunakan sebagai bagian bahan baku industri. Ia secara luas digunakan untuk mengkilapkan wool, cat, perekat kertas dan kain. Selain itu Porang juga dipakai untuk bahan penjernih di sektor industri serat, minyak, gula dan bir.

Dalam buku Umbi-umbian dan Pengolahannya yang ditulis Teti Estiasih, Widya Dwi Rukmi Putri, dan Elok Waziiroh, tanaman porang juga diketahui membawa serta kandungan oksalat dalam jumlah tinggi, serta mengandung glukomanan.

Keistimewaa glukomanan itulah yang membuat umbi porang jadi punya nilai ekonomi, oleh karena fungsinya yang mampu mengentalkan. Aplikasi umbi porang bisa kita lihat, misalnya, pada berbagai produk mie dan jelly drink.

Penggunaan Porang semakin meluas karena ia juga digunakan untuk mengganti gelatin dan agar-agar yang sering dipakai dalam proses pembuatan negatif film.

Belum lagi kalau kita menyebut industri makanan yang juga bisa mendapat manfaat dari pemakaian Porang. Rasanya yang netral membuatnya cocok sebagai bahan yang bisa dipadukan dengan bahan baku pembuat roti, mie dan kue.

Karena fungsinya yang kaya, tidak heran bila Porang mulai tampil sebagai komoditas ekonomi yang bernilai tinggi.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: Pengetahuan sehari-hari, serba-serbi panganan sehat

Atau baca artikel lain yang ditulis: Kaisar



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial