Connect with us

Hi, what are you looking for?

DigiDay

Ujaran Kebencian: Problem yang Dihadapi TikTok akhir-akhir ini

Media sosial apapun menghadapi problem ketidakdewasaan penggunanya. Dan itu dialami sendiri oleh TikTok, yang sekarang meraksasa.

pengguna tiktok
Media sosial TikTok saat ini memiliki 800 juta pengguna global. (Foto: Pexels)

tmtimes.id – Ujaran kebencian rasanya jadi sesuatu yang mudah diumbar lewat media sosial jenis apapun, termasuk lewat TikTok. Hari kamis (20/08/2020), TikTok mengumumkan bahwa mereka telah menghapus 380,000 video yang diunggah pengguna di Amerika Serikat.

TikTok mengatakan sudah membredel semua video tersebut, dengan alasan semuanya melanggar aturan baku platform itu, yang mengatur larangan mengumbar ujaran kebencian.

Iklan

Selain membredel 380,000 video penuh dengan ujaran kebencian, TikTok juga menyapu bersih 1,300 akun pengguna yang terindikasi menyebarkan konten maupun perilaku penuh kebencian. Selain itu pengelola platform tersebut juga menghapus 64,000 komentar yang penuh kebencian.

“Sekadar tambahan. Jumlah tersebut tidak menggambarkan kesuksesan 100% dari usaha kami mendeteksi setiap jenis konten maupun perilaku penuh kebencian. Namun apa yang kami lakukan memperlihatkan komitmen kami untuk beraksi (melawan narasi tersebut),” demikian TikTok memberi pernyataan tentang tindakannya itu, seperti dikutip dari Social Media Today.

Lalu bagaimana TikTok mendefinisikan ujaran kebencian?

Mengutip Cnet, TikTok mendefinisikannya sebagai serangan, ancaman, memicu kekerasan terhadap kelompok atau individual berdasarkan atribut tertentu seperti gender, ras, agama, identitas gender, negara asal, dan lain sebagainya yang sejenis.

ADL, organisasi yang fokus pada gerakan anti kebencian, merilis sebuah artikel yang mengungkap cara ‘ekstrimis’ beradaptasi dan menemukan, sekaligus secara konstan, memakai cara-cara baru untuk membujuk audiens baru.

Dan TikTok adalah salah satu salurannya. Dengan jumlah pengguna yang sangat besar – 800 juta pengguna terdaftar secara global – serta popularitas TikTok yang mendekati platform media sosial lain seperti Instagram, WhatsApp dan Facebook, setiap video yang dirilis lewat TikTok berpeluang untuk dilihat ratusan juta pengguna lain.

Diantara sekian banyak jenis ujaran kebencian, ADL menyebut bahwa supremasi kulit putih merupakan subjek yang sering dipakai untuk membingkai ujaran kebencian.

Lusinan akun TikTok, demikian tulis ADL, menggunakan kombinasi simbol, slogan dan istilah yang mengisyaratkan supremasi kulit putih. Simbol-simbol tersebut umumnya digandengkan dengan user name yang dipilih pengguna.

Simbol numerik kerap dipakai oleh pengguna di Amerika Serikat, terutama yang menggaungkan kebencian terhadap kelompok lain. Sebut misalnya angka ’14’ yang merepresentasikan slogan supremasi kulit putih, atau angka ‘2316’ yang melambangkan wacana serupa.

Lebih jauh lagi, TikTok mengungkap sejumlah usaha pencegahan untuk mendeteksi, sekaligus membatasi penyebaran ujaran kebencian. Apa yang mereka lakukan sudah termasuk usaha mengalihkan pengguna untuk mempelajari panduan internal TikTok, terutama ketika algoritma mereka mendeteksi keberadaan pengguna yang mencari konten ofensif.

Sederhananya, bila seorang pengguna mencari konten berdasarkan kata kunci spesifik yang teridentifikasi sebagai bagian dari konten penuh kebencian, algoritma TikTok akan menghilangkan hasil pencarian terkait kata kunci tersebut, membredel konten terkait, atau menggiring hasil pencarian ke laman Community Guidelines.

Di laman guidelines itulah TikTok kemudian mengedukasi pengguna tentang kebijakan platform dalam menghadapi ekspresi kebencian.

Masalah lain di luar ujaran kebencian

Tampilan Logo TikTok

Selain ulah penggunanya, TikTok menghadapi masalah yang berhubungan dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Sang Presiden sudah menandatangani perintah eksekutif yang menyebut bahwa TikTok akan dilarang hidup di Amerika bila tidak dijual ke perusahaan lain pada 20 September 2020.

Ketakutan pemerintahan Trump ada pada dugaan bahwa TikTok – yang dimiliki perusahaan raksasa teknologi China ByteDance – jadi mata-mata pemerintahan China. Trump curiga nantinya data-data pengguna TikTok di Amerika Serikat akan diserahkan ke negara saingan AS tersebut.

Minggu lalu Trump menandatangani satu lagi perintah eksekutif yang memerintahkan ByteDance untuk menjual operasi TikTok di AS dalam waktu 90 hari. TikTok sendiri membantah kecurigaan tersebut dengan menyatakan bahwa mereka takkan menyerahkan data penggunanya, walau pemerintah China memintanya.

Iklan

Artikel Menarik Lainnya

Hai Indonesia

Kabar terbaru soal banjir yang melanda kota Medan.

Hai Indonesia

the Monkey Times – Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) hari ini (Kamis, 3/12/2020) dilaksanakan secara virtual. Dan hasilnya BI memaparkan perlunya stimulus untuk 14...

Kabar Liga Champions

Sementara itu, Inter memperpanjang nafas. Dan Porto lolos menemani Manchster City.

Hai Indonesia

Dalam Munas MUI di Jakarta, Miftachul Akhyar terpilih sebagai ketua MUI 2020-2025 menggantikan Prof KH Ma'ruf Amin