Connect with us

Hi, what are you looking for?

Ekonomi

Jumlah Realisasi Investasi Indonesia Triwulan I & 2 2020

Realisasi penanaman modal asing (PMA) di Indonesia pada triwulan II (April – Juni) 2020 tercatat sebesar US$ 6,7 juta atau sekitar Rp 100 miliar.

realisasi investasi Indonesia
Ilustrasi realisasi investasi di Indonesia. (Foto; Getty Images/Canva)

the Monkey Times – Rancangan Undang-undang Cipta Kerja sudah disahkan oleh DPR menjadi produk Undang-Undang. Beberapa pihak, termasuk Kamar Dagang Indonesia (Kadin), berpendapat UU Cipta Kerja mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang menghambat peningkatan investasi.

Pendapat tersebut dikemukakan oleh, salah satunya, Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P. Roeslani.

Iklan

“[K]etika UU Cipta Kerja diterapkan maka akan meningkatkan daya saing Indonesia dan mendorong investasi masuk sehingga akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat yang akhirnya akan mempercepat pemulihan perekonomian nasional, apalagi di masa pandemi ini”, kata Rosan seperti dikutip CNBC Indonesia.

Lebih jauh lagi, Rosan berpendapat pandemi COVID-19 memberikan dampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Dia berpendapat RUU Cipta Kerja jadi penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Senada dengan Rosan, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja mengatakan aturan dalam UU Cipta Kerja nantinya dapat memperbaiki iklim investasi di tanah air.

“Yang diuntungkan Indonesia. Karena tanpa UU Ciptaker akan sulit bagi kita untuk mengembangkan ekonomi menarik investasi,” kata Shinta seperti dikutip Okezone.

Benarkah sesulit itu menarik investasi masuk ke Indonesia?

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) ke Indonesia menurut sektor industri justru meningkat sepanjang Triwulan I 2020 (Januari – Maret), bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Angka realisasi PMA ke Indonesia di Triwulan I, Januari – Maret 2020 sebesar US$ 6,8 juta atau sekitar Rp 100,2 miliar. Jumlah ini lebih besar ketimbang periode yang sama tahun 2019, sebesar US$ 6 Juta atau sekitar Rp 88,2 miliar.



Walau begitu, BKPM mencatat menurunan investasi di triwulan 2 (April – Juni) 2020, dimana realisasi PMA tercatat sebesar US$ 6,77 juta atau sekitar Rp 100 miliar. Jumlah ini lebih kecil ketimbang realisasi di periode yang sama tahun 2019, sebesar US$ 6,9 juta atau sekitar Rp 101,5 miliar.

Penurunan realisasi PMA di Indonesia dari triwulan ke-1 ke triwulan ke-2 2020 yang dicatat BKPM tidak terlalu besar, alias hanya turun sebesar US$ 24,000 atau sekitar Rp 353,1 Juta.

Selama 2019 – 2020, sektor industri listrik, air, dan gas selalu jadi primadona bagi penanam modal asing. Pengecualian untuk triwulan 1 2020, sektor tersebut menerima modal asing paling banyak ketimbang sektor industri lain.

Pada triwulan 1 2019, sektor industri listrik, air dan gas menerima modal asing sebanyak US$ 1,526,373.2 atau sekitar Rp 22,48 miliar. Kemudian pada triwulan 2 di tahun yang sama, sektor tersebut menerima US$ 1,350,500 atau sekitar Rp 19,89 Miliar.

Pada triwulan 1 2020, industri listrik, air dan gas menerima modal asing sebanyak US$ 1,523,800 atau sekitar Rp 22,44 miliar. Dan pada triwulan 2 tahun yang sama, sektor tersebut menerima US$ 1,463,100 atau sekitar Rp 21,55 miliar.

Yang berubah dari realisasi investasi dalam negeri triwulan 1 & 2

PMA hanya satu sisi dari realisasi investasi Indonesia. Ada sisi lain yang juga perlu dilihat, yakni aspek Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).



BKPM mencatat perubahan realisasi investasi PMDN berdasarkan sektor industri, di kuartal 1 2020 (Januari – Maret) yang disebut berjumlah Rp 112,7 miliar. Angka tersebut turun pada kuartal 2 2020 (April – Juni), yang berjumlah Rp 94,2 miliar.

Pada data realisasi PMDN 2019, triwulan 1 (Januari – Maret) mencatat angka sebanyak Rp 0,8719 miliar, atau Rp 87,19 juta. Realisasi investasi pada triwulan 2 di tahun yang sama kemudian melonjak naik hingga menyentuh angka Rp 95,6 miliar.

Dengan demikian bila kita menggabungkan jumlah realisasi investasi PMA dan PMDN, di kuartal 1 dan 2 2020 didapat angka total realisasi investasi kurang lebih sebesar Rp 407,229 miliar. Sedangkan pada kuartal 1 dan 2 2019 kita mendapati angka realisasi investasi kurang lebih sebesar Rp 285,333 miliar.

Dengan demikian, kita sebetulnya melihat kenaikan nilai realisasi investasi yang terlihat secara year-on-year, dan dalam rentang triwulan yang sama, antara 2019 dan 2020. Singkat cerita, pada kuartal 1 dan 2 2020, jumlah realisasi investasi justru lebih besar ketimbang periode yang sama tahun 2019.

Berdasarkan data-data diatas, pendapat Shinta justru jadi bisa dipertanyakan ulang: betulkah tanpa UU Cipta Kerja, Indonesia akan sulit menarik investasi, mengingat angka realisasi investasi, baik PMA dan PMDN, di Indonesia cenderung stabil – bahkan naik secara year-on-year – walau pandemi masih belum selesai?

Catatan redaksi: data yang dipakai di artikel ini sepenuhnya berasal dari BKPM. Sampai artikel ini dirilis pada 8 Oktober 2020, BKPM belum memperbarui basis data terkait realisasi investasi di Indonesia pada kuartal 3 dan 4 2020. Sehingga data yang disajikan dibatasi sampai kuartal 2 2020. Konsekuensinya muncul pada data pembanding, dimana kami memakai data realisasi investasi 2019, dengan membatasi rentang waktu hanya di kuartal 1 dan 2 di tahun yang dimaksud.

Iklan

Artikel Menarik Lainnya

Iklan