Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

kalender-romawi
kalender-romawi
Ilustrasi penanggalan kuno terpahat di atas batu. (Foto: Getty Images lewat Canva Pro)

Mau Tahu Donk

Hitungan Tahun (Baru) Masehi berakar dari Kalender Romawi

Akar sejarah kalender masehi, atau kalender modern, yang kita kenal sekarang, bisa dilacak balik sejak era Republik Romawi.

the Monkey Times – Sebagian besar dari kita mengenal satu tahun sebagai periode dengan 365 hari, 12 bulan, dan 48 minggu. Lalu kita menyebut bulan pembuka awal tahun sebagai ‘Januari’, dan menyebut bulan penutup akhir tahun sebagai ‘Desember’. Kita semua sepakat menyebut hitung-hitungan periode tersebut sebagai tahun masehi.

Sebutan itu lantas jadi cara khusus untuk merujuk sistem kalender modern, yang sebetulnya merepresentasikan cara Kalender Gregorian dalam menghitung siklus waktu, yang sistematikanya kemudian disepakati secara luas dimana-mana.

Dengan kata lain: Kalender Gregorian adalah sistem kalender yang umum dipakai secara global hari ini. Walau begitu kami ingin meluangkan waktu untuk membahas “leluhur” kalender gregorian terlebih dulu.

Karena itulah kami ingin membawa Anda mengenali Kalender Romawi, sebuah sistem perkalenderan yang mendahului kemunculan Kalender Gregorian.

Pengertian Kalender Romawi

Mengutip situs Time and Date, Kalender Romawi sempat dipakai di zaman romawi kuno. Dan ia bukanlah sistem kalender yang ajek, sebab mengalami revisi beberapa kali dan disesuaikan berkali-kali selama berabad-abad.

Karena itulah tidak ada yang namanya satu versi. Hanya saja kalau bicara siapa yang memulai penggunaan kalender romawi, maka kita bisa merujuk pendiri Roma, Romulus, penguasa yang menginisiasi penggunaan kalender romawi pada 738 Sebelum Masehi.

Sistem kalender itulah yang jadi dasar pembentukan nama-nama bulan, jumlah bulan dalam setahun, sampai jumlah hari dalam satu bulan. Kalau sekarang kita mengenal 30 atau 31 hari dalam satu bulan, dan 28 atau 29 hari di bulan Februari, maka sistem penghitungan tersebut berakar dari kalender romawi jadul. Kita akan melihat praktiknya sebentar lagi.

Baca Juga:  Layar Smartphone Refresh Rate 90hz: pengertian, kelebihan dan kekurangannya

Baca Juga: Kalender Gregorian: Lahir sebagai Revisi atas Kalender Julian

Nama bulan dalam kalender romawi

Aslinya hanya ada hitungan sepuluh bulan dalam kalender romawi, yang berarti hanya ada 304 hari dalam setahun. Artinya kalau dihitung dengan cara sekarang, ada 61 hari yang tidak dihitung pada sistem penanggalan Kalender Romawi.

Lalu bulan-bulannya dinamai Martius, Aprilis, Maius, Juniius, Quintilis, Sextilis, September, October, November, and December. Kalau kita terjemahkan dalam bahasa sekarang, bulan baru dalam kalender romawi kuno bukanlah Januari, melainkan Maret (Martius).

Tadi kami sudah menulis di atas: kalender romawi mengalami revisi beberapa kali dan berkali-kali pula disesuaikan. Nah, kami ingin mengambil satu contoh kalender romawi yang pernah digunakan di era Republik Romawi (509 sampai 27 Sebelum Masehi), yakni kalender Republikan.

Kalender Republikan Romawi, demikian kita menyebutnya, digunakan dan berevolusi sebelum era agama Kristen. Lema Britannica mencatat karakteristik sistem kalender republikan yang mungkin merupakan hasil evolusi produk kalender lunar Yunani, yang pada dasarnya merupakan sistem yang diturunkan dari orang-orang Babilonia.

Adalah Numa Pompilius, penerus Romulus, yang menginisiasi penggunaan Kalender Republikan. Di kalender inilah Pompilius menambahkan dua nama bulan dalam setahun, yang dinamai Ianuarius dan Februarius.

Daftar lengkap nama bulan dalam Kalender Republikan bisa dilihat pada tabel berikut:

Nama BulanJumlah Hari
Ianuarius29
Februarius28
Martius31
Aprilis29
Maius31
Iunius29
Quintilis31
Sextilis29
September29
October31
November29
December29
Nama Bulan dalam Kalender Republikan Romawi Kuno.

Sebagaimana bisa kita cermati dari tabel di atas, sistem kalender romawi ‘Republikan’ sejak saat itu mengenal 12 bulan dalam setahun. Dan dalam setahun ini pula dikenal kemudian empat bulan yang terdiri dari 31 hari, tujuh bulan yang terdiri dari 29 hari, dan satu bulan yang terdiri dari 28 hari.

Baca Juga:  Cara membuat Blog di Wordpress.com: Plus tips untuk Pemula

Dengan tambahan dua nama bulan itu pula, secara otomatis terjadi pergeseran makna bulan dalam setahun. Kita ambil contoh, misalnya, pada bulan September.

‘September’ secara harafiah berarti ‘bulan ketujuh’. Namun karena Pompilius menginisiasi penambahan dua bulan dalam sistem kalender baru tersebut, bulan September bergeser di posisi ke-9 dalam nama-nama bulan dalam setahun. Keganjilan itu tidak pernah direvisi sampai hari ini, dan kita semua kadung mengenal September sebagai ‘bulan kesembilan dalam satu tahun’.

Kalender Republikan menghitung 355 hari dalam setahun. Itu berarti jumlah hari dalam setahun lebih pendek 10 hari ketimbang periode edar orbit bumi terhadap matahari, yang berlangsung 365 hari.

Karena itulah sistem kalender Republikan kemudian menambahkan satu bulan yang disebut intercalaris atau mercedonius setiap beberapa tahun sekali guna menutup kekurangan 10 hari yang hilang akibat sistem penghitungan kalender.

Demikianlah akar hitungan tahun baru Masehi yang sebetulnya bisa dilacak balik sejak periode Republik Romawi. Akar itulah yang kemudian berkali-kali direvisi, sampai kemudian memunculkan hitungan kalender modern seperti yang kita kenal sekarang.

Artikel Menarik Lain

Mau Tahu Donk

Buat yang mau pergi ke Klaten atau Jember, ada bus double decker.

Budaya Makan

'Keju keledai' toh nyatanya jadi keju termahal sejagat. Harganya kurang lebih sekitar $600 per kilogram, atau sekitar Rp 8,7 juta bila dikonversi ke dalam...

Mau Tahu Donk

Pancasila pada dasarnya adalah ideologi negara. Dan karenanya sila 1 Pancasila bisa diamalkan di kehidupan sehari-hari juga.

Mau Tahu Donk

Di Indonesia kita mengenal angin muson sebagai penanda pergantian musim. Lantas apa pengertiannya dan apa pengaruhnya terhadap iklim di negara ini?

Sehat dan Bahagia

Kita tentu tahu 75 persen tubuh kita terdiri dari air. Tanpa air tubuh bakal mengalami dehidrasi. Dan tanpa air, sistem metabolisme tubuh takkan bisa...

Mau Tahu Donk

Hak bercerai tidak hanya milik lelaki. DI Indonesia, peraturan menyebut perempuan juga memiliki hak menggugat cerai suaminya.

Mau Tahu Donk

Sejarah perdagangan di seluruh negara cenderung mengenal mata uang sebagai alat transaksi yang sah, namun sistem perdagangan kuno seperti barter, toh, nyatanya masih dilakukan...

Mau Tahu Donk

Sistem perdagangan yang memanfaatkan metode barter tidak pernah mati. Bahkan masih dilakukan sampai sekarang.