Connect with us

Hi, what are you looking for?

IKLAN

Mau Tahu Donk

Barter di Masa Depresi Besar

Sejarah perdagangan di seluruh negara cenderung mengenal mata uang sebagai alat transaksi yang sah, namun sistem perdagangan kuno seperti barter, toh, nyatanya masih dilakukan di zaman modern.

depresi-besar-di-new-york
Sekelompok orang mengantri di McCauley Water Street Mission di bawah Jembatan Brooklyn pada 1932. (Foto: the Everett Collection lewat Canva Pro)

the Monkey Times – Hanya saja wujud barter di zaman modern cenderung berubah-ubah, menyesuaikan kondisi dan konteks perubahan yang ditopang berbagai hal. Kita bisa ambil contoh, misalnya, pada fenomena barter yang menjadi sistem transaksi yang umum dipakai pada masa Depresi Besar di Amerika Serikat pada dekade 1930-an.

Dekade itu menceritakan ihwal sekelompok kreditor yang membentuk sebuah “bank” khusus yang melayani skema barter. Ketika warga Amerika membutuhkan makanan dan beragam layanan lain untuk bertahan hidup, mereka menukar benda-benda yang mereka miliki lewat “bank” tersebut. Nah, ketika benda miliknya laku, dia akan menerima sejumlah kredit yang berasal dari akun pembeli.

Saking buruknya kondisi Depresi Besar, ekonomi pertanian di Amerika memburuk. Banyak petani ketika itu terpaksa menjual hasil panen dan barang lainnya kepada kreditor. Dan di luar sana pun kondisi sama buruknya bagi kaum pekerja.

Para pekerja yang hidup di masa Depresi Besar banyak yang terkena pemutusan hubungan kerja. Mereka pun seakan “dipaksa” untuk menukar jasa dan keahlian mereka secara langsung dengan orang lain, ketimbang menjualnya lewat perantara atau kreditor.

Baca Juga: Barter dari Masa ke Masa

Barter sebagai solusi

Dalam skop sejarah ekonomi yang lebih luas lagi, Depresi Besar di Amerika Serikat juga ditandai dengan kondisi dimana hanya sedikit uang yang beredar di tengah kehidupan warga. Sekali lagi kondisi tersebut menghantam populasi pekerja di Amerika yang kehilangan pekerjaannya dan tidak memiliki sumber penghasilan untuk mempertahankan hidupnya.

Dengan kata lain, sedikitnya jumlah uang yang beredar berarti masalah, sebab waktu itu jam kerja yang panjang sekali pun tidak mampu memenuhi kebutuhan finansial para pekerja di era Depresi Besar 1930-an.

IKLAN

Mata uang Dollar akhirnya berkurang nilainya bagi kaum pekerja yang membutuhkan uang untuk membayar segala macam tetek bengek kehidupan mereka. Dalam kondisi macam itulah sistem barter di era Depresi Besar jadi populer.

Sebuah buku berjudul Income Tax Compliance Research: Estimates for 1973-1981 banyak bercerita kepada pembacanya tentang bagaimana barter dipilih sebagai metode untuk bertahan hidup dalam kondisi ekonomi yang serba memburuk.

Ketika resesi terjadi dan banyak pekerja kehilangan mata pencahariannya, sebagian besar bisnis dan kaum pekerja mengandalkan barter untuk bertahan hidup. Kira-kira seperti itu gambaran sistem barter yang “bangkit” kembali di masa Depresi Besar pada dekade 1930-an.

Hanya saja dalam konteks Depresi Besar di Amerika Serikat, motif ‘bertahan hidup dengan barter’ ironisnya hanya sanggup menyelamatkan hidup karyawan yang terancam dipecat, namun tidak untuk pekerja tidak terampil dan sedikit terampil. Dalam sub-konteks seperti itu, para pekerja yang tidak punya keterampilan atau hanya sedikit terampil, tidak punya daya tawar kuat dalam sistem barter yang mengandalkan jasa atau keterampilan individu.

Jadi di masa itu kita bisa membayangkan seorang kaum pekerja menukar segala macam yang dia miliki. Tidak hanya keterampilan individu, namun juga daging ayam, sayur-sayuran dan produk kemasan.

Di era Depresi Besar pula kita patut mencatat pemakaian koin perak sebagai alat pembayaran yang sah.

Sirkulasi koin perak di masa Depresi Besar meningkat, meski benda itu tidaklah dianggap sebagai aset berharga seperti sekarang. Orang-orang memakainya karena koin perak adalah satu-satunya mata uang Amerika Serikat yang bisa digunakan di dekade 1930-an.

Baca Juga: Uang Penggerak Dunia dan Benda dengan Dua Wajah

Tumbuhnya mata uang lokal

berjualan-apel-di-masa-depresi
Seorang pengangguran berjualan apel di dekat Gedung Capitol di Washington DC, Amerika Serikat. (Foto: the Everett Collection lewat Canva Pro)

Begitu tahun memasuki 1933, situasi Depresi Besar di Amerika Serikat bertambah buruk. Selain pengangguran yang membengkak – sekitar 15 juta orang menurut data History; sistem keuangan dan bank juga ikut kolaps. Kondisi tersebut lantas memicu munculnya ‘scrip’, alias mata uang lokal yang dipakai di banyak negara bagian di Amerika Serikat. Tipenya pun macam-macam.

Mengutip risalah berjudul Local Money in the United States During the Great Depression yang ditulis Loren Gatch, mata uang lokal yang dipakai di banyak negara bagian di masa Depresi Besar pada dasarnya membawa beragam fungsi, termasuk sebagai stimulan
bisnis, bantuan untuk pengangguran, atau sarana untuk menopang keuangan pemerintahan kota.

Fungsi ‘scrip’ yang beragam itu kemudian memunculkan konsekuensi tipe mata uang lokal yang beragam pula.

  1. Reputational scrip: tipe ini biasanya dikeluarkan perusahaan untuk memenuhi penggajian dan bisa ditukar dengan komoditas yang tersedia di toko yang dikelola perusahaan. Mata uang lokal satu ini biasanya dibuat dari kayu atau batu bara.
  2. Bank and financial scrip: tipe ini mengacu pada mata uang darurat yang dikeluarkan bank yang bermasalah dengan urusan likuiditas.
  3. Stamp scrip: antara 1932 hingga 1934, ratusan komunitas di AS menerbitkan mata uang lokal yang mensyaratkan keberadaan prangko di badan mata uang agar bisa diperlakukan sebagai alat bayar yang sah.
  4. Barter and self-help scrip: opsi barter sering dilakukan penduduk California di masa Depresi Besar. Daerah tersebut memang dikenal sebagai wilayah pertanian di mana banyak truk penganng hasil bumi lalu lalang membawa produk pertanian.
  5. tax anticipation notes: jenis ini umum digunakan di kota yang kekurangan uang dan bermasalah karena penerimaan pajak yang berkurang. Jenis scrip satu ini diterbitkan dan biasanya digunakan oleh pihak-pihak yang terkena wajib pajak.

Praktik penggunaan mata uang lokal sebetulnya sudah tidak lazim dipakai sejak Perang Saudara melanda AS pada 1861 – 1865, karena pemerintah federal melarang penggunaannya. Namun dalam konteks Depresi Besar, depresiasi dollar dan resesi parah membuat sebagian besar pemerintah negara bagian mengizinkan penggunaan mata uang lokal.

Dalam konteks itulah sistem barter di Amerika Serikat ketika itu jadi masuk akal dan digunakan sebagai metode darurat untuk menyelamatkan perut yang kelaparan akibat minimnya stok mata uang yang disahkan secara resmi oleh pemerintah federal.

IKLAN

Artikel Menarik Lainnya

Sehat dan Bahagia

Kita tentu tahu 75 persen tubuh kita terdiri dari air. Tanpa air tubuh bakal mengalami dehidrasi. Dan tanpa air, sistem metabolisme tubuh takkan bisa...

Mau Tahu Donk

Hak bercerai tidak hanya milik lelaki. DI Indonesia, peraturan menyebut perempuan juga memiliki hak menggugat cerai suaminya.

Mau Tahu Donk

Sistem perdagangan yang memanfaatkan metode barter tidak pernah mati. Bahkan masih dilakukan sampai sekarang.

Mau Tahu Donk

Kehidupan di bawah laut memang indah. Penuh berkah. Namun kadang juga penuh dengan hewan-hewan mematikan.

Mau Tahu Donk

KIta sering melihat gunung menjulang tinggi. Namun tahukah kita apa saja tipe-tipe gunung yang ada di muka bumi?

Hai Indonesia

LIbur dan cuti bersama di bulan tersebut sudah diatur melalui SKB tiga menteri, yakni Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan...

Cara Hidup

Asal disimpan dengan benar, beras bisa tahan sampai 30 tahun.

Cara Hidup

Minimalisme mungkin terdengar mudah diucapkan, namun susah dilakukan. Nah, kami mengajak Anda untuk memahaminya terlebih dulu.