Connect with us

Hi, what are you looking for?

IKLAN

Mau Tahu Donk

Barter dari Masa ke Masa

Sistem perdagangan yang memanfaatkan metode barter tidak pernah mati. Bahkan masih dilakukan sampai sekarang.

ilustrasi-sejarah-uang
Dua orang petani membayar pajak dengan ayam. (Foto: The Everett Collection lewat Canva Pro)

the Monkey Times – Bayangkan bila Anda memiliki segelas susu dalam jumlah banyak, namun Anda tidak punya roti.

Lalu bayangkan itu terjadi di periode kehidupan manusia sebelum uang dipakai sebagai alat transaksi.

Zaman dulu segelas susu bisa ditukar dengan beberapa lembar roti. Anda hanya tinggal membawa susu ke pasar dan mulai mencari orang yang mempunyai roti dan membutuhkan susu. Kalau sudah ketemu orangnya, Anda tinggal menukar susu milik Anda dengan roti miliknya.

Pertukaran yang dilakukan pemilik roti dan susu itu kita kenal sebagai barter.

Pengertian barter bisa dijelaskan dengan ilustrasi seperti seorang pemilik segelas susu dan orang lain yang memiliki roti. Dalam konteks semacam itu, pemilik susu tentu tidak bisa menawarkan benda miliknya kepada seorang tukang potong daging.

IKLAN

Sebab segelas susu yang Anda miliki bisa jadi tidak berharga sama sekali di mata tukang daging.

Apa itu barter?

New World Encyclopedia mengartikan barter sebagai tipe perdagangan dimana barang maupun jasa saling dipertukarkan dengan sejumlah barang dan jasa lain. Dengan kata lain, tidak ada sejumlah uang yang terlibat dalam transaksi dengan sistem barter.

Mungkin benar bila ada yang menganggap barter lebih tua dari sejarah manusia itu sendiri. Dalam buku History of Money, misalnya, Glyn Davies menyebut proses pertukaran langsung antara sebuah benda dengan benda lain membawa serta sifat intrinsik dalam hubungan simbiosis antara tumbuh-tumbuhan, serangga dan binatang.

Sifat itulah yang kemudian membuat Davies berpendapat bahwa barter dalam kadar tertentu lebih tua dari sejarah manusia modern. Mungkin faktor itu pula yang memungkinkan sistem perdagangan macam barter bertahan sampai zaman sekarang.

Syahdan pada 2013 silam, Indonesia pernah berencana mengajak Thailand untuk menukar ikan dengan beras. Sederhananya, Indonesia menawarkan ikan, sementara Thailand menyiapkan beras. Dan itu terjadi di zaman Hatta Rajasa yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Mengutip Merdeka.com, pemerintah waktu itu tidak mempersoalkan barter ikan dan beras, selama bukan memberikan akses kepada Thailand untuk menangkap ikan di Indonesia.

Satu contoh di atas sejalan dengan opini Davies dalam History of Money, yang mensifati barter sebagai sistem perdagangan yang sangat kuat dan mudah beradaptasi. “[Dua] karakter itu membantu menjelaskan umur panjang [barter] dan [sistemnya yang mudah] ditemukan dimana-mana,” tulis Davies.

Sejarah barter

Meski kelihatannya sulit melacak kapan persisnya sistem barter dipakai sebagai alat ‘perdagangan’, namun dalam artikel The History of the Trade and Barter System, suku-suku di Mesopotamia pada 6,000 Sebelum Masehi dipercaya sudah memakai sistem barter.

Orang-orang Fenisia kemudian mengadopsi sistem barter yang sama, yang kemudian dipakai oleh sebagian besar orang kuno untuk memperoleh senjata, rempah-rempah dan makanan yang mereka butuhkan.

Baca Juga:

Barter di zaman lampau

Jejak sejarah barter merentang panjang, dan hampir sama usianya seperti sejarah manusia modern, atau bahkan lebih tua. Mengutip Bilingue Business Review, berikut beberapa fakta tentang jejak sistem barter yang pernah dilakukan sebelum era modern.

  • Tentara Romawi pernah meminta bayaran garam sebagai ganti layanan keamanan.
  • Pada Abad Pertengahan (Abad ke 5 sampai 15), penjelajah Eropa berbondong-bondong mendatangi berbagai penjuru lautan untuk menukar kerajinan tangan dan bulu dengan imbalan sutera dan parfum, terutama di Timur atau di Asia.
  • Setiap budaya memiliki elemen barter yang berbeda. Kawasan Mediterania, misalnya, identik sebagai penghasil minyak zaitun. China penghasil sutera, perak dan besi. Tekstil katun dari India. Gading dari Afrika. Dan rempah-rempah dan cangkang kura-kura dari Arab.
  • Ketika kapal penjelajah Eropa mendarat di sebuah negeri asing, mereka menawarkan barang pecah belah untuk ditukar dengan makanan.
  • Barter jadi penting pada 1930-an, utamanya selama Depresi Besar melanda Amerika Serikat. Waktu itu sejumlah bank didirikan untuk menangani sistem pertukaran layanan tertentu dengan makanan.
Ilustrasi depresi besar
Senator Washington Clarence C. Dill memegang uang dollar dari kayu yang digunakan di kota Tenino, Washington DC. Penduduk setempat memakai uang tersebut sebagai ganti Dollar AS yang langka di masa Depresi Besar 1932. (Foto: the Everett Collection lewat Canva Pro)

Barter di zaman modern

Bila kita menganggap zaman modern selalu identik dengan sistem pembayaran modern seperti yang kita alami sekarang – dengan segala macam mode pay later, digital wallet, dan sejenisnya – maka bisa jadi asumsi kita salah.

Barter belum mati. Dan dengan demikian kita bisa menyebut banyak contoh transaksi perdagangan dimana barter dikedepankan sebagai metode pertukaran yang sah. Contohnya pun banyak:

  • Pada 1996, pemerintah Indonesia lewat Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pernah menukar dua pesawat buatan lokal dengan 110,000 ton beras ketan.
  • Di Amerika, menurut laporan The New York Times pada 2008, bisnis barter yang berkembang luas sejak 1982 tumbuh berkat topangan internet. Laporan tersebut juga menyebut perusahaan barter terbesar meraup keuntungan – yang relatif kecil – sekitar $14 juta per tahun. Sistem barter yang berkembang sebagai bisnis di Amerika Serikat membuka jalan bagi perusahaan yang bergerak di bidang barter jasa atau layanan tertentu guna menemukan pelanggan baru untuk produk mereka dan mendapatkan akses ke barang dan layanan menggunakan inventaris yang tidak terpakai. Pertukaran juga menggunakan mata uang khusus, yang dapat disimpan dan digunakan untuk membeli layanan seperti menginap di hotel selama liburan.
  • Di era pandemi seperti sekarang, ada juga fenomena di mana barter dipilih sebagai alternatif untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian. Laporan BBC pada 27 September 2020 menyebut komunitas Barter for Better Fiji yang memiliki anggota hingga 190,000 orang. Disana barang yang paling sering diminta adalah makanan, meski ada juga orang yang menukar donat dengan batu bata, tas kulit dengan boneka, dan lain sebagainya. Barter for Better Fiji kemudian menginspirasi kemunculan komunitas Dunne di London, Inggris, yang melakukan hal serupa.
  • Di Togo berdiri sebuah pasar bernama Togoville yang masih menerapkan sistem perdagangan menggunakan metode barter. Di Togoville, barter adalah raja, demikian tulis Africa News.

IKLAN

Artikel Menarik Lainnya

Sehat dan Bahagia

Kita tentu tahu 75 persen tubuh kita terdiri dari air. Tanpa air tubuh bakal mengalami dehidrasi. Dan tanpa air, sistem metabolisme tubuh takkan bisa...

Mau Tahu Donk

Hak bercerai tidak hanya milik lelaki. DI Indonesia, peraturan menyebut perempuan juga memiliki hak menggugat cerai suaminya.

Mau Tahu Donk

Sejarah perdagangan di seluruh negara cenderung mengenal mata uang sebagai alat transaksi yang sah, namun sistem perdagangan kuno seperti barter, toh, nyatanya masih dilakukan...

Mau Tahu Donk

Kehidupan di bawah laut memang indah. Penuh berkah. Namun kadang juga penuh dengan hewan-hewan mematikan.

Mau Tahu Donk

KIta sering melihat gunung menjulang tinggi. Namun tahukah kita apa saja tipe-tipe gunung yang ada di muka bumi?

Hai Indonesia

LIbur dan cuti bersama di bulan tersebut sudah diatur melalui SKB tiga menteri, yakni Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan...

Cara Hidup

Asal disimpan dengan benar, beras bisa tahan sampai 30 tahun.

Cara Hidup

Minimalisme mungkin terdengar mudah diucapkan, namun susah dilakukan. Nah, kami mengajak Anda untuk memahaminya terlebih dulu.