Penulis: tmtimes data

Luas Panen Padi dan Anak Muda yang Enggan jadi Petani

Banyak anak muda enggan jadi petani. Namun apakah kenyataan itu berbanding lurus dengan luas panen padi di Indonesia?

the Monkey Times – Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, mengatakan profil dan kehidupan petani tidak berubah meski di saat bersamaan modernitas makin maju dan berubah. Menurut dia, anak muda Indonesia kini semakin enggan jadi petani.

Mengutip Antara (07/08/2021), persoalan tersebut oleh Said dipicu oleh – salah satunya – faktor orientasi pendidikan yang menganggap sektor lain lebih baik, sementara sektor pertanian dianggap muram.

Persoalan yang diungkap Said sebetulnya bukan persoalan yang baru saja diungkap belakangan. Said pernah mengungkap hal yang sama pada Agustus 2016 dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Jakarta.

Ketika itu Said sempat mengungkap data yang menyebut jumlah pekerja di sektor pertanian terus berkurang.

““63 persen anak petani padi, dan 54 persen anak petani hortikultura tidak ingin menjadi petani sendiri. Demikian pula, 50 persen petani padi, dan 73 persen petani hortikultura tidak ingin anaknya menjadi petani. Ini berkontribusi besar terhadap penurunan tenaga kerja pertanian,” kata Said seperti dikutip Jakarta Globe.

Terkait dengan penurunan jumlah minat anak muda terhadap bidang pertanian, jumlah petani di Indonesia sudah menurun drastis sebanyak 5 juta orang, sejak 2003 hingga 2013. Angka ini berdasarkan paparan tuturan Direktur Ekonomi Berkeadilan Oxfam Indonesia, Dini Widiastuti, sebagaimana dikutip oleh Jakarta Globe.

Meski tidak spesifik menyebut jenis komoditas pertanian macam apa yang jumlah pekerjanya menurun, namun secara umum kita bisa melihat inti masalah di sini, yakni anak muda yang kian enggan berprofesi sebagai petani.

Mengapa anak muda enggan jadi petani?

Pusat Analisis Sosial AKATIGA pernah menerbitkan laporan penelitian dengan tajuk Pemuda dan Pertanian di Indonesia pada 2016, yang menggambarkan posisi kaum muda Indonesia di sektor pertanian.

Dalam laporan tersebut disebutkan kebanyakan kaum muda tidak memiliki harapan realistis untuk menjadi petani, setidaknya pada saat mereka masih muda. Fenomena ini terjadi justru di kebanyakan desa penghasil beras.

Namun perlu dicatat pandangan kebanyakan anak muda itu tidak seragam. Mereka yang enggan jadi petani adalah anak-anak muda yang berasal dari kalangan petani kecil, petani penyewa atau keluarga yang tidak memiliki tanah.

Persoalannya cukup kompleks mengingat keengganan anak-anak muda itu bukan melulu soal bergengsi atau tidak, melainkan berkaitan dengan kepemilikan tanah.

Dengan kata lain, ketidak-mampuan untuk memiliki tanah jadi faktor yang membuat anak-anak muda di daerah penghasil beras enggan jadi petani mengikuti jejak orang tua mereka.

Laporan AKATIGA tersebut juga menyebutkan satu-satunya jalan menjadi petani adalah dengan terlebih dulu bekerja di luar sektor pertanian, dengan harapan mereka mampu menabung uang untuk digunakan menyewa atau membeli tanah.

Lantas apakah anak-anak muda dari kalangan keluarga kaya yang memiliki tanah pasti mau menjadi petani? Ternyata tidak juga.

Menurut AKATIGA, anak-anak muda yang berasal dari keluarga kaya yang memiliki tanah cenderung memilih menempuh studi di bangku kuliah dan mengincar pekerjaan aman yang bergaji.

Suatu waktu kelak mereka mungkin akan mewarisi tanah dari orang tua mereka, namun mereka tidak tertarik untuk bertani. Tanah warisan itu akan disewakan sebagai sumber penghasilan.

Masalah penurunan pekerja di sektor pertanian hanya satu dari sekian banyak masalah pengembangan sektor tersebut. Masalah lain seperti jumlah luas panen juga jadi masalah lain yang menuntut perhatian.

Bagaimana kondisi luas panen padi di Indonesia?

Setiap kalkulasi luas lahan pertanian di Indonesia selalu melibatkan hitung-hitungan terhadap luas panen. Artinya luas panen adalah luas lahan dari hasil sebuah komoditas pertanian yang sudah siap dipanen.

Di titik itu kita semua tahu padi adalah sebuah komoditas paling penting dalam rantai bahan makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat. Dengan asumsi banyak anak muda kian enggan berprofesi sebagai petani, bagaimana dengan luas panen komoditas padi di Indonesia? Apakah mengalami penyusutan juga?

Kompas.com sempat menurunkan laporan mengenai 7 provinsi penghasil beras tertinggi di Indonesia, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

Kendati laporan ini menyebut penurunan minat anak muda di sektor pertanian, jumlah luas panen di masing-masing provinsi penghasil beras di Indonesia, dari tahun ke tahun, cenderung tidak seragam. Ada yang naik. Ada pula yang turun.

Berdasarkan data BPS tentang luas panen padi di Indonesia sepanjang 2018 – 2020, kita bisa melihat Provinsi Sulawesi Selatan wilayah yang luas panen padinya berkurang dalam kurun waktu yang ditunjuk.

Dari sejumlah 1,185 juta hektar di tahun 2018, Sulawesi Selatan menyisakan luas panen padi sejumlah 976 ribu hektar pada 2020.

Di sisi yang lain kita bisa melihat penurunan luas panen ternyata bukan fenomena seragam yang terjadi di semua provinsi penghasil beras di Indonesia.

Meski angka pertumbuhan luas panen relatif kecil, namun Jawa Timur masih mengalami pertumbuhan jumlah luas panen. Dari yang tadinya 1,751 juta hektar pada 2018, angkanya meningkat jadi 1,754 juta hektar pada 2020.

Gap pertumbuhan maupun penurunan dari masing-masing grafik luas panen di atas terkesan tipis, apalagi kalau kita melihat luas panen di provinsi penghasil beras lainnya seperti Lampung.

Dengan kata lain, penurunan jumlah anak muda yang enggan jadi petani tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah luas lahan panen. Mereka boleh jadi kurang berminat jadi petani, namun toh luas lahan panen padi cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun.

Photo of author
Redaktur yang bertugas menulis segala hal terkait dengan data kuantitatif dan pengetahuan kualitatif. Penyuka es teh dan sebatang korek.

Berita Terkini:

Kenapa mobil butuh asuransi
Kenapa Mobil Butuh Asuransi?
teknologi pengenlan wajah
Samsung Disebut-sebut Sedang Bekerja Meningkatkan Akurasi Teknologi Pengenalan Wajah
Promo Shopee Cashback
Shopee Berikan Cashback Rp 75,000 untuk Pengguna Baru
Bagi bagi ikan nelayan
Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama Bagikan Ikan Gratis Sebanyak Satu Ton

Artikel Terkait:

Bagi bagi ikan nelayan
Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama Bagikan Ikan Gratis Sebanyak Satu Ton
layanan BI-Fast
Layanan BI-FAST akan Menurunkan Biaya Transfer jadi Rp 2.500
kok bulu tangkis
Kalahkan Malaysia, Jepang bertemu China di Final Piala Sudirman
china di final piala sudirman
China Melenggang Mulus ke Final Piala Sudirman
ilustrasi terowongan cisamdawu
Pengoperasian Terowongan Tol Cisumdawu di Indonesia Dipercepat
ilustrasi charger ponsel
Uni Eropa mungkin akan Memaksakan USB-C sebagai Standar Baru Charger Ponsel

Logo the Monkey Times

Kontribusi
Kirim Surat

The Monkey Times adalah media digital yang dikelola Rotasi Media Bahagia

Bagikan artikel ini