Dariku sekarang untuk Diriku sendiri di Masa Depan

Surat untuk diriku sendiri, di masa sekarang dan di masa depan.


surat untuk diriku sendiri

Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Hai diriku, bagaimana kabarmu? Saat kamu melihat tulisan ini, kemungkinan sudah banyak waktu yang berhasil kita lewati bersama untuk bisa sampai di tahap ini bukan?

Tolong katakan kamu tetap bahagia hingga detik ini, dan merasa beruntung telah dipertemukan dengan orang orang baik disekitarmu. Aku harap semuanya menjadi jauh lebih baik dibandingkan aku sebelumnya, iya aku harap begitu. Boleh, kan?

Cobalah datang ke cermin sembari membaca surat ini. Disana kamu bisa melihat seorang anak yang dulunya hanya bisa menangis ketika ditinggal sendiri.

Bahkan ketika tidak ada yang menggandeng tanganmu menuju tempat yang diinginkan, kini kamu telah baik baik saja. Artinya, kamu telah sedikit lebih tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Selamat ! Aku senang mendengarkan perkembanganku di masa depan

Sejak dahulu aku selalu penasaran bagaimana diriku bisa melewati berbagai rintangan di masa mendatang. Apakah dia akan tersedu sedu menangisi segalanya, menumpahkan amarah dan kekesalannya, atau justru berhasil bangkit kembali dari keterpurukan dan menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran semata.

Aku hanya ingin tahu, namun tetap percaya bahwa diriku memang bisa melewatinya walaupun banyak jarum menghujani batinnya di tengah jalan. 

Masih ingatkah kamu dengan perasaan terburukmu saat semua temanmu telah diterima di universitas ternama yang mereka inginkan ? Saat itu, kamu berada di titik terendah yang bahkan keluargamu tidak memberikan dorongan apapun padamu.

Disitulah kamu mulai mengurung diri, tidak ingin kenal dengan dunia luar, atau bahkan sekedar menyapa santai anggota keluarga satu atap sekalipun. 

Jika dilihat dari sudut kacamata pandangmu di masa lalu, hari demi hari rasanya berat dan hanya diselimuti awan abu abu. Tekanan pun datang bertubi tubi setelahnya, dimana kamu ingin melanjutkan mimpi dari bakatmu namun ternyata dipandang rendah oleh orang lain.

Masih ingatkah kamu seseorang mengatakan bahwa “mau jadi apa kamu kalau ambil jurusan itu ? Nanti kerja dimana ?” dan sebagainya. Seketika duniamu gelap bukan ? 

Kamu juga pasti menyadari bahwa pandangan orang lain terhadapmu saat itu mulai berubah. Itu karena seluruh anggota keluargamu melanjutkan pendidikan di tempat ternama, akreditasi tinggi, dan telah membawa pulang segudang penghargaan.

Sementara kamu disini dengan dirimu sendiri, lebih memilih melanjutkan studi di universitas biasa yang bahkan mungkin namanya terasa asing didengar. 

Baca Juga:  Surat untuk teman Seperjuangan yang Jejaknya Menghilang

Ada awalnya kamu berfikir terkucilkan dan terpinggirkan, namun kamu menyadari sekarang bukan ? Ya, kamu bahagia dengan jalan hidup yang berhasil kamu pilih sendiri. Sesuai keinginanmu, sesuai keyakinanmu.

Dan sekarang kita coba lihat bagaimana diriku di masa depan ini, aku yakin kamu tersenyum tipis ketika membacanya. Ayolah … itu masih secuil dari berlembar lembar ceritaku di masa lalu.

Waktu terus berjalan, dan kini kamu memasuki usia yang dianggap dewasa muda. Usai melepaskan gelar menjadi mahasiswa, kini kamu telah melangkah menjadi manusia baru yang harus terjun di kenyataan sesungguhnya.

Pada awalnya, kamu seakan terseok-seok mengingat kenyataan pahit bahwa susahnya menemukan tempat kerja yang diinginkan. Ditambah lagi dengan kenyataan hidup dan informasi bila orangtua hampir tidak sanggup membiayai kembali. 

Pada saat itu, kamu hanya bisa menangis sendiri dan menanggung beban berat itu sendiri. Di sela isak tangis itu, sisi dewasamu menyadarkan bahwa saatnya untuk menguatkan bahu agar setegar karang namun juga tetap memiliki hati lembut dan penyayang.

Tidak ada salahnya menunjukkan senyum dan tawa indahmu di depan orang lain, setelah itu beristirahatlah jika memang dirasa lelah.

Hey itu bukan topeng, itu kamu sedang mempertahankan diri agar tangisan anak kecil itu tidak meraung raung keluar dengan seenaknya. Ada kalanya kamu perlu mengenakan topeng tersebut, karena setiap orang memiliki cara pertahanan yang berbeda.

Sebenarnya yang ingin aku sampaikan adalah, tidak mengapa orang dewasa menangis sesekali dan tegarkan kembali dirimu di keesokan harinya. “someday, It’s okay not be okay”. 

Tapi sekali lagi aku rasa kamu telah berhasil di tahap ini. Coba lihat lagi guratan senyum di wajahmu yang mulai menua itu, seakan menandakan bahwa selama ini kamu telah berhasil berbahagia selama waktu berjalan.

Baca Juga: Surat untuk Teman Masa Kecilku yang hanya Terlihat Olehku

Semua ujian tersebut berhasil kamu lewati berkat doa dan orang sekitarmu, yang akhirnya membentuk pribadimu yang saat ini. Sayangi mereka, dan jangan biarkan tali persaudaraan tersebut terputus begitu saja. 

Wahai diriku yang ada di masa depan, aku harap tidak ada penyesalan tertinggal di masa lalu. Karena semua itu sudah berlalu, dan kamu masih harus berjalan lurus ke depan.

Tidak apa jika ingin menengokku di belakang, namun jangan pernah tangisi itu dan membuatmu merasa tidak berarti kembali. Dan aku bisa mengucapkan terima kasih karena mau berjuang melewati ujian hidup hingga detik ini, atau lebih tepatnya dimana kamu membaca suratnya. Selamat berjumpa lagi. 

Baca Juga:  Surat Untuk Eyang, Teman Pertamaku di Dunia

Dari diriku di masa kini, bagi diriku di masa depan.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial