Penulis: Anggie Warsito

Dari Sinead O’Connor Menjadi Shuhada Davitt

Selain karya yang banyak, karier Sinead O’Connor juga tak lepas dari kontroversi.

the Monkey Times – Sesosok wanita berambut cepak dan berpakaian hitam tengah disorot oleh kamera secara close up. Di tengah sorot kamera, ia menyanyikan lirik demi lirik sebuah lagu sambil diselingi siluet dari berbagai tempat. Di akhir, wanita tersebut pun termenung setelah tak ada lagi lirik lagu yang harus ia nyanyikan.

Wanita tersebut adalah Sinead O’Connor. Seorang solois wanita ternama asal Dublin, Irlandia. Adapun deskripsi di atas merupakan gambaran dari video musik salah satu lagunya, “Nothing Compares 2 U” (1990).

Walau bukan lagu bikinannya sendiri, lagu tersebut berhasil membuatnya menjadi solois wanita ternama hingga saat ini.

Masa Kecil Tak Menyenangkan dan Alasan Dibalik Penampilannya

Sinead O’Connor terlahir dari pasangan Sean dan Marie O’Connor pada 8 Desember 1966 silam di Dublin County, Irlandia. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara Adapun keempat saudaranya adalah Joseph, Eimear, John, dan Eoin.

Masa kecil O’Connor sendiri tidaklah menyenangkan. Di usianya yang ketiga belas, ia harus menerima kenyataan kalau ibu dan ayahnya resmi bercerai. Usai ibu dan ayahnya berpisah, O’Connor pun lantas dibawa oleh sang ayah untuk tinggal bersama dengan ibu tirinya.

Di usia 15 tahun, ia sempat mendekam di RSJ Magdalene selama 18 bulan akibat aksi pengutilan dan bolos sekolah yang ia lakukan. Setahun kemudian, ibu kandungnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Mengenai ibu kandungnya, diketahui kalau sang ibu selama ini selalu menyiksa O’Connor. Salah satu alasannya karena sang ibu lebih menginginkan sosok anak laki-laki dibanding perempuan. Kekerasan itulah yang menjadi sebab mengapa ayahnya menceraikan ibunya itu.

“Hal pertama yang saya ingat soal dia adalah dia memberitahu saya kalau saya seharusnya tidak dilahirkan. Dia ingin anak laki-laki, bukan perempuan.

Dia memperlakukan saya seolah-olah saya anak laki-laki. Dia memotong rambut saya, memukuli saya setiap hari, dan membuat saya berbaring telanjang di lantai dan membuat organ reproduksi saya hampir hancur,” ujarnya yang dilansir People.com.

Selain karena perilaku ibu kandungnya semasa kecil, ada alasan lain mengapa O’Connor memangkas rambutnya hingga cepak yang menjadi ciri khasnya selama ini.

Ia ingin orang mengenalnya sebagai musisi yang sukses berkat musikalitasnya dan bukan karena tampilan, sehingga ia tak ragu untuk memangkas rambutnya.

“Suatu hari, saya pernah ditanya ‘apakah kamu mau memanjangkan rambutmu dan memakai rok?’. Saya jawab ‘tidak’, karena saya tahu mereka akan menjual seksualitas saya jika melakukannya. Saya tak ingin terkenal karena seksualitas, tetapi karena musikalitas yang saya punya,” ujarnya pada Metro.co.uk.

Kontroversi

Selain karya yang banyak, karier O’Connor juga tak lepas dari kontroversi. Salah satunya yang paling banyak diingat adalah saat ia tampil di program Saturday Night Live pada 3 Oktober 1992. Saat itu, ia menyanyikan lagu “War” dari Bob Marley yang ia bawakan dengan gaya acapella.

Di tengah lagu, ia menunjukkan foto Paus Yohanes Paulus II ke kamera sambil menyanyikan kata “evil“. Setelahnya, ia pun merobek foto tersebut sambil mengucapkan kalimat, “fight the real enemy“. Robekan-robekan foto itu lantas ia lemparkan ke kamera.

Semua yang ia lakukan tersebut merupakan bentuk protes terhadap tindakan pelecehan seksual yang dilakukan Paus Yohanes Paulus II. Banyak pihak yang bereaksi terhadap aksi protes O’Connor itu, salah satunya adalah Madonna.

Pada Irish Times, sang diva Amerika itu berujar, “Saya pikir ada cara yang lebih baik untuk merepresentasikan idenya daripada merobek-robek gambar sosok yang dihormati orang banyak.”

O’Connor sendiri tak peduli dengan tanggapan orang-orang terhadap aksi protesnya itu. Pada salah satu wawancaranya di tahun 2002, O’Connor pernah ditanya apakah ia ingin mengubah aksinya saat di SNL itu. Dan dengan lantang, O’Connor pun menjawab, “no!”

Pada buku otobiografinya, “Rememberings” (2021), ia menulis, “semua orang ingin melihat saya sebagai seorang bintang pop, bukan? Nyatanya, saya adalah penyanyi protes. Saya punya banyak keresahan yang harus dikeluarkan. Saya tak ingin menjadi tenar.”

Menjadi Shuhada Davitt

Pada Oktober 2018, O’Connor mengumumkan kalau ia resmi menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Shuhada Davitt. Keputusan itu ia ambil setelah mempelajari teologi dan kitab suci dari agama-agama lainnya. Proses perpindahan keyakinan O’Connor sendiri dilakukan di salah satu masjid di Irlandia dengan bimbingan Syekh Umar Al-Qadri.

Lewat akun Twitter-nya, ia berterima kasih kepada seluruh rekan-rekan sesama Muslim atas dukungan yang diberikan. Ia pun lantas mengunggah video dirinya tengah mengumandangkan azan, serta foto dirinya yang tengah berhijab.