Di Togamas, Saya Didekatkan kepada Rusdi Mathari

Resensi buku karangan Rusdi Mathari: Laki-laki yang Tak Berhenti Menangis. Kumpulan Kisah Islami Penyejuk Hati


ilustrasi buku Laki-laki yang Tak Berhenti Menangis

Oleh: Mas Hadid

Diterbitkan:

the Monkey Times – “Ini bagus loh, mas,” katanya sambil mengambil buku karangan Rusdi Mathari bersampul oranye dengan ilustrasi orang-orang salah berjamaah. “Temenku dulu ngasih itu … Hmmm … Oo segitu toh harganya,” katanya melanjutkan, seolah meyakinkan saya untuk mengambil buku itu dari tempatnya.

Tanpa pikir panjang saya mengambilnya dari tumpulan meja display di toko buku Togamas. Di atas cover sampul minimalis sedikit abstrak itu, tertulis nama pengarang di atas judul Laki-laki yang Tak Berhenti Menangis. Kumpulan Kisah Islami Penyejuk Hati.

Nama pengarang itu: Rusdi Mathari.

Saya tak butuh pertimbangan panjang sebelum akhirnya menarik buku itu dari tumpukannya. Jauh sebelum melakukan itu, saya mengoleksi tiga buku lain dari pengarang yang sama.

Jadi saya jatuh kagum kepada Rusdi; atau lebih tepatnya, mengagumi tulisannya. Rasanya orang lain yang mengenalnya juga mengagumi wartawan keras kepala satu itu.

Cerita Rusdi Mathari Tentang lelaki yang tak berhenti menangis

Buku Rusdi ini menarik hati saya. Bukan karena sampul abstraknya atau karena judulnya, melainkan karena kisah demi kisah yang tertulis di dalamnya.

23 kisah yang tertulis dalam 109 halaman buku terasa tidak cukup. Itu kalau urusan kita dengan buku cuma sebatas soal tebal tipis halaman.

Namun ada satu kisah tentang Nuh, yang diceritakan oleh Rusdi sebagai orang yang tak pernah berhenti menangis selama 300 tahun. Bukan lantaran Nabi Nuh seorang yang cengeng atau lembek, melainkan karena dia adalah laki-laki yang selalu minta ampun dan selalu bersyukur.

Tentu ada sebab kenapa Nuh jadi demikian. Dan Rusdi menceritakan sabab musabab dengan baik, kemudian menyampaikannya kepada pembaca. Dari sana seolah-olah Rusdi sedang sekuat tenaga mengajak kita untuk mengambil hikmah dari cerita yang dia sampaikan.

Pola naratif yang ditulis Rusdi lewat cerita tentang Nuh itu rasanya kadung jadi formula yang terus menerus dipakai dalam tulisan lainnya di buku yang sama. Dia menyampaikan narasi untuk mengajak pembacanya merenungi hikmah dalam setiap kisah yang dia tulis.

Saya bisa jadi salah, namun saya tetap tak bisa melepaskan diri dari keasyikan membaca tulisan demi tulisan Rusdi dalam buku ini.

Entah itu ketika saya membaca kisah Sayyidina Ali ra., atau ketika saya sampai di halaman cerita Nabi Ibrahim; bagi saya kisah-kisah yang diceritakan Rusdi Mathari seolah-olah jadi sebuah ikhtiar pribadi penulisnya yang percaya sepenuhnya pada kesederhanaan dalam beragama.

Baca Juga:  Resensi Buku: Para Bajingan yang Menyenangkan

Atau baca artikel lain yang ditulis: Mas Hadid

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru