Penulis: Dina Meidiana

Biografi Cut Nyak Dien: Ratu Aceh Paling Ditakuti Kolonial Belanda 

Cut Nyak Dien Ratu Aceh yang paling ditakuti oleh Belanda

the Monkey Times – Pahlawan Nasional Indonesia memang harus terus menerus kita ingat. Perjuangan mengusir penjajah di masa lampau adalah bukti rasa cinta mereka terhadap Tanah Air. Rela berkorban dengan taruhan sebagai nyawa. Salah satu dari mereka ialah Cut Nyak Dien. Ratu Aceh yang paling ditakuti oleh Belanda. Lalu, bagaimana biografi Cut Nyak Dien? Simak Ulasannya Berikut ini. 

Biografi Cut Nyak Dien Secara Singkat 

Cut Nyak Dien lahir 1848 di Lampadang, Aceh dan merupakan seorang bangsawan. Ayahnya adalah seorang Uleebalang–jabatan setingkat seorang bupati sekarang, di dalam Kesultanan Aceh dan berkuasa di VI Mukim dan bernama Teuku Nanta Seutia. Sejak kecil, Cut Nyak Dien dikenal sebagai sosok perempuan cantik yang banyak menjadi idaman pria di kampungnya. 

Bahkan banyak sekali yang mencoba melamar Cut Nyak Dien kala itu, padahal umurnya masih sangat mudah. Cut Nyak Dien lahir dari keluarga yang sangat taat agama, sehingga tidak heran jika pendidikan paling utama yang dijalani beliau adalah agama Islam. Beliau juga diajari bagaimana cara menjalani rumah tangga

Walau banyak yang melamar Cut Nyak Dien, tapi orang tuanya menikahkan beliau dengan seorang anak dari Uleebalang Lamnga XIII, yaitu Teuku Ibrahim. Ketika menikah, Cut Nyak Dien baru berumur 12 tahun. Teuku Ibrahim dikenal sebagai pria yang memiliki wawasan luas dan juga taat agama. Pernikahan keduanya tercatat pada tahun 1862.

Namun, dalam buku yang dituliskan oleh Anita Retno Winarsih yang berjudul Cut Nyak Dien Ibu Perbu dari Tanah Rencong, mengatakan bahwa upacara pernikahan saat usianya sekitar 14 tahun. Hal yang sebenarnya terjadi adalah kawin gantung atau bisa disamakan dengan tunangan. 

Pada masa itu, kawin gantung adalah hal wajar untuk mengikat calon istri agar tidak dilamar oleh lelaki lain. Teuku Nanta Seutia pada saat itu hanya ingin Cut Nyak Dien mendapatkan seorang suami yang sekiranya memang mempunyai posisi yang sejajar. Sehingga dipilihlah Teuku Ibrahim. 

Perang Aceh: Cut Nyak Dien Membela Tanah Rencong 

Keduanya menjalani rumah tangga dengan harmonis, hingga lahir seorang anak laki-laki. Tapi, sayang, pada tahun 1873 Belanda menyerang Aceh. Teuku Ibrahim pun ikut terjun dalam perang tersebut dan membela Kesultanan Aceh. Perang ini terjadi hingga tahun 1874 dan saat itu Kesultanan Aceh menang melawan pasukan Belanda. 

Pergolakan ini terus berlangsung lama dan Cut Nyak Dien pun harus rela ditinggal oleh suaminya berperang. Perang terus terjadi, dimana pada tahun 1875, Ia bersama dengan warga satu kampungnya harus mengungsi karena VI Mukim telah dikuasai Belanda. Teuku Ibrahim masih turut serta untuk mendapatkan kembali VI Mukim. Namun, kenyataan pahit terjadi, pada tanggal 29 Juni 1878, Teuku Ibrahim Tewas. 

Wafatnya sang suami membuat Cut Nyak Dien murka, beliau pun bersumpah akan menumpas Belanda hingga habis. Berperang melawan Belanda dihadapinya demi membela Tanah Air dan melanjutkan tugas Teuku Ibrahim. Tak lama kemudian, Teuku Umar–sepupu dari Cut Nyak Dien, melamarnya. 

Tapi, Cut Nyak Dien menolak lamaran dari Teuku Umar. Namun, kegigihan Teuku Umar membuat Ratu Aceh tersebut luluh, dimana suami keduanya tersebut memberikan izin kepada Cut Nyak Dien untuk ikut dalam medan pertempuran. Keduanya menikah di tahun 1880 dan memiliki seorang anak bernama Cut Gambang. 

Tapi, terjadi satu hal yang mengagetkan pada tahun 1893. Teuku Umar mendadak menyerahkan diri kepada pihak Belanda bersama sebagian pasukannya. Belanda kala itu sangat senang karena musuh yang mereka takuti mau menyerahkan diri dan akhirnya bekerja sama. Namun, hati Cut Nyak Dien hancur karena pria yang mengizinkan dan mendukungnya membela Tanah Air malah lari ke pelukan musuh. 

Cut Nyak Dien terus membujuk suaminya agar kembali lagi menyerang Belanda. Tapi, suaminya masih saja terus berhubungan dengan kompeni. Hal yang tidak diketahui oleh Cut Nyak Dien dan rakyat Aceh kala itu adalah ternyata Teuku Umar menyerahkan diri dengan tujuan mempelajari taktik dari Belanda dan merebut persenjataan mereka. 

Dengan mengambil kepercayaan dari Belanda, perlahan Teuku Umar mulai mengumpulkan orang-orang Aceh. Ketika jumlahnya sudah cukup, Teuku Umar menyampaikan kepada pihak Belanda bahwa dirinya akan menyerang markas pejuang Aceh. 

Bersama dengan Cut Nyak Dien dan orang yang berhasil ia kumpulkan, berangkatlah mereka dengan membawa berbagai peralatan perang. Namun, nyatanya Teuku Umar dan Cut Nyak Dien tidak kembali. Hal ini membuat Belanda murka dan mulai memburu pasangan suami istri tersebut. 

Tapi, dengan semua informasi yang telah dikumpulkan oleh Teuku Umar, tidak ada satupun proses penangkapan ini berhasil. Malah pasukan Belanda terus digempur habis-habisan oleh para pejuang Aceh di bawah komando Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. 

Akhir Perjuangan Ratu Aceh 

Belanda yang terus berganti komandan pun akhirnya menemukan cara, yaitu dengan secara perlahan mengirimkan mata-mata di antara pasukan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Dari mata-mata ini akhirnya Belanda mendapatkan informasi bahwa Teuku Umar akan melakukan penyerangan di Meulaboh. 

Akhirnya pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar tewas karena terkena tembakan. Namun, kematiannya tidak memudarkan semangat dari Cut Nyak Dien untuk tetap membela bangsanya. Ia terus melawan, namun sayang tidak banyak keberhasilan yang terjadi. Pihak Belanda yang sudah terbiasa dengan gaya pertempuran dari rakyat Aceh pun tidak mendapatkan kesulitan yang berarti. 

Terlebih pada saat itu Cut Nyak Dien juga sudah berumur dan mengalami penurunan secara fisik. Pasukan yang dimilikinya pun semakin berkurang dan kesulitan memperoleh makanan untuk bertahan hidup. 

Salah satu pasukannya, yaitu Pang Laot merasa iba dengan kondisi Cut Nyak Dien, akhirnya melaporkan markas mereka. Belanda datang ke Beutong Le Sageu dan menangkap Cut Nyak Dien. Meski sempat ada perlawanan tapi sekali lagi Belanda mampu menaklukan Ratu Aceh. 

Cut Nyak Dien akhirnya dibawa ke Kutaraja dan mendapatkan perawatan. Kondisinya juga semakin membaik. Tapi, karena Belanda merasa takut akan kekuatan dari Cut Nyak Dien, akhirnya mengasingkan beliau ke Sumedang. Disinilah Cut Nyak Dien menghabiskan masa tua hingga meninggal pada tanggal 6 November 1908. 

Demikianlah biografi Cut Nyak Dien yang dijelaskan secara singkat. Perjuangan seorang wanita dan ibu demi mempertahankan Bangsa dan Tanah Air akhirnya diakui oleh negara. Pada tanggal 2 Mei 1964, melalui SK Presiden RI No. 106 tahun 1964, Cut Nyak Dien diakui sebagai pahlawan Nasional.