Bagai Pelita yang tak Pernah Padam hingga Akhir Nanti

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.


pelita-hati

Ilustrasi pelita di kegelapan. (Foto: Vadmary lewat Canva Pro)


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Jika tanpa adanya ia kemungkinan aku tidak akan bisa menjalani kehidupan sedari kecil. Bahkan jika ia tiada, aku akan kehilangan sumber tenagaku yang sangat berarti.

Dialah nenekku, seorang yang sangat berjasa selama masa hidupku. Semenjak aku kehilangan seorang ibu saat melahirkanku, hanya neneklah yang merawat dan mengasuhku sedari kecil.

Beliau lah yang menggantikan posisi ibu bagiku. Beliau juga lah yang mampu memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu terhadap anaknya sendiri.

Bahkan di usiamu yang telah menginjak setengah abad, bersedia untuk merawat seorang anak kecil yang masih belum tahu apa apa ini. Engkau merawatku dengan sangat baik, bahkan rela melakukan apapun demi membahagiakanku.

Meski dalam kurun waktu beberapa bulan setelah kelahiranku ayah menikah dengan wanita lain, namun engkau masih ingin merawatku hingga beranjak dewasa.

Satu hal yang sedang kupikirkan saat ini, aku hanya ingin kembali di masa masa aku kecil. Dimana aku masih bisa bermain dan merasakan kebahagian bersama nenek.

Hingga kini masih terngiang bau ketiak yang selalu aku hirup ketika akan beranjak tidur. Bahkan pelukan hangatnya saat dulu pun masih sangat terasa hingga saat ini.

Rambutmu yang kini sudah kian memutih, aku hanya berharap semoga engkau selalu diberikan kesehatan selalu dan panjang umur.

Aku ingin engkau tetap menjadi sumber tenagaku dalam menjalani hari hari, jadi tolong tetaplah hidup. Tidak etis memang jika aku meminta seperti ini, karena aku bukanlah Tuhan yang bisa mempertahankan hidup seseorang.

Namun aku hanya ingin nenek tetap sehat hingga nanti aku bisa membalas segala kebaikannya selama ini. Senyuman yang merekah di bibirnya merupakan buah semangat bagiku.

Bahkan impianku kini ingin mempertahankan senyuman tersebut dan tidak akan ku biarkan senyuman tersebut akan berubah menjadi sebuah kesedihan.

Kesehatanmu yang semakin melemah, membuatku sangat sedih. Aku tidak ingin engkau sakit sakitan di usiamu yang kian bertambah ini.

Tunggu aku pulang nek! Aku kangen cerita ceritamu yang bisa membuatku semangat. Akupun ingin berbagai ceritaku selama berada di tanah perantauan tempatku mengadu nasib.

Meskipun kini raut wajah sudah dipenuhi dengan keriput dan kemampuan melihat mulai memudar, namun engkau tetap menjadi orang terbaik dalam hidupku nek.

Segala petuah petuah yang engkau berikan kepadaku sangatlah berharga bagiku. Bahkan adanya kehadiranmu di setiap hariku akan menjadi hal yang tak terlupakan bagiku.

Baca Juga:  Sudah lama kita Tidak Saling Bercakap, Kawan

Berkat engkau juga aku menjadi orang yang lebih percaya diri, sebab engkau selalu memberikan hal positif kepadaku untuk membangkitkan semangatku.

Meski terbilang kuno, namun hal tersebut tentunya akan berarti sekali bagiku. Bahkan engkau juga merupakan tempat berbagiku disaat sedih dan terpuruk sekalipun.

Disaat aku sedang berada di bawah, engkau selalu mendoakan agar aku selalu dilimpahi oleh kasih sayang serta keberuntungan. Berkat doamu yang selalu engkau panjatkan di sepertiga malam, kini aku selalu berada di jalan yang engkau kehendaki.

Aku memiliki pekerjaan yang layak dan bisa membahagiakan orang tua meskipun masih belum bisa memberikan apa apa.

Aku juga dapat beberapa teman yang sangat menyayangiku, berkat doamu. Tetaplah menjadi panutanku nek, sikapmu yang sangat baik terhadap sesama menjadi tauladanku selama ini.

Kesensitifan terhadap sesama yang engkau miliki pula menjadi pemacuku untuk selalu bersimpati kepada setiap orang yang sedang kesusahan.

Jika diibaratkan engkau adalah pelita dalam kehidupanku yang akan terus bersinar hingga akhirnya nanti. Tanpa adanya dirimu mungkin saja pelita tersebut akan padam, dan entah apakah aku bisa menyalakannya kembali.

Semoga engkau selalu berada di dalam lindungan-Nya, selalu diberikan kesehatan serta diberikan umur panjang.

Bila diizinkan aku ingin sekali membalas budimu selama ini dengan memberangkatkanmu ke tanah suci Mekkah, salah satu impianmu.

Meski terbilang susah, namun impian tersebut insha Allah bisa aku wujudkan suatu saat nanti. Untuk saat ini aku hanya ingin engkau selalu bahagia, agar engkau selalu berada dalam kondisi sehat.

Jangan pikirkan aku yang berada jauh dari pandanganmu ini, insha Allah aku bisa menjaga diriku sebaik engkau menjaga diriku diwaktu aku masih kecil.

Baca Juga: Surat untuk Ayahku: Jiwamu memang setegar Karang

Kini aku mulai merasakan bagaimana rasanya sendiri tanpa orang yang aku kasihi di kampung halaman. Tanpa adanya kehadiranmu disisiku selama ini terasa ada yang kurang.

Meski sulit, tapi aku tahu kok nek pasti engkau jauh disana selalu memikirkan anak anak serta cucu cucumu terutama aku yang berada jauh dari jangkauanmu.

Kini waktu yang paling aku tunggu tunggu, ialah berkumpul kembali bersama anggota keluargaku terutama bersamamu nek. Aku ingin merasakan kehangatan serta keseruan bercengkerama denganmu saat akan beranjak tidur.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru