Penulis: Dandun Kusuma

Sekilas Mengenai Asal Usul Nama Indonesia

Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel).

the Monkey TimesPerjalanan asal usul nama indonesia bukanlah momen singkat. Meski ‘Indonesia’ pada akhirnya dipakai secara resmi untuk menyebut nation dari sebuah bangsa di Asia Tenggara, namun pemilihan nama Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang.

Sejak bangsa kita dijajah kumpeni, nama Nederlandsche-Indie atau Hindia Belanda digunakan oleh Kerajaan Belanda pada masa jaman penjajahan tahun 1602 AD.

Sejarah asal usul nama Indonesia

Kemudian bentuk kata Indonesia semula muncul dalam sebuah tulisan artikel dalam jurnalOn The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations” yang ditulis oleh George Samuel Windsor Earl ahli Etnologi pria berkebangsaan Inggris pada tahun 1850 AD. 

GS. Windsor Earl dalam artikelnya JIAEA volume IV, halaman 66-74 menegaskan “. . . . the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians. . . .” Earl mengajukan dua pilihan nama yakni Indonesia atau Melanesia, yang menurutnya kata Hindia Belanda tidaklah tepat kepulauan Hindia dan Kepulauan Melayu sudah saatnya memakai nama khas yang diajukan dalam artikelnya. 

Penambahan kata nesia berasal dari bahasa Yunani yaitu nesos yang berarti pulau.

Selain itu dalam artikelnya ia menambahkan dan berpendapat bahwa tepat memilih nama Malaysia daripada Indonesia, sebab Malaysia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maladewa. 

Earl juga berpendapat bahasa Melayu hampir dipakai di seluruh kepulauan ini. Maka dari itu Earl sering menggunakan dengan istilah Melanesia dibandingkan Indonesia dalam artikelnya untuk menyebut Kepulauan Nusantara.

Pria Scottish dan Kantor JIAEA

Laboratorium jurnal ilmiah yang bernama Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia yang berada di Singapura pada tahun 1847 AD ini dikelola oleh James Richardson Logan.

Sebagai kantor redaksi jurnal ilmiah, tempat tersebut menjadi saksi bahwa tulisan Indonesia mulai muncul di permukaan. 

Sebagai pengelola kantor redaksi jurnal ilmiah JR. Logan pria yang lahir di Berwickshire, Scotland, pria Scottish inilah yang secara eksplisit dengan terang – terangan menuliskan gagasannya tentang nama Indonesia pertama kalinya dalam jurnal ilmiahnya.

Sudah menjadi barang tradisi ilmiah yang berjalan dari masa ke masa terjadi di antara orang – orang sarjana Barat dimana mereka sering menciptakan podium ilmiah atau debat ilmiah baik lewat sebuah gagasan ataupun sebuah kritikan , dari tulisan yang ditulis oleh para sarjana setelahnya tentang artikel ilmiah sebelumnya dengan tujuan memperbaiki penemuan terdahulu.

JR. Logan menyampaikan kritikannya  bahwa ia tidak sepakat dengan GS. Windsor Earl apabila Melanesia digunakan untuk penyebutan Kepulauan Nusantara. Dalam artikelnya yang berjudul “The Ethnology of the Indian Archipelago” dalam JIAEA volume IV halaman 252-347, “. . . Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects if in favour Malayunesian. I Prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Island or the Indian Archipelago. . .

Logan menyatakan lebih tepat memakai nama Indonesia dibanding dengan Melanesia untuk penyebutan Kepulauan Nusantara tentunya melalui pertimbangan lebih menyerupai Kepulauan Indian.

Namun, konsonan huruf U diganti dengan huruf O sehingga kata Indonesia menjadi kata Indonesia.

Sehingga JR. Logan merupakan orang yang menyebut Indonesia untuk pertama kali nya dan sejak itu dalam jurnal – jurnal ilmiahnya ia selalu konsisten menggunakan nama Indonesia.

Seiring berjalannya waktu nama itu sering digunakan bagi para kalangan sarjana dan ilmuwan di bidang etnologi dan geografi.

Guru Besar Etnologi di Berlin

Adolf Bastian, pria yang lahir pada tanggal 26 Juni 1826 AD di Bremen. Seorang lulusan dari berbagai bidang sarjana keilmuan, baik sebagai dokter kapal, ia juga lulus dalam ilmu hukum dan lulus di bidang biologi, kemudian ia berminat pada zamannya untuk mempelajari etnologi dan menjadi Profesor di Friedrich Wilhelm University di Berlin pada bidang etnologi.

Pada tahun 1864 AD, ia berlayar ke Kepulauan Nusantara, selama pengembaraannya ia melakukan penelitian serta pencatatan – pencatatan ilmiah yang akhirnya menjadi buku sebanyak lima volume.

Buku tersebut berjudul “ Indonesien ; oder, Die Inseln des Malayischen Archipel ” tahun 1884 AD yang diterbitkan F.

Dummies Verlagsbuchhandlung, Berlin. Terbitnya buku tersebut tentunya membuat nama Indonesia kian populer di Era akhir abad 19, sehingga banyak menimbulkan anggapan bahwa kalau nama Indonesia merupakan sebuah gagasan dari Adolf Bastian.

Pendapat yang simpang siur dan tidak benar itu sudah tercantumkan dalam “Encyclopedie van Nederlandsch – Indie” tahun 1918 AD, padahal Adolf Bastian mengambil istilah itu juga dari tulisan – tulisan karya JR. Logan. Dia juga merupakan pendiri the Royal Museum of Ethnology atau Museum für Völkerkunde di Berlin dengan koleksi besar karya manusia dari penjuru Dunia.

Maha Guru Indonesia RM. Soewardi Soerjaningrat 

Tokoh bapak pendidikan Indonesia lahir pada tahun 1889 yang pada masa tuanya ini berganti nama Ki Hajar Dewantoro  yang mula – mula memperkenalkan secara luas nama Indonesia di kancah kepulauan negeri kita.

Seperti gayung bersambut, dalam pengasingan di Belanda Soewardi aktif terlibat dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).

Tahun 1913 AD ia mendirikan Indonesisch Pers – Bureau, (kantor berita Indonesia). Secara implisit hal tersebut merupakan penggunaan formal pertama istilah Indonesia digunakan oleh orang pribumi.

Kemudian Prof Cornelis van Vollenhoven tahun 1917 AD memperkenalkan Indonesisch (Indonesia) sebagai pengganti dari Indisch (Hindia), dan kata inlander (pribumi) diganti dengan Indonesier (orang Indonesia).

Pergerakan Politik Pra Kemerdekaan Indonesia

Nama Indonesia yang kian bergema di hati para pribumi Kepulauan Nusantara , pada dasawarsa 1920 AD istilah nama Indonesia karya Windsor Earl dan JR.Logan dalam sebuah studi ilmiah etnologi dan geografi kemudian diambil alih oleh para tokoh pergerakkan kemerdekaan Indonesia.

Sebagai identitas pemersatu nama Indonesia kemudian digunakan oleh Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (sekolah tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di negeri Belanda yang dengan nama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia). Majalah yang mereka buat pun diganti dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka.

Mohammad Hatta dalam tulisannya tentang nama Indonesia namun juga sarat dengan politis, ia menulis sebagai berikut :

“ Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut Hindia Belanda.

Juga tidak Hindia saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita –citakan suatu tanah air di masa depan, dan mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”