Penulis: Dandun Kusuma

Hidup Mati Sudirman di Medan Perang Kemerdekaan

Ada banyak hal yang bisa kita teladani dari Jenderal Sudirman. Salah satunya: kesetiaannya pada negara.

the Monkey Times – Apa yang bisa kita teladani dari perjuangan Jendral Sudirman?

Kisah Soedirman sangatlah tidak sederhana namun penuh warna dan kharisma, berusia 29 tahun ketika menjadi panglima tentara.

Sebuah frasa mutiara kata – kata  kutipan dari Sang Jenderal “Anak – anakku, Tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran tanah airmu.

Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di atas timbunan reruntuhan ribuan jiwa harta serta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapapun juga”.

Sejarah Singkat Biografi Awal Raden Soedirman

Raden Soedirman lahir pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa Bodas, Karangjati, Purbalingga dari putra pasangan orang biasa Karsid Kartawiraji dan Siyem, Ayahnya merupakan seorang mandor di pabrik gula di Kalibagor, dan ibunya Siyem seorang keturunan Wedana di Rembang.

Ayahandanya meninggal dunia sejak Sudirman berusia enam tahun. Kemudian pamannya bernama Cokrosunaryo yang mempunyai kehidupan lebih baik dari orang tua Soedirman disamping itu juga menjadi Camat Rembang waktu itu dan juga masih keturunan bangsawan suku Jawa mengangkat Soedirman sebagai anak angkatnya.

Kehidupan kecil Soedirman  banyak diceritakan kisah – kisah heroik kepahlawanan, diberikan ajaran tentang etika dan tata krama perilaku sebagai seorang priyayi Jawa oleh pamannya.

Didikan pamannya tentang etos kerja, kedisiplinan serta kesederhanaan sebagai rakyat jelata.

Meskipun hidup di keluarga yang serba berkucupan namun pamannya bukan keluarga kaya, selama menjadi camat Cokrosunaryo tidak mengumpulkan banyak kekayaan.

Hollandsche Inlandsche school (HIS) yang merupakan lembaga pendidikan sekolah pribumi di jaman penjajahan Belanda setingkat Sekolah Dasar adalah tempat Soedirman kecil mulai mengembangkan pengetahuan dan pendidikannya.

Pada tahun ketujuh ia menjalani pendidikan ia sempat pindah ke sekolah Tamansiswa yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara serta Ki Ageng Suryomentaram. 

Setahun kemudian pada tahun kedelapan sekolah Tamansiswa ditutup karena dianggap lembaga pendidikan liar karena terbukti tidak terdaftar.

Setelah tamat dari HIS, Soedirman masuk sekolah menengah setingkat SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) di MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) Parama Wiworotomo dan menamatkan pendidikannya pada tahun 1935.

Setelah lulus dari Wiworotomo ia kemudian melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di sekolah guru HIK (Hollandsche Indische Kweekschool) sekolah khusus calon guru milik Muhammadiyah di Solo pada zaman Hindia Belanda, selain itu HIK juga merupakan sekolah guru bantu yang berada di semua kabupaten.

Tak dapat menamatkan pendidikan Guru di HIK karena kekurangan biaya, Soedirman lantas pulang ke Cilacap setahun kemudian.

Bertemunya dengan tokoh Muhammadiyah Cilacap bernama R Muhammad Kholil selaku guru pribadinya Soedirman, mengantarkan Soedirman diangkat menjadi guru Sekolah Dasar di Hollandsche Inlandsche school (HIS) Muhammadiyah di Cilacap.

Hizbul Wathan dan Mengajar Kisah Pewayangan

Soedirman tinggal bersama istrinya Alfiah di rumah mertuanya di Cilacap yang bernama R Sosroatmodjo seorang pengusaha batik yang kaya.

Soedirman sebagai guru yang lahir dalam lingkungan agama yang taat, banyak belajar agama dari R Muhammad Kholil.

Dalam berorganisasi ia salah seorang yang turut mendirikan organisasi Hizbul Wathan, selain sebagai salah satu pendiri ia pun aktif berkegiatan organisasi. Kepiawaian dalam memimpin serta pengetahuan dan ketaatan dalam Islam menjadikan ia disegani dan dihormati oleh masyarakat.

Ia sering memberikan ceramah, oleh sebabnya teman – teman nya sempat menjuluki namanya dengan sematan “Haji”.

Saat mengajar di HIS Muhammadiyah pun ia mengajarkan tentang konsep nilai hidup dan nilai moral yang berpijak pada kisah – kisah kehidupan para Rasul dan Wali.

Tak luput juga Soedirman ketika dalam mengajar, menyelipkan semangat nasionalisme lewat cerita Revolusi Perancis.

Ia juga menggunakan narasi kearifan lokal tentang patriotisme para leluhur dan juga sering menceritakan kisah – kisah tentang pewayangan tradisional, dimana kisah pewayangan kaya akan cerita teladan, pesan moral, dan kepahlawanan di dalamnya.

Peta Perjalanan Militer dan Perang Gerilya Saat Clash II

Negara Jepang yang berhasil menduduki Indonesia pada tahun 1942, yang secara paksa menggeser pemerintah Hindia Belanda dalam penjajahan karena adanya Perang Dunia kedua meletus.

Membuat kondisi rakyat Indonesia makin parah baik dengan adanya sistem kerja rodi, romusha maupun dalam mencari bahan makanan untuk sekedar melangsungkan hidupnya.

Keadaan yang tidak mengenakkan serba sulit dan memprihatinkan ini membuat Soedirman aktif dalam membina Badan Pengurus Makanan Rakyat (BPMR) sebuah lembaga bentukan masyarakat sendiri dan dikelola sendiri untuk pengumpulan dan distribusi makanan. 

Awal mula karir di militer, ia menjadi anggota Syu Sangi Kai (dewan perwakilan), kemudian menjadi anggota Jawa Hokokai Karesidenan Banyumas.

Di Bogor pada tahun 1944 Soedirman mengikuti pelatihan Pembela Tanah Air (PETA) dan dinobatkan menjadi Daidanco (komandan batalyon) Daidan III di Kroya, Banyumas.

Setelah kemerdekaan Indonesia Soedirman yang sudah berpangkat Kolonel dipercaya menjabat di Divisi V TKR Purwokerto pada usia 29 tahun, kemudian dilantik menjadi Jenderal Panglima Besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) oleh Soekarno pada 18 Desember 1945 atas jasa dan peranannya mengatur strategi melawan Sekutu di Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Selama pertempuran di Ambarawa akhir tahun 1945 pasukan TKR berhasil memukul mundur pasukan Inggris dan sekutu.

Saat Clash II atau yang dikenal dengan istilah Agresi Militer II Belanda tahun 1948, Ibukota Indonesia sudah pindah di Yogyakarta sebab di Jakarta sebelumnya sudah dikuasai oleh pasukan Sekutu.

Jenderal Sudirman yang kala itu juga sedang mengidap sakit dengan keadaan yang sangat lemah karena paru – parunya yang hanya berfungsi satu.

Dalam Clash II, Yogyakarta berhasil dikuasai oleh Belanda. Beberapa pemimpin pun ditawan termasuk Soekarno dan Hatta.

Melihat hal itu Jenderal Sudirman melakukan perang gerilya yang dulu juga sudah pernah dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa dalam melawan VOC.

Kurang lebih dalam kurun waktu tujuh bulan Jenderal Sudirman yang ditandu berpindah – pindah dari hutan ke hutan, gunung ke gunung. Berawal dari rumah yang di Bintaran Yogyakarta Jenderal Sudirman bersama pasukannya menyusur melewati jalur selatan yang membentang dari Yogyakarta, Panggang, Wonosari, Pracimantoro, Wonogiri, Purwantoro, Sambit, Trenggalek, Bendorejo, Tulungagung, Kediri, Bajulan, Girimarto, Trenggalek (lagi), Panggul, Wonokarto dan Sobo (memimpin gerilya selama 4 bulan).

Setelahnya dari Sobo akan menuju Yogyakarta Jenderal Sudirman bersama pasukan melewati Baturetno, Gajahmungkur, Pulo, Ponjong, Piyungan, Prambanan dan kembali lagi ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949.

Apa Yang Bisa Kita Teladani Dari Sosok Jendral Sudirman?

  1. Tekun belajar dan taat dalam beragama Islam
  2. Cakap dalam berorganisasi dan memimpin sebuah organisasi
  3. Berani menanggung resiko dan tangguh dalam kondisi yang sulit
  4. Pandai mengatur strategi
  5. Gigih dan berani dalam bersusah payah
  6. Memberikan semangat patriotisme dan nasionalisme dalam berbagai tindakannya, sehingga menjadikan energi sendiri bagi pasukannya dan rakyat bangsa Indonesia.
  7. Sederhana, bersahaja dan jujur dalam berkehidupan